Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Kejutan Lagi.


__ADS_3

Gama mengernyitkan keningnya mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Ayyara.


"jantungku selalu berdesir saat kau memegang tanganku. Saat kau mengecup keningku. Saat kau tersenyum padaku. Bahkan tatapan matamu itu saja selalu membuat hatiku berdesir. Detak jantungku jadi tidak beraturan. Aku takut dia akan meloncat dari sini." ujar Ayyara sambil menunjuk kearah dadanya.


Gama yang terbengong-bengong untuk beberapa saat, kini meledakkan tawanya. Tidak menyangka ternyata itulah yang sedang terjadi dengan istrinya itu. Percuma saja dia khawatir mengira Ayyara sedang sakit.


"jangan menatapku sambil tersenyum. Aku bisa terkena serangan jantung nanti."


Demi apa? gama yang masih terkekeh malah mendekatkan wajahnya ke wajah Ayyara, kemudian dia mengecup dalam kening istrinya itu.


Dan benar saja, Ayyara langsung memukul dada Gama dengan perlahan. Kemudian mendengus kesal, tapi sebenarnya merasa sangat senang.


"kau membuatku khawatir saja." ujar Gama.


"harus. Kau harus khawatir sayang. Jantungku ini sedang tidak baik-baik saja." kata Ayyara dengan masih mendengus kesal. Bahkan kali ini dia memukul punggung Gama yang sedang memeluknya.


"aku mencintaimu Yara. Sangat mencintaimu. Bahkan rasa cintaku sepertinya terus bertambah setiap harinya." ujar Gama.


Pria itu kemudian melepaskan pelukannya dan menatap dalam netra Ayyara.


"aku tidak tau cara mengungkapkannya dengan kata-kata. Hanya beberapa kata itu saja yang aku tau."


Gama tidak perlu mengungkapkan setiap kata pada Ayyara. Tindakan dan perhatian, serta kejutan-kejutan kecil yang setiap hari dilakukan oleh Gama, sudah lebih dari mampu menggambarkan betapa besar dan dalamnya perasaan Gama untuknya. Tidak perlu banyak kata, langsung tindakan saja.


Setelah mereka sama-sama mencoba menenangkan diri, Gama pun kembali melajukan mobilnya.


Kini mereka sudah berada dijalan menuju ke Karawang. Dan itu lagi-lagi membuat Ayyara kembali mengernyitkan dahinya.


"sayang, apa kita mau ke Karawang?" tanya Ayyara penasaran. Ia menatap Gama dengan tatapan yang sangat menginginkan jawaban. Dia sungguh-sungguh ingin tau.


"tunggu saja sebentar lagi. Aku sudah menyiapkan kejutan lain untukmu.." seloroh Gama tanpa menoleh kearah istrinya. Netranya tetap fokus ke arah jalan raya yang mulai padat. Karna ini bertepatan dengan jam pulang kantor.


Setelah hampir setengah jam berkutat dengan kemacetan, kini Gama membelokkan mobilnya ke sebuah taman pemakaman yang terkenal dengan fasilitas mewahnya. Karna pemakaman ini merupakan pemakaman elit.


"ayo, turun." Ajak Gama setelah dia berhasil memarkirkan mobilnya.


Tanpa banyak bicara, Ayyara mengikuti Gama turun dari mobil. Dia mengimpan beribu pertanyaan di dalam benaknya. Tapi seolah tau kalau Gama tidak akan menjawabnya semudah itu, jadi dia memutuskan untuk diam dan mengikuti langkah suaminya itu.

__ADS_1


Setelah bejalan cukup jauh dari tempat parkir, kini mereka memasuki area Muslim Garden.


Gama terus saja menggandeng tangan Ayyara. Padahal Ayyara tidak mungkin akan tersesat disana kan.?


"sudah sampai..." kata Gama saat mereka berhenti di depan dua buah makam yang bersebelahan.


Ayyara memperhatikan makam yang ada dihadapannya. Dia membaca nama yang tertera disana.


"sayang?! Apa ini?" tanya Ayyara yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya demi mendapati nama kedua orang tuanya tertera di masing-masing makam itu.


"kejutan. Hehehe.. Maaf aku tidak memberutahumu sebelumnya. Aku sudah memindahkan kesini." jelas Gama.


Gama merencanakan pemindahan makam kedua mertuanya sejak dua minggu yang lalu. Sebelumnya kedua orang tua Ayyara dimakamkan di pemakaman umum biasa di sekitar perumahan tempat tinggal mereka.


