Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Putus Asa.


__ADS_3

Hanya butuh waktu sebulan bagi Gama untuk benar-benar menghancurkan Maya dan keluarganya. Ia menepati sumpahnya untuk menghancurkan wanita itu. Perusahaan, bahkan sampai keluarga Maya menjadi porak-poranda. Mereka tidak punya apa-apa lagi. Hidup yang terbalik 180 derajat. Hal yang baru Maya sesali sekarang.


“Gama. Aku mohon. Tolong jangan ambil semuanya dariku.. Aku salah,, tolong maafkan aku. Aku menyesal Gama. Tolong berbelas kasihlah pada kami..” Mohon Maya.


Saat ini Maya tengah berlutut di hadapan Gama. Bersama dengan ayahnya.


“terlambat.” Lirih Gama dengan suara datar.


“aku mengakui kesalahanku. Aku mohon Gama.” Maya masih terus berusaha memohon. Kini air mata yang keluar dari matanya adalah air mata yang tulus memohon belas kasihan dari Gama.


“Tuan Gama. Saya mohon. Tolong cabut laporan anda. Ini semua salah saya. Karna saya tidak membesarkan anak saya dengan baik.” Ucap ayah Maya.


“selama ini anda kemana saja? Anda tau putri anda sudah di butakan oleh ambisi, tapi anda bahkan sama sekali tidak mencegahnya. Diam-diam anda malah mendukungnya. Jangan kalian fikir saya tidak tau.” Ucap Gama menatap tajam kepada pria paruh baya yang sedang berlutut dihadapannya itu.


“Maya.. Selama ini aku diam bukan berarti aku orang yang pendiam. Tapi aku bukan tipe orang yang akan mengganggu tanpa di ganggu terlebih dahuulu. Kau sangat salah menilaiku. Kau salah telah membuatku marah.” Kata-kata datar Gama penuh dengan penekanan.


“maafkan aku Gama. Aku tau aku salah. Aku sudah mengakuinya.” Kali ini Maya beringsut sambil memegang lutut Gama.


Gama langsung saja mengibaskan kakinya agar Maya tidak bisa menyentuhnya. Di sentuh oleh wanita itu terasa sangat menjijikkan.


“jangan pernah lagi muncul dihadapanku. Atau aku benar-benar akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri.” Ancam Gama sebelum ia masuk kedalam mobilnyna.


Pemandangan itu disaksikan oleh banyak orang. Sebagian besar merupakan karyawan GD Group. Karna itu terjadi di depan gedung GD Group. Maya sudah tidak mempedulikan harga dirinya lagi. Yang terpenting sekarang hartanya kembali. Ia sudah membuang harga dirinya jauh-jauh sebelum datang menemui Gama.


Tatapan tajam ayahnya sangat menusuk. Membuat Maya meringsut ketakutan. Sebelumnya ayahnya sudah mengancamnya. Kalau Maya tidak bisa membujuk Gama untuk mencabut laporannya tentang manipulasi saham yang mereka lakukan, maka Maya akan dibuang dari nama keluarga Wira. Hal yang paling Maya takuti kini pasti akan terjadi. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Gama bisa berbuat sekejam itu.


“AAAAAAAAA!!!!!!!” Pekik Gama didalam mobil. Membuat Fadil hampir saja menginjak pedal rem mendadak sangking terkejutnya. Gama mencoba mengatur nafas sambil menyeka butiran air mata yang baru saja mengalir. Ia merasakan kerinduan yang sangat dalam di hatinya.


“Tuan.!” Arfan yang juga berada di mobil yang sama bisa merasakan kesedihan yang dialami Gama.


“bagaimana perkembangannya Fan?” Tanya Gama disela isaknya.

__ADS_1


“maafkan saya tuan. Saya belum menemukan informasi apapun.”


“Yara,, diamana kamu. Aku sangat merindukanmu.” Ucapnya lirih. “bagaimana bisa tidak ada jejak sama sekali?”


“saya juga tidak tau Tuan.” Jawab Arfan menundukkan wajahnya. Ia merasa tidak berguna. Dia merasa gagal menjalankan tugas dari Gama.


“ayo kita ketempat gadis itu.” Perintah Gama lagi. Fadil segera mengerti. Maksudnya adalah ketempat Nia.


Dor.. Dor.. Dor..dor..


Gama menggedor pintu rumah kontrakan Nia dengan membabi buta. Membuat gadis mungil itu gemetar karna terkejut.


“Tuan Gama...” Lirih Nia. Ia menarik nafas dalam. Ini adalah kedatangan Gama yang ke lima puluh sekian. Entahlah, Nia sampai lupa hitungannya.


