Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Rasa Bersalah.


__ADS_3

pesawat yang membawa Gama, Ayyara, dan juga si kembar sudah mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Sejak didalam pesawat, sampai turun dan bahkan kini mereka sudah hampir keluar dari gedung bandara, Jun sama sekali masih tidak mau digendong oleh Gama. Jangankan digendong, di sentuh saja sudah marah dan menangis. Hanya Ana yang sejak di pesawat tadi terus bergelayut padanya.


di pintu kedatangan, Arfan sedang menunggu dengan harap-harap cemas. Bersama dengan si jomblo Fadil. Mereka terus saja melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan mata mereka tidak lepas dari pintu kedatangan yang ada di hadapan mereka.


Senyum merekah langsung terkembang di bibir keduanya saat Gama muncul dengan menggandeng seorang gadis kecil yang sangat imut dan cantik. Mereka sedikit tertegun dengan penampilan Gama yang sudah kembali seperti semula. Tidak seperti belakangan ini yang nampak tidak terurus. Penampakan Gama saat ini seperti Gama yang mereka kenal. Dengan senyum yang terus mengembang di bibir tuan mereka itu.


Di belakang Gama, ada Ayyara yang juga sedang menggendong seorang bocah pria yang sangat tampan. Arfan dan Fadil tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Dengan kepulangan Gama, itu berarti kehidupan Arfan akan kembali normal seperti dulu. Membayangkannya saja sudah membuat Arfan bahagia. Selama ini dia bahkan jarang sekali bertemu dengan tunangannya, Dewi.


“Tuan.!” pekiknya setelah Gama melihat dan melambaikan tangan kepadanya. “Nyonya..” sapanya juga kepada Ayyara.


“hai Fan. Apa kabar? lama tidak bertemu. Kau semakin kurus saja.” seloroh Ayyara.


“iya nyonya, selamat datang kembali. Kabar saya baik-baik saja. Seperti yang anda lihat."


Ayyara membalas tersenyum kepada Arfan dan Fadil. Sedangkan Jun nampak semakin meringsut dengan tatapan menyelidik kepada Arfan dan Fadil.


"hmmmm... ahhh..." kata Ayyara menyesap dalam-dalam udara ibu kota yang sudah mulai tercium.


Fadil membukakan pintu mobil untuk mereka. Gama segera menggendong Ana dan masuk kedalam mobil. Tapi saat Ayyara juga hendak masuk, Jun tidak mau dan malah menangis.


"tidak mau.!! Mama ayo kita pulang.! Hua.. Hua..!" tangis Jun semakin kencang.


Ia takut. Tempat asing ini banyak sekali orang yang berlalu lalang. Ia sudah menahan takut sejak turun dari pesawat tadi. Makanya ia terus menyembunyikan wajahnya di leher Ayyara. Ia tidak suka keramaian. Dan sekarang malah Mamanya hendak mengajaknya masuk kedalam sebuah mobil yang juga asing baginya. Apalagi didalam mobil ada pria asing yang sangat tidak disukainya.


"Jun? jangan menangis ya? Kita akan pulang. Kerumah baru. Disana ada kolam renangnya. Juga akuarium yang sangaaaaatttt besar. Dan juga banyak sekali ikannya. Kau pasti akan suka." rayu Ayyara. Dan itu berhasil membuat Jun berhenti menangis. Ia menatap Ayyara seakan bertanya, benarkah?


Jun memang paling suka dengan air. Apalagi jika ada ikannya. Ia akan betah berlama-lama bermain dengan ikan-ikan. Dirumah juga begitu. Makanya Ayyara menyediakan sebuah akuarium kecil untuk Jun.

__ADS_1


Berbeda dengan Ana. Walaupun sifatnya yang periang dan cerewet, juga selalu menghilang jika tidak diawasi. Ana juga sulit sekali jika disuruh mandi. Ia akan langsung kabur jika Ayyara akan memandikannya.


Kedua saudara kembar itu sifatnya bak langit dan bumi. Tapi ada satu persamaan yang selalu melekat di keduanya. Yaitu, mereka saling mempedulikan satu sama lain. Setia, saling tidak terima jika salah satu dari mereka di marahi oleh Ayyara, maka yang lain akan langsung membela. Juga kalau sakit, selalu saja sama.