Ayyara tidak bisa menahan laju air matanya. Ia menghambur kepelukan suaminya dan langsung tersedu.


"berhentilah membuatku terkejut sayang." selorohnya tanpa bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.


Gama hanya menanggapinya, lagi-lagi dengan tersenyum. Sambil mengusap lembut rambut istrinya.


Begitu juga dengan Gama. Ia mengambil gilirannya setelah Ayyara selesai.


Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu disana sebelum akhirnya mereka beranjak dan kembali ke mobil.


"teimakasih banyak sayang." Ujar Ayyara saat mereka sudah berada didalam mobil.


"sama-sama.." jawab Gama. Pria itu benar-benar tidak bisa menghentikan bibirnya untuk tersenyum.


"dan sekarang, Menuju destinasi kedua." ujarnya kemudian.


"destinasi kedua?" tanya Ayyara menatapnya heran.


"kan sudah ku bilang aku akan mengajakmu berkencan." kata Gama sambil mulai melajukan mobilnya. Ia sempat menoleh sebentar kepada Ayyara yang masih menatapnya dengan heran.


"kau tidak berfikir kalau kencan kita disini kan? Di pemakaman? Ahahahahhaha." Gama tidak bisa menahan tawanya. Ia menoleh dan mendapati Ayyara masih berkutat dengan wajah seriusnya.


Sebenarnya Ayyara memang berfikir seperti itu. Demi apa dia malu setengah mati.

__ADS_1


"kau benar-benar berfikir seperti itu? Astaga! Sayang. Yang benar saja. Hahahahaha."


"huh.!"


Plak.!


Ayyara tidak bisa menahan diri untuk tidak memukul lengan suaminya. Dia benar-benar merasa dikerjai.


Ayyara tidak bisa menyalahkan Gama. Disini sudah jelas bahwa dia yang konyol dengan memikirkan hal aneh seperti itu. Dia fikir mungkin kencan versi Gama bisa saja di makam kan?


Demi apa Ayyara oleng.


Ayyara membuang wajahnya yang sudah semerah tomat ke samping. Dia sangat ingin menghilang saat itu juga. Sangat memalukan. Sangat, sangat, sangat memalukan. Dalam hati ia memohon semoga saja ada alien yang tiba-tiba datang lantas menculiknya dan membawanya meninggalkan bumi.


Sedangkan Gama masih terdengar menikmati momen langka yang ajaib itu. Dia tidak bisa berhenti tertawa. Dia sama sekali tidak tau kalau Ayyara benar-benar berfikir kalau dia akan mengajak istrinya itu berkencan di pemakaman.


Ya kali mbak kunti yang jadi waitersnya.🤣


Ayyara masih mendengus kesal dengan wajah yang semakin terasa panas. Rasanya dia juga ingin mentertawai dirinya sendiri. Berkali-kali dia memukuli kepalanya dengan pelan. Mengutuki kekonyolannya sendiri.


"berhentilah menertawakanku.!" teriak Ayyara. Telinganya sudah tidak tahan mendengar gelak tawa Gama terus menerus.


"sayang. Lihat aku. Hahahaha" Gama belum bisa berhenti tertawa. Demi membayangkan kencan di pemakaman seperti yang istrinya itu fikirkan.


Beberpa sosok hantu kini malah berseliweran di kepalanya sambil memegang nampan berisi makanan. Atau mas poci yang sedang memasak untuk mereka.


"hiks,, hiks,," tiba-tiba terdengar Ayyara sedang terisak.


"sayang. Kok menangis?" tanya Gama sontak menghentikan tawanya.


Ayyara sudah kalah malu. Dia tidak tau harus bersikap seperti apa. Rasa panas di wajahnya tidak kunjung menghilang juga. Jadilah menangis menjadi jalan ninjanya. Berharap Gama mau menghentikan tawanya yang terdengar sangat mengejek.


Walaupun dia tau Gama tidak mungkin mengejeknya. Pria itu hanya tertawa spontan demi mengetahui apa yang ada difikirannya. Dan itu berhasil. Tentu saja.


"maafkan aku, sayang. Baiklah. Aku tidak akan menertawakanmu lagi. Janji." ujar Gama sambil mengacungkan jari kelingkingnya kepada Ayyara.


Merasa sudah berhasil mengendalikan suasana yang menyebalkan itu, Ayyara perlahan meraih jari kelingking Gama dan menautkannya di jari kelingkingnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2