
Gama memilih untuk memindahkan Ayyara ke kamarnya yang ada disebelah kamar Ayyara. karna kasur Ayyara juga basah. ia membaringkan gadis itu diranjangnya, kemudian menyelimutinya dengan rapat. ia duduk di tepian ranjang, kedua tangannya menyentuh pipi Ayyara, terasa sangat dingin.
"panggilkan dokter Wulan." perintah Gama pada Arfan. yang mendengar perintah itu langsung melesat pergi.
tak lama kemudian Arfan kembali dengan membawa seorang dokter wanita. dokter itu langsung memeriksa Ayyara, memasang infus dan mengobati luka di kaki gadis itu. Wulan tak banyak bertanya, ia sudah mendengar rumor tentang pernikahan Gama. jadi dia memilih untuk diam saja.
"bagaimana dia?"
"sudah tidak apa-apa Tuan, dia cuma kedinginan saja. selebihnya dia baik-baik saja. tolong perhatikan infusnya, kalau sudah habis segera hubungi saya." pesan Wulan. kemudian ia pamit pulang. ia sama sekali tak penasaran tentang apa yang terjadi dengan pasiennya itu, ia tak tertarik dengan kehidupan pribadi keluarga yang ia layani.
Gama masih terus memandangi Ayyara. ada rasa bersalah dihatinya. kenapa selalu saja terjadi sesuatu saat ia tak ada disamping Ayyara?
Gama memilih berbaring di sofa. ia tak ingin mengganggu tidur Ayyara. baru saja ia hendak memejamkan matanya, ia mendengar Ayyara merintih. gadis itu menggigil kedinginan. sontak Gama langsung terbangun kembali dan menghampiri Ayyara. ia menggenggam kuat tangan Ayyara sambil mengusap-usapnya berharap bisa mengurangi rasa dinginnya.
...****************...
__ADS_1
perlahan Ayyara berusaha membuka matanya. diluar sudah sangat terang, sepertinya sudah siang. dia tertidur cukup lama.
Ayyara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang terasa asing baginya. bahkan ia melirik infus yang terpasang di tangannya. dimana aku? batinnya. ini bukan kamarnya. dimana dia?
samar-samar ia merasakan sesuatu yang berat yang sedang menindih perutnya. punggungnya juga terasa sangat hangat. ia menyentuh benda yang melingkar di pinggangnya itu. apa ini? seperti sebuah tangan? batinnya. perlahan ia membalikkan badannya dan mendapati Gama yang sedang tertidur pulas dengan bertelanjang dada. wajah mereka saling berhadapan. membuat Ayyara membeku sesaat.
apa mereka tidur bersama semalam??!
hal yang pertama kali Ayyara lakukan adalah mengintip tubuhnya di balik selimut. kemudian ia bernafas lega saat tau kalau ia maaih memakai pakaiannya.
tunggu dulu? siapa yang mengganti pakaianku? batin Ayyara. ia masih mengingat dengan jelas saat Gama datang menjemputnya semalam. tapi setelah itu ia tak mengingat apapun lagi. Ayyara mencoba menenangkan dirinya. mengusir berbagai fikiran kotor yang sempat mampir di otaknya tanpa permisi. perlahan ia menyingkirkan tangan Gama yang melingkar di perutnya. ia mengangkatnya dengan hati-hati.
bukankah tadi ia tertidur pulas? kenapa bisa langsung bangun begitu? batin Ayyara.
"apa kau yang membawaku kesini? apa ini kamarmu?" tanya Ayyara.
__ADS_1
"ya, ini kamarku. apa kau perlu sesuatu? biar aku ambilkan. kau perlu apa?" tanya Gama lagi.
Ayyara tak berani melihat Gama. dada bidang pria itu membuatnya sulit bernafas dan detak jantungnya menjadi tak beraturan.
"jadi semalaman kita tidur bersama?!"
"kenapa? kau terus menggigil kedinginan, jadi kupeluk saja sampai kau merasa hangat dan tidak menggigil lagi." Gama menjawabnya dengan santai. ia tak merasa bersalah karna sudah memeluk Ayyara tanpa seijin gadis itu.
"walaupun begitu. kau tak bisa memelukku seenaknya." dengus Ayyara kesal. padahal didalam hati senangnya luar biasa.
"kenapa memangnya? aku adalah suamimu sekarang. dan aku berhak atas tubuh itu."
jleb.! Ayyara tak berani menjawab.
Gama turun dari ranjang dan menghampiri Ayyara di sisi ranjang sebelah. ia berjongkok di hadapan Ayyara dan menatap lekat netra gadis itu.
__ADS_1
"Yara.. mulai saat ini, aku akan melakukan apapun yang kuinginkan. aku akan mendekatimu saat aku mau. aku akan memelukmu saat aku ingin. dan aku juga akan tidur denganmu dan memelukmu semalaman. aku tidak akan lagi memberi batasan pada diriku sendiri. aku sangat mengkhawatirkanmu. aku tak bisa melihatmu terluka. aku tidak bisa lagi berpura-pura tidak menyukaimu." kata-kata itu lancar jaya keluar dari mulut Gama. Ayyara hanya terdiam mendengarnya dan terus menatap netra Gama yang dipenuhi ketulusan.
"Yara... aku mencintaimu..."