Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Jatuh Cinta Terus Menerus.


__ADS_3

Hampir semalaman Ayyara tidak bisa.memejamkan mata. Ia terus saja teringat dengan ucapan Maya.


"aku bersumpah tidak akan pernah lagi menggaggumu. Aku bersumpah ini adalah terakhir kali aku menemuimu."


Dan apakah sumpah yang dilontarkan maya benar-benar terjadi? Hari ini juga.? Memikirkannya membuat bulu kuduk Ayyara berdiri.


Ayyara membenamkan wajahnya semakin dalam di dada Gama. Ia berusaha keras untuk memanggil kantuknya yang tidak kunjung datang.


"sayang? Kau memikirkan apa sih sampai tidak bisa tidur begitu?" tanya Gama dengan suara beratnya. Ia juga jadi tidak bisa tidur nyenyak karna sejak tadi Ayyara terus saja bergerak dan beralih posisi.


"hmmmm..."


"sudahlah. Jangan terlalu difikirkan. Sudah jalan takdirnya begitu. Sekarang, tidurlah." kata Gama sambil mengusap lembut kepala istrinya.


Ayyara menuruti ucapan Gama. Setelah menghitung ayam di kepalanya, akhirnya rasa kantuknya datang juga. Ia terlelap di dekapan suaminya.


***


Sudah hampir satu bulan sejak kejadian kecelakaan Maya. Kengeriannya tentang kecelakaan itu sudah berangsur-angsur menghilang dari kepala Ayyara.


Kini dia kembali disibukkan mengurus si kembar Ana dan Jun.


Setiap pagi, Ayyara akan disibukkan oleh kegiatannya mempersiapkan si kembar berangkat ke sekolah. Setelah itu, ia akan melakukan hal apapun yang bisa membunuh kebosanannya karna menghabiskan sebagian besar waktu hanya dirumah.


Sore ini, Ayyara baru saja selesai membantu Pak Man membersihkan taman belakang rumah. Saat ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar, ia melihat sebuah kotak berpita warna merah muda yang tergeletak di ranjang.


Dengan rasa penasaran, dia mendekati kotak itu dan membuka pitanya.


Ayyara Manda,


Aku mencintaimu.


Ayyara langsung terkekeh saat membaca tulisan di atas selembar kertas itu.


Hal yang sudah dilakukan oleh Gama beberapa hari terakhir. Kali ini entah siapa yang dia titipi kotak itu untuk meletakkannya di kamarnya.


Karna setiap hari Gama akan menyuruh orang yang berbeda.


Awalnya Bi Sulis, keesokan harinya Devi, terus Dina, terus Pak Totok. Begitu seterusnya sampai semua orang yang bekerja dirumah itu mendapatkan giliran. Dan isi dari kotak itu selalu sama. Yaitu ungkapan cinta dari pria itu.

__ADS_1


Hal-hal kecil yang dilakukan Gama sungguh mampu membuatnya melambung. Kata-kata sederhana itu selalu bisa membuat hatinya berdesir. Bahkan dia tidak pernah merasa bosan dengan ungkapan cinta dari Gama yang sederhana.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi yang terbuka. Sontak membuat Ayyara langsung menoleh ke sana. Betapa terkejutnya dia demi mendapati suaminya yang baru keluar dengan rambut basah sehabis keramas, beberapa tetesan air dari rambutnya bahkan terjatuh di dada bidang seksi itu.


"sayang?!" pekiknya. "kok sudah dirumah? Kapan kau pulang? Kenapa aku tidak tau?" serangnya dengan rentetan pertanyaan. Karna memang Ayyara tidak tau kalau Gama sudah ada dirumah.


"baru saja. Aku lihat kau sedang asyik membersihkan taman belakang. Aku tidak ingin mengganggumu, jadi aku langsung naik saja." jawab Gama. Sambil berlalu masuk kedalam ruang ganti.


Ayyara hanya memanyunkan bibirnya saja. Tapi pandangan matanya tetap mengekori punggung kekar Gama yang menghilang di balik tembok.


Ayyara sedang membereskan kotak 'pernyataan cinta' dari Gama, saat suaminya itu tiba-tiba mendekat dan langsung memeluknya dari belakang.


"sayang... Ih." protesnya. Karna ia sedikit terkejut.


Apalagi ternyata Gama belum memakai pakaiannya sama sekali. Pria itu masih berbalut handuk yang mengeksplore sebagian besar tubuhnya.


"sayang, maukah kau berkencan denganku?" bisik Gama tepat di belakang telinga Ayyara. Hingga hembusan nafas Gama membuat tengkuknya merinding. Hatinya kembali berdesir.


