
“sepertinya kamu pintar mengelola bisnis Nia. Aku tidak menyangka kalau perusahaan ini akan berkembang menjadi sebesar ini.” Ucap Ayyara kagum dengan kemampuan Nia yang mumpuni.
Tadi saat dia baru melangkahkan kakinya memasuki ruangan, dia sempat mengedarkan pandangan dan takjub akan perkembangan perusahaan yang saat dia tinggalkan dulu masih belum seberapa. Sekarang karyawannya sudah bertambah banyak.
“bukan aku saja kak. Perusahaan induk juga berperan besar disini.” Jelas Nia.
Ah ya, perusahaan travelnya kini sudah bernaung dibawah payung GD Group. Ayyara hampir melupakan itu.
“tuan Gama benar-benar menjaga perusahaan ini kak. Apa Kak Yara tau, betapa dia sangat merepotkanku waktu Kak Yara pergi?”
“merepotkan bagaimana?” Tanya Ayyara mengernyitkan alisnya.
“setiap hari dia mendatangi rumahku hanya untuk menanyakan apa kakak sudah menghubungiku atau belum. Hampir 2 bulan dia melakukan itu kak. Bayangkan betapa aku menjadi sangat membencinya. Kekagumanku akan sosok tuan Gama berubah drastis menjadi menyebalkan. Sangat menyebalkan. Aku bahkan sampai putus dengan pacarku karna dia selalu melihat tuan Gama yang datang kerumahku hampir setiap hari.” Nia mengadu dengan mata berapi-api. masih nampak kekesalan disana.
“hehe. Maafkan aku ya. Aku tidak menyangka banyak orang yang menderita karna kebodohan dan keegoisnku.” Kata Ayyara bersungguh-sungguh. Ia meraih tangan Nia dan menggenggamnya dengan perasaan bersalah.
“tidak apa-apa. Yang terpenting adalah masa sekarang. Aku benar-benar senang melihat Kak Yara baik-baik saja seperti ini."
Ayyara tersenyum hangat. “trimakasih banyak ya Nia.”
“iya kak, sama-sama.” Nia membalas senyum Ayyara. “ yuk kak. Aku akan mengenalkan Kak Yara kepada seluruh karyawan yang ada disini.” Ajak Nia kemudian. Ia berdiri dan hendak berjalan ke luar dari ruangannya. biar bagaimanapun, Ayyara adalah pemilik sah dari perusahaan ini.
“tidak usah Nia. Itu tidak perlu. Lain kali saja. Aku harus segera pulang. Si kembar akan menangis jika aku tidak ada dirumah.” Tolak Ayyara. Bukan dia tidak mau. Tapi ia tidak ingin membuat ana dan jun mengamuk dan merengek seharian saat mereka pulang dari sekolah dan tidak menemukannya dirumah.
“sebenarnya aku masih ingin mengobrol panjang lebar denganmu, tapi besok-besok aku akan datang kesini lagi.” Janji Ayyara kemudian.
“yasudah, baiklah kak. Nanti aku akan meceritakan kabar terbaru dari tante Rini. Hahahahaha” seloroh Nia. Membuat Ayyara jadi ikut tertawa. Dia sama sekali tidak tertarik dengan keidupan para mantan itu. Mantan suami, dan mantan Mertua.
Ayyara berdiri dengan perasaan lega di eskalator yang membawanya turun ke lantai satu. Para pengawal yang menunggu di depan pintu masuk pun langsung sigap saat melihat Ayyara. Tadi mereka memaksa hendak ikut masuk bersama Ayyara. Namun Ayyara meolaknya dengan keras. Tidak mungkin ada orang yang akan menyakitinya di tempat umum seperti ini kan.? Lagipula dia tiak ingin menarik perhatian.
__ADS_1
Matahari masih bersinar dengan sangat terik. Ayyara merasakan hawa panasnya saat dia keluar dari dalam gedung. Hawa panas yang langsung menerpa wajahnya yang putih mulus.
Brukk...
"astaga.!" pekik Ayyara.
Jantung Ayyara hampir saja keluar dari tempatnya. Saat ada seorang wanita yang entah dari mana langsung menubruknya dan memeluk kakinya dengan sangat erat sambil menangis meraung-raung. Dia bahkan sampai hampir terjungkal kalau saja Rudi tidak sigap menangkap tubuhnya dari belakang.
“Anda tidak apa-apa Nyonya?” Tanya Rudi begitu Ayyara sudah bisa berdiri seperti semula. Dia langsung melepasan pegangannya.
