Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Tak Tahu Malu.


__ADS_3

“kak Yara jahat sekali.!” dengus Nia. ia menatap tajam Ayyara sambil cemberut.


“maaf Nia...”


“kenapa kak Yara tak memberitahuku kalau tuan Gama itu suamimu kak?”


“ada hal yang tak bisa kuceritakan secara detail padamu. maafkan aku.”


“tapi aku ikut senang. akhirnya kak Yara menemukan tambatan hati yang sesuai dan jauh lebih baik. tidak seperti itu.” dengus Nia menunjuk ke ruangan Dafa dengan bibirnya.


“dia pasti sedang kebakaran jenggot sekarang.”


“hush.. jangan begitu dengan sepupumu.”


“biar saja. sepupu sih sepupu, tapi kalau sikapnya menjijikkan seperti itu, aku tetap tidak akan membelanya kak.”


“kamu ini...”


“kak Yara mau dengar kabar terbaru tidak? yang ini membuatku bersemangat kak.”

__ADS_1


“apa?”


“si Celine, istrinya Dafa, sampai sekarang belum juga hamil. tante Rini sudah kalang kabut dibuatnya. dia membawanya berobat sampai keluar negeri segala lho kak. tapi belum nampak ada hasilnya.” Nia bercerita dengan penuh semangat.


“biarkan saja, doakan yang terbaik untuk mereka.”


“ish.! kak Yara jadi orang jangan terlalu baik. model orang seperti tante Rini dan Dafa itu, semakin dibaikin semakin nglunjak kak.”


“Nia,, sudahlah. kembalilah bekerja. jangan membahas hal itu lagi.” kata Ayyara membuat Nia berhenti mengomel. Ayyara tak mau pagi bahagianya dirusak dengan cerita mengenai masa lalu yang ia benci. dengan Manyun Nia kembali ke mejanya.


Ayyara sama sekali sudah tak peduli dengan Dafa dan ibunya. yang jadi prioritasnya saat ini adalah dirinya dan Gama. ia tak mau memikirkan orang-orang yang tak penting itu.


“Yara... tolong keruanganku. ada yang ingin aku bicarakan.” ucap dafa saat sudah berada di hadapan meja Ayyara.


“silahkan bicarakan disini saja pak Dafa.” kata Ayyara sengaja menekankan kata ‘pak’. ia ingin memberitahu Dafa kalau mereka kini orang yang asing, hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja saja.


“ini masalah perusahaan.” kata Dafa lagi. ia berusaha mengendalikan hatinya yang terasa nyeri dengan sikap dingin yang ditunjukkan Ayyara.


mau tidak mau Ayyara terpaksa menuruti permintaan Dafa. dengan malas ia menyeret kakinya berjalan memasuki ruangan Dafa dan duduk di sofa yang ada disana.

__ADS_1


“anda mau bicara apa pak?” tanya Ayyara kemudian dafa menyerahkan sebuah amplop coklat kepada ayyara. gadis itu segera membuka dan membaca isinya.


“apa maksudmu aku hanya akan mendapatkan sahamku sebanyak 10 persen saja?” tanya Ayyara mulai geram. ia menatap tajam kepada Dafa.


“bukankah seharusnya begitu? perusahaan ini milikku. aku yang memimpin perusahaan ini. aku mempersilahkanmu untuk pergi Yara. aku melepaskanmu, pergilah..” jelas Dafa tak mau kalah.


“kau pasti sudah Gila. apa kau lupa kalau modal awalnya berasal dariku?!”


ya, Ayyara sampai harus menjual rumah mewah peninggalan kedua orang tuanya untuk memenuhi keinginan Dafa. dan sekarang dengan seenak jidatnya Dafa mengusir Ayyara hanya dengan 10 persen saham?. seharusnya Dafa lah yang hengkang dari sana. pria itu benar-benar tak tahu malu. padahal posisinya sebagai CEO selama ini hanyalah nama. sebagian besar pekerjaan Ayyara lah yang menyelesaikannya.


“kau tidak berfikir aku akan menerima permintaan gilamu ini kan? kau sungguh tak tahu malu Dafa. selama ini aku diam dan tak pernah mengusik masalah saham. tapi kenapa tiba-tiba kau begini? seharusnya perusahaan ini milikku. kau sama sekali tak berhak dengan perusahaan ini.”


“ayolah Ayyara... kau kan sudah jadi Nyonya Gundala saat ini. harta kekayaan suamimu jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan perusahaan ini. perusahaan ini tidak ada apa-apanya. berikan saja perusahaan ini padaku. dan kau, silahkan duduk manis sambil menikmati harta kekayaan suamimu itu.”


“kau benar-benar tidak tahu malu Dafa.”


bukan masalah seberapa besar perusahaan ini, tapi jerih payahnya sudah habis tercurah disini. kenangan tentang rumah peninggalan kedua orang tuanya ada di perusahaan ini. ia tak mau menyerahkannya begitu saja kepada Dafa sialan itu.


“kalau kau mau perusahaan ini, ambil saja semuanya, tapi, kembalikan semua modal awal yang sudah kuberikan padamu. kalau tidak, jangan harap aku akan menyerahkannya begitu saja.” dengus Ayyara. ia tak mau mengalah. ia sangat marah dengan kelakuan Dafa. kalau Dafa berani mengembalikan modalnya, ia akan menggunakan uang itu untuk membeli rumah kedua orang tuanya kembali.

__ADS_1


__ADS_2