
Suasana romantis di pinggir pantai parang tritis. Dengan pemandangan matahari tenggelam yang hampir hilang di peraduannya.
Duduk di atas hamparan pasir, Ayyara sedang menikmati jagung bakarnya, begitu juga dengan Gama. Mereka berdua asyik menggerogoti jagung yang dilumuri saus pedas itu. Ayyara bahkan sudah menghabiskan 2 buah jagung.
"sayang, mau lagi?" tanya Gama. Yang di jawab dengan anggukan kepala oleh istrinya itu.
Walah,, ini bumil kok tidak punya rasa kenyang ya? Padahal tadi sudah menenggak 2 mangkuk sup ayam plus nasi. Tapi entah kenapa Gama merasa senang saat melihat istrinya itu terus mengunyah.
Gama mengeluarkan kameranya dan mengarahkan ke wajah istrinya yang sedang belepotan karna terkena saus dari jagung bakar yang ia makan. Membuat Gama terkekeh melihatnya.
Setelah selesai memotret istrinya, Gama mengusap sisa saus di sekitar bibir istrinya. Entah kenapa hal itu membuat wajah Ayyara merona. Apalagi setelah pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Ayyara.
"aku mencintaimu Ayyara Manda." Kata Gama tiba-tiba.
Jantung Ayyara berdetak tak beraturan. Kata-kata sederhana itu membuat hatinya berbunga-bunga.
Gama merasa Ayyara masih menyimpan perasaan canggung padanya setelah mereka bertemu dengan Mala dan Micko. Sepertinya Ayyara menyadari siapa itu Mala. Karna Gama memang pernah menceritakannya sebelumnya.
"sayang. Kenapa kau tiba-tiba begitu?" tanya Ayyara. Reaksi yang tidak diharapkan Gama. Tadi dia berharap kalau Ayyara akan langsung memeluknya, ternyata perkiraannya meleset.
"begitu bagaimana?" tanya Gama tidak mengerti.
"apa kau merasa harus menghiburku karna kita bertemu dengan mantanmu?"
Jleb.! Gama tak bisa menjawab. Ayyara pintar membaca situasi.
"aku takut kau cemburu."
"tentu saja aku cemburu. Setiap orang pasti akan merasakan hal yang sama. Kau juga cemburu saat aku bertemu dengan Dafa."
Benar juga..
"aku hanya tidak menyangka kalau kita akan bertemu dengannya. Di tempat yang luas ini, yang kemungkinannya sangatlah kecil untuk kita bertemu dengan mereka, tapi justru kita bertemu di tempat dan waktu yang tidak terduga."
"itu namanya takdir sayang. Kalau sudah tau waktu dan tempatnya, itu namanya direncana. Tapi kau nampak sangat senang tadi." jawab Ayyara.
"begitukah?"
Jawaban singkat dari Gama membuat Ayyara mengernyitkan dahinya. Entah kenapa dia merasa tidak suka dengan jawaban itu. Di telinganya terdengar seperti 'ya, tentu saja aku senang bertemu dengan mantan'.
Hufh..
"ayo kita pulang. Aku lelah." ajak Ayyara tiba-tiba. Wajahnya masam. Ia langsung berdiri dan meninggalkan Gama yang masih duduk di pasir sambil menatap kepergiannya.
Kenapa lagi dia? Batin Gama.
Ungkapan cintanya ternyata tidak manjur. Padahal tadi Ayyara nampak baik-baik saja. Apa dia menahannya?
Saat masuk ke dalam mobil, Ayyara sudah memejamkan matanya di kursi penumpang. Gama tidak berani mengganggunya. Ia tau kalau Ayyara hanya pura-pura tertidur. Tapi dia tetap membiarkannya saja. Dan mengemudikan mobilnya dengan pelan.
__ADS_1
Mata Ayyara terus Terpejam sepanjang perjalanan. Bahkan bualan-bualan kecil yang di lontarkan Gama hanya dibalas dengan gumaman olehnya. Membuat Gama frustasi saja.
Bahkan setelah sampai di villa mereka yang ada di kawasan kaliurang, Ayyara masih saja menekuk wajahnya. Dia sendiri tidak tau kenapa ia merasa sangat marah sekaligus merasa sedih. Jawaban singkat Gama tadi membuatnya seolah-olah diabaikan oleh pria itu. Dan itu membuat hatinya sakit.
Dalam fikirannya dia sadar, kalau ini hanya masalah sepele. Tapi entah kenapa Ayyara tidak mampu mengendalikan perasaan sedihnya.
"selamat malam Raden. Mau dibuatkan makanan?" tanya pak Ito. Wajahnya menoleh mengikuti Ayyara yang langsung masuk ke kamar utama.
"tidak usah pak, kami sudah makan diluar." Jawab Gama.
"baiklah kalau begitu." kata pak Ito kemudian.
