
"kalian baik-baik saja kan?" tanya Mama membuka obrolan makan malam di meja makan.
"kami baik-baik saja Ma. sangat baik." jawab Ayyara. dia tidak sepenuhnya berbohong.
"apa putraku itu memperlakukanmu dengan baik?" tanya Tuan Gundala.
"Papa ini, pertanyaannya aneh. apa papa tidak lihat tadi.." kata Mama sambil menunjuk ke kekeningnya sendiri.
"oh,, iya betul. hahahahahaha.."
Tuan dan Nyonya Gundala tertawa terbahak-bahak. membuat Ayyara merasa sangat malu kepada kedua mertuanya itu. kenapa juga sih Gama pakai mengecup keningnya segala? akting, tak perlu begitu juga kan? dengus Ayyara dalam hati.
setelah selesai makan malam, Mama mengantarkan Ayyara ke sebuah kamar yang ada di rumah lain di belakang. villa ini luas sekali. entah berapa ruangan yang sudah mereka lewati sampai akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan dengan kaca di sebagian besar dindingnya. sebagian tertutup tirai berwarna abu-abu dan putih.
"ini kamar Gama. tidurlah disini. kalau perlu sesuatu, kau tinggal memencet tombol ini saja, dan pelayan akan datang kesini." jelas Mama menunjuk sebuah bel di dekat nakas.
__ADS_1
"iya Ma..." jawab Ayyara.
"selamat istirahat yaa sayang.." ucap Mama kemudian memeluk erat tubuh Ayyara. setelah itu Mama pergi meninggalkan Ayyara sendiri di dalam kamar yang super luas itu.
Ayyara mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. tiba-tiba ia penasaran, apa kamar Gama yang ada di rumah juga seluas ini? batinnya. karna ia sama sekali belum pernah masuk kedalam kamar Gama. paling cuma sampai di depan pintu saja.
netra Ayyara berhenti pada sebuah pigura yang sangat besar yang menempel tepat diatas tempat tidur. terpampang dengan sangat jelas wajah Gama yang terlukis disana. rambut yang hitam legam dengan potongan cepak, dahi yang agak sedikit lebar, mata indah berwarna coklat, hidung mancung, dan bibir yang padat tapi nampak seksi. benar-benar penampakan yang sangat sempurna. memandanginya membuat hati Ayyara kembali berdesir.
ada apa dengan hatinya beberapa hari ini? selalu berdesir saat ia teringat Gama, berdesir saat ia berdekatan dengan Gama. berdesir saat melihat Gama. padahal fikirannya berusaha untuk menjauh dari fikiran-fikiran tentang Gama. hatinya telah berhianat kepada fikirannya sendiri.
hufh.! Ayyara mendengus kesal sambil menepuk-nepuk pelan dadanya untuk menenangkannya. dia tidak boleh menyukai Gama. pernikahan mereka hanya akan berlangsung selama beberapa bulan lagi. ia tak ingin menanggung rasa sakit karna menyukai pria yang bukan miliknya. saat ia harus pergi, ia ingin pergi tanpa ada perasaan apapun di hatinya. karna itu selama ini dia selalu menjaga jarak dari Gama. tapi pria itu selalu bersikap seenaknya saja. Gama membuatnya goyah.
"apa ini Gama?" gumamnya pada dirinya sendiri. "waktu kecil ternyata dia segemuk ini." Ayyara mulai menatap lucu kepada Gama kecil.
"imutnya..." gumamnya lagi. kemudian mengabadikan si Gama kecil kedalam ponselnya. sekali lagi memandanginya kemudian tertawa kecil.
__ADS_1
Ayyara membenamkan dirinya didalam selimut. matanya sudah mulai mengantuk. ia mencoba memejamkan matanya. tiba-tiba...
cup.!
Ayyara terbelalak, terbayang kecupan Gama tadi sore sebelum pria itu pergi. rasanya masih sangat nyata. seolah bibir Gama terus menempel disana. membuat Ayyara sebal kepada dirinya sendiri.
"iiiissshhh!!!!! kenapa lah aku harus teringat itu.!!" pekik Ayyara pelan. ia tengkurap kemudian mengusap-usap dahinya ke bantal sampai dahinya agak memerah.
bagaimana cara melupakan rasa kecupan itu? lembut dan hangatnya bibir Gama terus terbayang dibenaknya. dahinya sudah memerah, tapi rasa bibir Gama tak mau hilang juga. Ayyara bisa gila kalau begini terus. ia mendengus kesal dan mulai menghitung ayam untuk memanggil rasa kantuknya kembali.
gara-gara pria itu mengecup keningnya, ia jadi tak bisa tidur sampai tengah malam. terus terbayang, dan terbayang...
NB.
Hai para readersku terzheyeng,, 😍.
__ADS_1
novel ini sedang mengikuti lomba,, mohon dukungan dan doanya yaa... trimakasih karna masih menikmati novel ini...🙏🙏🙏 semoga bisa lebih baik kedepannya...
peluk sayang dari Mak...😘😘😘😘😘