"kencan? Kemana?"


"hmmm.. Kau maunya kemana?"


Gama mengernyit sambil tersenyum.


"kau tidak apa-apa kalau aku mengajakmu kemanapun?" tanya Gama memastikan.


Ayyara menjawabnya dengan mengangguk. "aku akan ikut kemanapun, dan tidak akan protes." janjinya.


"benarkah?" tanya Gama ragu. Dia sangat tau sifat wanita. Tidak berarti iya. Apa itu juga berlaku sebaliknya?


"kenapa menatapku seperti itu?" protes Ayyara saat mendapati Gama yang sedang menatapnya dengan mengejek.


"hehehe.. Cepat ganti baju."


"anak-anak bagaimana?"


"tinggalkan saja mereka dirumah. Aku ingin menikmati kencan kita berdua." ujar Gama kemudian sambil menciumi tengkuk Ayyara.

__ADS_1


"sayang,, lepaskan aku. Aku mau ganti baju dulu." berontak Ayyara saat Gama tidak juga melepaskan dekapannya.


Setelah terkekeh, keduanyapun lantas masuk kedalam ruang ganti secara bersamaan.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, mereka kemudian turun untuk melihat keberadaan Ana dan Jun yang sedang terlelap di kamar mereka dengan ditunggui oleh Devi.


"Bi, kami mau keluar dulu ya." pamit Ayyara kepada Bi Sulis.


"iya Neng.." jawab Bi Sulis sambil tersenyum yang sulit diartikan.


Gama sudah lebih dulu keluar dari rumah. Saat Ayyara juga keluar dari rumah, Pria itu nampak sedang berdiri di samping mobilnya. Dengan sebelah tangan yang memegang pintu mobil yang terbuka.


"silahkan masuk, Nyonya Yara.." selorohnya dengan senyum yang entah kenapa nampak lebih indah dari biasanya. Setidaknya bagi Ayyara.


Dengan senyum yang tersipu, Ayyara masuk sambil menekuk kedua kakinya dan mengangkat ujung gaun sebelum masuk kedalam mobil.


"trimakasih Tuan Gama..." balasnya.


Setelah menutup pintu, Gama kemudian berjalan memutari mobil sebelum masuk dan duduk di balik kemudi.


Kencan mereka hari ini tanpa supir, juga tanpa pengawal. Karna Gama ingin menikmati waktu kencan special mereka hanya berdua saja. Tanpa ada yang mengganggu.


Awalnya Fadil dan Toni tidak setuju dengan ide Gama yang tidak membawa serta mereka. Tapi Gama tetap bersikeras dan meyakinkan mereka bahwa tidak akan terjadi apa-apa kepada dirinya dan Ayyara.


Gama melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Dengan satu tangan memegang kemudi, sementara tangan lain menggenggam tangan istrinya. Dia terus melakukan itu. Dan hanya melepaskannya saat dia membutuhkan tangannya untuk mengganti ggi.


"sayang,, kita mau kemana sih?" tanya Ayyara. Yang awalnya dia tidak berniat bertanya. Tapi sekarang dia jadi penasaran.


Tapi apa? Gama hanya menjawabnya dengan senyuman yang lebih manis dari sebelumnya. Ditambah dengan tatapan mata dengan bola berwarna coklat lengkap dengan bulu mata lentiknya. Bahkan bulu mata Ayyara saja tidak selentik itu.


Ayyara memegangi dadanya yang terus saja berdesir. Ia mulai mengatur ritme nafasnya agar lebih teratur.


"sayang, kamu kenapa?" tanya Gama yang mendadak khawatir melihat Ayyara swperti sedang sesak nafas.


Tapi Ayyara enggan menjawab. Dia terus menarik dan membuang nafas.


"sayang?" panggil Gama lagi. Diamnya Ayyara semakin membuatnya khawatir.


Tidak bisa dibiarkan lagi. Gama menepikan mobil di pinggir jalan. Kemudian memperhatikan Ayyara dengan mimik wajah yang sangat serius. Dia sedang berfikir apa sebaiknya kalau dia memutar dan menuju ke rumah sakit saja? Karna sepertinya Ayyara benar-benar kesakitan.

__ADS_1


"sayang.. Kau tidak apa-apa? Apanya yang sakit? Kita kerumah sakit sekarang ya.." ujar Gama sambil tangannya langsung memegang kemudi. Tapi keburu di cegah oleh Ayyara.


"sayang, apa kau akan membuatku jatuh cinta padamu setiap hari seperti ini?"


__ADS_2