“aku tidak apa-apa.” Jawabnya sambil mengangguk kepada Rudi.
Ayyara menatap aneh kepada wanita yang kini sudah dipegangi oleh pengawalnya yang lain. Dia seperti mengenal wanita yang sedang mengenakan kaus oblong sederhana berwarna abu-abu, dan celana jeans berwarna senada yang juga sudah nampak lusuh. Rambut yang diikat seadanya hingga meninggalkan geraian-geraian yang terjuntai di wajahnya.
“Maya???!!” Tanyanya lirih. Bahkan ia sendiri hampir tidak mendengar ucapannya sendiri.
“yara.! Ini aku. Tolong lepaskan aku.!!” Teriak wanita itu lagi dengan suara yang sangat keras. Hingga membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka langsung melihat kearahnya.
Mendengar teriakan wanita aneh itu, Ayyara mengernyitkan kening. Sekarang dia sangat yakin bahwa wanita itu adalah Maya. Karna suara teriakan Maya masih tersimpan rapi di gendang trlinganya.
“Maya?” Kali ini Ayyara bertanya dengan suara yang lebih keras.
“iya ini aku.” Jawab Maya dengan suara memburu. “lepaskan aku.!” Teriak Maya kepada pengawal yang memeganginya.
Mereka langsung melepaskan Maya saat Ayyara memberikan kode kepada mereka dengan meganggukan kepalanya.
Kenapa dia berpenampilan seperti itu?
Itulah hal pertama yang Ayyara fikirkan sebelum bertanya,
__ADS_1
“kenapa kau menemuiku?” Tanya Ayyara. Ia masih menjaga jarak dengan Maya. Tidak mau mendekati wanita yang penampilannya sudah berubah 180 derajat itu. Nampak sangat menyedihkan.
“yara. Aku hanya ingin meminta maaf padamu dengan tulus.” Ujar Maya dengan tatapan yang mulai berkaca-kaca.
“aku sudah menyesali perbuatanku padamu. Tolong ampuni aku.” Kata Maya merubah kata maaf menjadi kata ampun. Seolah nyawanya sedang terancam karna kehadiran Ayyara. “aku sudah cukup hidup menderita selama ini. Tolong jauhkan orang-orangmu dariku. Hiks, hiks,” mohon Maya dengan masih menangis.
Maya. Yang dulu sifat dan penampilannya dipenuhi oleh keanggunan. Bahkan suaranya penuh dengan wibawa. Menjunjung tinggi-tinggi harga dirinya. Kini sedang memohon ampun dari Ayyara dengan penampilan yang tidak pernah Ayyara duga sebelumnya. Sebenarnya hati Ayyara miris melihatnya.
“jauhkan orang-orangku? Apa maksudmu?” Tanya Ayyara sungguh tidak mengerti dengan maksud ucapan Maya.
“aku bersumpah tidak akan pernah lagi menggaggumu. Aku bersumpah ini adalah terakhir kali aku menemuimu. Jadi tolong, berhenti mengawasiku.”
Ayyara semakin mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Maya.
“apa maksudmu? Bicaralah yang jelas.”
“yara.,” kata Maya hendak melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan Ayyara. Tapi keburu dihadang oleh Rudi yang menatapnya dengan tatapan membunuh. Maya langsung menghentikan langkahnya dan langsung meringsut takut.
“tolong hentikan Gama. Bilang padanya, aku sudah benar-benar menyesal. Dan aku sudah bersumpah untuk tidak mengganggu kalian lagi. Rasanya aku tidak bisa bernafas karna anak buahnya terus mengawasiku siang dan malam. Aku bahkan tidak bisa bekerja dengan tenang.”
Mendengar penjelasan Maya, membuat Ayyara semakin mengerutkan dahinya. Apa Gama memang bertindak sejauh itu? Mengawasi Maya siang dan malam? Sepertinya dia harus bertanya kepada Gama secara langsung.
“apa kau bisa memegang janjimu?” Tanya Ayyara dengan tatapan curiga.
“aku berjanji. Jika tidak, dia bisa langsung membunuhku saat itu juga.” Kata Maya dengan tatapan yang terlihat sangat bersungguh-sungguh. Dia bahkan mengangguk cepat dengan mimik wajah serius.
“berjanjilah padaku kau benar-benar akan bicara dengannya.” Kata Maya kemudian dengan mimik masih memohon. Sepertinya Maya sudah benar-benar jera.
Maya sudah kehilangan hal yang paling berharga baginya. Yaitu hartanya dan kekuasannya. Ternyata Gama benar-benar membuat Maya hancur.
__ADS_1