Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Apel Terakhir.


__ADS_3

tatapan mata Gama tak pernah lekang dari wajah Ayyara yang duduk di ranjang rumah sakit. pria itu menopang dagunya, terpesona dengan mata Ayyara yang belekan.


"kenapa menatapku terus sih?" tanya Ayyara merasa risih.


"karna kamu cantik." ucap Gama.


what?? ada belek di mata Ayyara dan ia tetap terlihat cantik bagi Gama. luar biasa.


"trimakasih banyak sayang."


"sayang, apa kau tau itu kata trimakasih yang ke seratus sekian? aku hampir bosan mendengarnya." seloroh Ayyara. ia terus menyuapkan potongan buah apel ke mulutnya.


Gama hanya tersenyum saja mendengarnya. walaupun sudah sebanyak itu ia mengucapkannya, tapi rasanya ia belum puas. bagaimana caranya mengungkapkan rasa bahagianya? hatinya terus saja menari-nari didalam sana.


"Yara.!"


Nyonya dan Tuan Gundala menerobos masuk membuat Ayyara dan Gama terkejut.


"Ma, Pa.." jawab Gama.


"Yara sayang, kamu tidak apa-apa?" Nyonya Gundala langsung menghambur memeluk menantunya itu. ia bahkan tidak mempedulikan putranya sendiri


"aku baik-baik saja Ma..." jawab Ayyara setelah ibu mertuanya itu melepaskan pelukannya. pandangannya terus saja tertuju ke potongan apel yang terjatuh dilantai saat ibu mertuanya memeluknya tadi. itu adalah potongan apel terakhirnya. ia sengaja menyisakan potongan yang paling besar untuk yang terakhir, karna yang terakhir adalah yang paling lezat kan. ia terus menelan ludahnya sendiri.


"sayang kamu kenapa?" tanya Gama yang menyadari kegelisahan istrinya.

__ADS_1


"apelku... hiks,,hiks,," kata Ayyara. ia mulai menangisi potongan apel yang disia siakan itu. kalau tidak malu, ia pasti sudah memungutnya sejak tadi.


"apel? apel apa?" tanya Gama tak mengerti. pria itu kemudian melongongkan kepalanya ke seberang ranjang melewati pangkuan Ayyara. ia penasaran, apa yang sedang Ayyara tangisi.


setelah matanya menatap sepotong apel yang teronggok dilantai, ia kembali menatap wajah Ayyara yang juga sedang menatap apel itu. kedua orang tuanya juga mengikuti arah pandangan Ayyara.


Gama, Tuan, dan Nyonya Gundala langsung terbahak-bahak. mereka tertawa dengan kerasnya. tak menyangka kalau menantu mereka itu akan menangisi potongan apel yang terjatuh.


sedangkan Ayyara nampak semakin sedih karna ditertawakan. alisnya semakin terpaut dan siap meledakkan tangisnya. hidungnya pun sudah kembang kempis.


melihat raut wajah Ayyara yang nampak semakin sedih, Gama langsung memberi kode kepada kedua orang tuanya. untung Tuan dan Nyonya gundala cepat tanggap dan segera menghentikan aksi mereka.


"sudah,, jangan menangis lagi. nanti aku belikan apel yang banyak, kalau masih kurang, aku akan membelikanmu kebun apel." hibur Gama. menghibur tapi kok malah kayak nyindir sih...


"ngomong-ngomong kenapa kamu bisa masuk rumah sakit Yara?" tanya Tuan Gundala, berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ma,, Pa,, Yara sedang mengandung cucu Mama dan Papa.." jrlas Gama kemudian.


Tuan dan Nyonya Gundala hanya bisa ternganga. kabar itu terlalu membahagiakan, sampai mereka tak tau harus bicara apa. perlahan, ujung bibir mereka naik, mereka siap meluapkan rasa bahagianya.


"kamu hamil Yara?" tanya Mama seperti tidak percaya dengan Gama.


Ayyara hanya menganggukan kepalanya perlahan. hatinya masih bersedih atas terbuangnya sepotong apel.


"ya ampunn.. Yara... trimakasih sayang... trimakasih.." Mama kembali memeluknya dengan erat sekali.

__ADS_1


kehamilan Ayyara membuat orang-orang disekelilingnya terus saja mengucap teimakasih. apa sebesar itu jasanya karna sudah berhasil mengandung calon pewaris tahta GD Group? apa mereka sebahagia itu? padahal Ayyara merasa biasa saja. bahagia tentu saja, tapi selebihnya biasa saja. yang ia rasakan malah lapar,, lapar,, dan lapar.


setelah lama berbasa basi dan berusaha menghibur Ayyara yang baru saja kehilangan potongan apel terakhirnya, Tuan dan Nyonya Gundala pamit pulang. Gama mengantarkan mereka keluar ruangannya.


Tuan Gundala memeluk erat putra semata wayangnya itu, kemudian menepuk-nepuk punggungnya, pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu merasakan kebanggaan yang luar biasa. sebentar lagi statusnya akan menjadi seorang kakek, status yang telah lama ia nanti-nanti.


"papa bangga padamu nak." ucap Tuan Gundala yang didukung senyuman dari istrinya. sekali lagi ia menepuk pundak Gama sebelum pergi membawa kebanggaan di dadanya.


setelah melihat kedua orang tuanya pergi, Gama langsung memerintahkan Arfan untuk membelikan apel untuk Ayyara. tak butuh waktu lama, beberapa menit kemudian Arfan sudah kembali membawa sekantung apel.


dengan wajah yang sumringah, Gama kembali ke dalam ruang rawat Ayyara, ia menenteng sekantung apel dan ingin langsung menunjukkan kepada istrinya itu. tapi yang ia lihat, Ayyara justru sudah tertidur pulas di atas ranjangnya.


sebuah senyum manis tersungging di bibir Gama. ia kemudian memperbaiki selimut calon ibu dari anaknya itu, kemudian mengecup dalam kening, mata dan bibirnya, membuat Ayyara sedikit menggeliat karna terganggu.


sekali lagi ia berucap...


"trimakasih sayang..."


.


.


.


🍎🍏hayooo.... siapa yang senyum-senyum sendiri? atau bahkan ngakak sampe bengek? mak gak tanggung jawab lho ya.....

__ADS_1


__ADS_2