Tatapan mata Gama sudah bisa mewakili pertanyaan apa yang akan ditanyakan kepada Nia.


“Tuan, kak Yara belum memberi kabar padaku. Berhentilah bertanya padaku. Karna jawabanku akan tetap sama.”


“tidak ada. Kalau anda tidak percaya, silahkan sadap ponselku sesukamu. Aku tidak akan keberatan.” Jawab Nia.


Bruk.!


“Tuan?!!” Pekik Arfan dan Nia bersamaan melihat Gama yang tiba-tiba berlutut di hadapan Nia.


“aku mohon Nia. Bantu aku. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku mohon padamu. Hiks,, hiks,,” kata Gama lagi. Airmatanya kembali mengalir.


“tuan..” Lirih Nia. Dia juga ikut sedih melihat keadaan Gama yang sekarang. Benar-benar berantakan. Tapi dia juga tidak tau kemana Ayyara pergi.


Arfan membantu Gama berdiri dan membimbingnya masuk kedalam mobil. Setelah berpamitan kepada Nia, mereka pergi meninggalkan rumah Nia.


“sayang... Dimana kau.? Aku merindukanmu.” Gumamnya lagi. Ia terus menggumamkan kata rindu, bahkan didalam tidurnya.

__ADS_1


“kemana lagi aku harus mencarimu?”


Dengan langkah gontai Gama menaiki satu persatu anak tangga menuju kekamarnya. Pak Ito dan Toni hanya berjaga di belakang pria itu kalau-kalau Gama terjatuh. Karna Gama seperti tidak punya tenaga sama sekali.


Bagaimana tidak, semenjak kepergian Ayyara, nafsu makan Gama hilang. Begitu juga dengan semangatnya. Hidupnya seolah tidak punya arti apa-apa lagi. Dia jarang makan dan hanya menenggelamkan diri dengan pekerjaannya. Hidupnya sekarang sudah kacau. Tubuhnya tidak terurus. Ia membiarkan rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan. Bahkan ia sudah tidak pernah lagi mencukur jenggotnya. Ia benar-benar berubah menjadi Gama yang sangar dan menakutkan.


Orang yang melihat penampilan Gama saat ini pasti mengira Gama orang yang kejam. Mereka tidak tau didalam hati pria itu kembali terbentuk lubang yang tidak berdasar. Hatinya sudah dibawa pergi. Ia seperti hanya memiliki separuh nyawa saja. Sama sekali tidak ada semangat. Dan senyumnya juga sudah menghilang.


Perasaan ditinggalkan oleh orang yang dicintai, membuat hidup Gama hancur berkeping-keping. Ia ingin membenci Ayyara. Tapi entah mengapa, setiap dia ingin membenci wanita itu, maka rasa rindunya akan semakin dalam. Dan hal itu membuatnya sakit berkepanjangan.


Gama berjalan masuk ke dalam kamar dengan tubuh yang layu. Netranya kembali menangkap sosok yang sedang tersenyum di balik bingkai foto di atas nakas. Hatinya kembali bergemuruh.


“AAAAAARRRGGGG!!!”


Prang.! Buk.! Gubrak.!


Gama membanting barang apa saja yang ditemuinya, kecuali foto Ayyara. Dan hal itu membuat pak Ito dan Toni yang sedang berada diluar kamarnya menjadi khawatir. Pak Ito memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang terbuka sedikit itu dengan hati-hati.


Pemandangan yang sangat menyentuh sekaligus menyakitkan. Begitu masuk, Pak Ito melihat Gama yang sedang terduduk di lantai dan bersandar pada ranjang sambil memeluk sebuah foto. Kursi, meja, bahkan cermin hias yang menempel didinding kamar itu kini sudah remuk tak berbentuk. Buku-buku berserakan kesegala penjuru kamar. Karpet mahal yang ada di bawah sofa pun sudah teronggok di pojokan. Kondisi kamarnya benar-benar berantakan. Membuat pak Ito sangat terkejut.


Dan yang lebih mengejutkan, saat pak Ito melihat tangan Gama yang sudah berlumuran darah itu mengusap kasar wajahnya sendiri. Jadilah seluruh wajah Gama berlumuran darah.


“hua... Hua... Hua... Hiks..” Gama terus saja terisak. Pak Ito segera menghampiri Gama dan membantunya berdiri. Pria paruh baya itu juga ikut melelehkan air mata. Ia benar-benar tidak tega melihat Gama hancur seperti ini. Tapi ia tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk membantu Gama.


.


.


.


Bawang. Nulis part ini mak kok mewek sendiri ya... Sampek diliatin sama kucing.

__ADS_1


😭😭😭😭😭💔💔💔


__ADS_2