
"aku benar-benar sudah tidak bisa tinggal diam lagi. kenapa kau mengusikku? Maya?" tanya Gama menatap tajam ke pada Maya. saat ini Gama tengah berada di kantor Maya.
gadis itu hanya terdiam tanpa ekspresi. ia berusaha untuk bersikap setenang mungkin. ia menyeruput teh hangat yang baru saja di sajikan oleh sekretarisnya.
"kau mau apa?" tanya Maya kemudian.
"cabut laporanmu. dan aku tidak akan memperpanjang urusan ini. cukup hanya aku saja yang tau kebohonganmu." ancam Gama.
"memangnya kau punya apa Gama? apa kau punya bukti kalau dia tidak menamparku?" tanya Maya dengan percaya diri. dia yakin, tidak ada bukti apapun yang tertinggal.
"aku ulangi sekali lagi. ini adalah kesempatan terakhirmu, cepat cabut laporanmu."
"hmh.! enak saja. aku tidak bisa melepaskan orang yang sudah menamparku didepan umum kan?"
__ADS_1
brak.!
Gama melemparkan ponsel Arfan yang ia bawa tadi ke atas meja dihadapan Maya, ia menunjukkan sebuah video yang ada didalamnya. mata Maya langsung terbelalak saat melihat video itu.
"sudah kubilang ini kesempatan terakhirmu, jangan usik rumah tanggaku lagi. kau tidak mau kan kalau keluargamu tau tentang perbuatan memalukanmu ini? apa yang akan dilakukan ayahmu? bisa kupastikan kalau dia akan mencabut seluruh hak manajemen yang ada padamu dan memberikannya kepada adikmu itu." perkataan Gama terdengar sangat menakutkan. tatapan matanya juga mengerikan. membuat Maya meringsut takut.
ancaman Gama benar-benar akan jadi kenyataan jika Maya tak mengindahkan peringatannya.
"apa kau tetap tidak mau? baiklah..." kata Gama meraih ponsel itu dan beranjak pergi. tapi kemudian langkahnya berhenti karna dihadang oleh Maya.
Gama melangkah dari gedung perkantoran milik Maya dengan perasaan lega. ia kemudian mengemudikan mobilnya ke kantor polisi. dia tidak bersama Arfan, asistennya itu sedang mendampingi Ayyara di kantor polisi.
sedang dalam perjalanan, ponsel Gama berdering. telfon dari Arfan. segera ia menepikan mobilnya dan mengangkat ponselnya.
__ADS_1
"baiklah." jawabnya singkat. kemudian ia memutar balik mobilnya menuju kearah rumahnya. tadi Arfan memberitahu kalau ia dan Ayyara sudah kembali kerumah.
Gama memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. ia sangat menghawatirkan keadaan Ayyara. apakah gadis itu baik-baik saja? entah kenapa ia merasa bersalah atas kejadian ini. seharusnya ia lebih memperhatikan Ayyara, seharusnya ia tak perlu membatasi dirinya sendiri seperti ini. toh ia sudah menyadari bagaimana perasaannya yang sebenarnya kepada gadis itu.
ya, perlahan namun pasti, Ayyara mampu menggeserkan nama Armala Anggung yang pernah bertengger dihatinya. sebenarnya ia sudah merasakan perasaan aneh dihatinya itu sejak ia melihat Ayyara bernyanyi waktu itu. sejak saat itu, ia selalu ingin berada didekat Ayyara, tapi ia tak berani mengungkapkannya, karna ia tau sedalam apa luka dihati Ayyara. ia tak mau gegabah mengambil langkah.
"dimana dia?" tanya Gama kepada Bik Ima. asisten rumah tangganya.
wanita paruh baya itu memberitahu kalau Ayyara tengah istirahat di kamarnya. dengan berlari, Gama menaiki tangga menuju ke lantai atas, kemudian langsung masuk kedalam kamar Ayyara.
Ayyara tengah terduduk di sofa di kamarnya, ia masih berusaha menenangkan diri pasca insiden yang baru saja dialaminya. ia tengah memikirkan Gama, penasaran, kenapa pria itu tak menjemputnya di kantor polisi? apa Ayyara benar-benar tak punya tempat dihati Gama? perlahan Ayyara mulai mengharapkan perhatian dari pria itu.
ceklek.! suara pintu terbuka.
__ADS_1
Ayyara langsung menoleh kearah pintu. ia bisa melihat Gama yang dengan tergesa-gesa berjalan menghampirinya dengan wajah yang nampak panik. dan tanpa ba bi bu, Gama langsung merengkuh tubuh Ayyara ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajah Ayyara ke dadanya. Ayyara bisa mendengar detak jantung Gama yang tak beraturan. dan tangan pria itu mengelus rambut Ayyara dengan lembut.
mendapatkan pelukan secara tiba-tiba, Ayyara tak berani berkutik. ia terkejut bukan main. ia tersihir dengan aroma harum tubuh Gama yang memenuhi rongga hidungnya. ia tak berani bergerak sama sekali. jantungnya juga tak kalah berisik.