"Mama janji, kau bisa bermain dengan ikan sepuasnya." Ayyara masih terus merayu agar Jun mau ikut masuk kedalam mobil. "jadi sekarang, kita masuk ya? Kasihan Ana sudah menunggu."


Dengan perlahan, Jun menganggukkan kepalanya sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan mungilnya.


Gama sempat khawatir. Tapi akhirnya ia menghembuskan nafas lega. Ia masih terus mencoba memberikan senyumannya yang paling ramah kepada Jun. Tapi Jun malah memalingkan wajahnya dan melihat kearah lain.


Sepertinya akan butuh waktu bagi Jun untuk menerima Gama.


"mau ke rumah atau ke villa tuan?" tanya Arfan.


"ke Villa dulu. Mama dan Papa pasti akan sangat senang dengan kejutan ini."


"baik Tuan." Fadil yang menjawab.


Mobil terus saja melaju membelah kemacetan jalanan ibu kota. Ana sudah terlelelap sejak tadi dipangkuan Gama. Begitu pula dengan Jun, ia pun sudah tertidur di pangkuan Ayyara.


"bisa kita bertukar?" pinta Gama. Ia ingin sekali memangku duplikatannya itu.


"nanti dia terbangun. Malah menangis lagi."


Gama langsung mengedarkan wajah kecewa. Bibirnya sempat mencibir sedikit karna Ayyara tidak memperbolehkan Gama memangku Jun.


Dan benar saja, Jun sempat terbangun sesaat tapi langsung tertidur lagi. Membuat Gama ternganga.

__ADS_1


"kira-kira, apa Mama dan Papa akan menerima kami?" tiba-tiba hati Ayyara dipenuhi oleh keraguan. Ia mengeratkan dekapannya kepada Jun.


Ia sadar diri telah melukai hati putra semata wayang mereka. Walaupun kini Ayyara datang dengan membawa serta cucu-cucu yang sangat mereka harapkan, tapi tidak menutup kemungkinan kedua mertuanya itu akan membencinya bukan? Tiba-tiba ia merasa malu dengan sikap egoisnya 4 tahun yang lalu.


"tidak usah takut. Selama ini mereka selalu mengharapkan kepulanganmu." kata Gama. Ia menggenggam tangan Ayyara untuk menenangkannya.


Tetap saja. Hati Ayyara masih diliputi oleh keraguan. Malu sekaligus takut.


"hei.." panggil Gama lirih saat melihat masih ada gurat keraguan di wajah Ayyara. "percayalah padaku." kata Gama lagi. Ia menatap Ayyara dalam untuk meyakinkan Ayyara.


"bagaimana kalau mereka mengusir kami?"


"sayang?! Tolong jangan berfikir seperti itu. Selama ini mereka terus menunggumu kembali. Mereka sama sekali tidak pernah membencimu." kata Gama. Kali ini penuh dengan penekanan.


Kedua alis Ayyara masih mengkerut. Rasa khawatirnya belum hilang walaupun Gama sudah meyakinkannya sedemikian rupa.


"sayang?" tanya Gama karna melihat reaksi Ayyara yang hanya terdiam saja.


Entahlah.


Ayyara membuang pandangan keluar jendela. Ia masih mengeratkan pelukannya kepada Jun. Kenapa baru sekarang dia berfikir seperti itu? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saat Gama mengajaknya pulang?


Jika mengingat kebaikan kedua mertuanya padanya, Ayyara tentu harus merasa bersalah. Jika tidak dia bukan manusia kan?


Sangat tau bagaimana perasaan Gama terhadapnya. Tapi ia malah meragukan kemampuan suaminya itu untuk melindunginya dan anak-anaknya.


Kenangan 4 tahun yang lalu itu kembali menampilkan slide demi slide kebodohannya. Rasa takut terhadap Maya. Sampai akhirnya memilih pergi. Sungguh kebodohan yang patut dia sesali. Walau kini ia sudah berkumpul kembali bersama Gama.

__ADS_1


Sebagai pasangan, seharusnya suaminya lah orang yang paling dia percaya. Bukan malah percaya kepada kepada orang lain.


__ADS_2