Gama mengikuti istrinya masuk kedalam kamar. Tapi Ayyara tidak ada disana. Dia sedang ada dikamar mandi. Gama berniat ikut masuk kedalam kamar mandi. Tapi pintunya terkunci. Tidak biasa-biasanya Ayyara mengunci pintu kamar mandi.
Sambil menunggu Ayyara, Gama duduk di tepian ranjang. Setelah 30 menit berada dikamar mandi, akhirnya Ayyara keluar juga. gama langsung memasang senyum miliknya yang paling lebar. Tapi Ayyara hanya menatapnya sekilas. Dan malah berbaring di ranjang.
Ayyara menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Ia tidak mempedulikan keberadaan Gama. Membuat Gama merasa sedih. Pria itu mencari cara supaya Ayyara tak marah lagi. Walaupun dia tidak tau apa masalah sebenarnya yang membuat istrinya itu marah.
Tadi Ayyara bilang bahwa dia tidak peduli dengan masa lalu Gama. Tapi kenapa sekarang malah marah?
"sayang... Sudah mau tidur?" tanya Gama.
Tak ada jawaban.
"sayang.. Apa kau marah padaku?" pancing Gama.
Tetap tidak ada jawaban.
"maafkan aku. apapun salahku, aku minta maaf." Gama memilih mengalah. Berurusan dengan 'ibu negara' yang sedang hamil, dia harus ekstra hati-hati.
"sayang.. Sudah lowbat nih,, butuh di charge" bisik Gama di telinga Ayyara. Tangannya sudah bersarang di benda kenyal kesukaannya.
"stop kontaknya sedang rusak tidak bisa dipakai." Jawab Ayyara tanpa ekspresi.
"ayolah sayang. Junior sudah bangun nih.." Gama masih berusaha merayu.
"tidurkan saja dulu. kalau perlu di nina bobokkan."
Jawaban Ayyara membuat Gama menaikkan sebelah alisnya.
"Ayyara sayang, ayolah. Ya.. Ya.." Gama membenamkan wajahnya di tengkuk istrinya.
"sayang. Aku lelah dan sangat mengantuk."
"tapi aku butuh."
"Butuh apa lagi. Kau kan sudah senang bisa bertemu dengan mantan. Masih butuh di charge juga?"
Lha?
__ADS_1
"jadi karna itu?" gumam Gama.
Membuat Ayyara langsung terduduk dan menatap Gama dengan ekspresi marah.
"aku tidak suka. Melihatmu tersenyum seperti itu dengannya." dengus Ayyara. Dua buah bola air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Bukannya sedih. Gama malah terkekeh dibuatnya.
"kok.malah tertawa sih?!" Ayyara bertambah kesal.
"ya masak aku harus marah-marah dengan mereka sih sayang. bagaimana kalau mereka menganggapku gila nanti? baru bertemu sudah marah-marah tidak jelas."
"ya tapi aku tidak suka melihatnya."
"ya kenapa? Apa kau cemburu? tadi bilang tidak cemburu." Gama mengingatkan.
"Tak ada alasan. Cuma tidak suka. Aku tidak punya penjelasannya."
Ya ampun. Dasar wanita. Dengus Gama dalam hati.
"ya sudah. Aku minta maaf kalau senyumanku menyakitimu. Lihatlah mataku." ujar Gama menarik kedua pipi Ayyara untuk menatapnya.
"kenapa?" tanya Ayyara. Air mukanya mulai berubah.
"apa kau tidak bisa melihatnya?"
"melihat apa?" Ayyara mendekatkan wajahnya untuk melihat netra Gama lebih dekat. mungkin Gama kelilipan. Batin Ayyara.
"apa kau tidak melihat kalau hanya Ayyara lah yang ada disana? Dan juga disini." kata Gama kemudian meletakkan telapak tangan Ayyara di dadanya, dan tangannya berada diatas tangan Ayyara.
Ayyara bisa merasakan detak jantung Gama yang tak beraturan.
"kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Itu hanya sebatas senyum sapa saja. Tidak lebih. Kau telah menguncinya di dalam hatiku. Bahkan dia sendiri tidak bisa membukanya. Tidak ada tempat untuk orang lain disini. Hatiku hanyalah milikmu Yara. Selamanya. Aku bisa janjikan hal itu."
Jantung Ayyara jadi ikut berdetak cepat. Untuk kesekian kalinya, ia kembali jatuh cinta kepada suaminya.
"jadi sekarang apa stop kontaknya sudah bisa digunakan?"
"belum. Aku lelah. Mau tidur. Kau nina bobokkan saja itu si junior."
Yaaahhh... Ternyata rayuan Gama yang panjang lebar itu gagal membantu junior.
.
.
.
ya kali si junior di nyanyiin nina bobo langsung merem..🤭🤭🤭
__ADS_1
Tuh kan, otak mak jadi sengklek.🤪🤪