
"perketat keamanan. tambahkan beberapa pengawal lagi untuk menjaga Nona." perintah Gama kepada kepala securitynya, Toni. "kau jangan sampai lengah. kita tidak tau rencana apalagi yang akan dijalankan wanita itu."
saat ini Gama sedang memberi instruksi kepada Toni dan anak buahnya, berserta Arfan di ruang kerja di lantai 1 rumahnya. ada ketegasan di mata Gama.
"tuan, sebaiknya nona Yara tinggal di rumah Nyonya dan Tuan besar saja selama anda pergi. disana bisa menjamin keamanannya." kata Arfan memberi saran. Gama nampak berfikir sebentar. sepertinya ide Arfan boleh juga. tapi, apakah Ayyara mau tinggal dirumah orang tua Gama?
"tapi bagaimana cara membujuknya? dia tidak akan mau, hal itu bisa membuat sandiwara kami terbongkar." ucap Gama ragu. Toni yang mendengar kata 'sandiwara' nampak mengerutkan dahinya.
"tapi keamanan Nona adalah yang paling penting tuan." timpal Toni. Gama nampak manggut-manggut sambil memegang dagunya.
"sebaiknya anda jujur dan memberitahu yang sebenarnya kepada Nona."
"baiklah. aku akan coba berbicara dengannya."
hampir semalaman mereka membahas hal itu. Gama sangat menyadari kalau Ayyara sedang berada dalam bahaya karna dirinya. Maya bukan wanita yang bisa diremehkan begitu saja. wanita itu penuh dengan muslihat untuk mencapai tujuannya. Gama merasa bersalah karna harus melibatkan Ayyara dalam kehidupannya.
kalau saja ia tak meminta Ayyara untuk menjadi istrinya, tentu Ayyara akan hidup bahagia sendiri. tapi karna dirinya, Ayyara sampai harus berurusan dengan si wanita ular, Maya. kejadian hari ini belum apa-apa. Maya bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini. tiba-tiba perasaan khawatir menyergap hati Gama.
saat sudah hampir subuh, rencana mereka sudah rampung. Arfan meminta ijin untuk pulang. dalam hati ia menggerutu, katanya ia disuruh menginap, tapi ia bahkan tak bisa memejamkan matanya sedikitpun. apanya yang menginap?
......***********......
Gama memicingkan matanya. cahaya silau menembus jendela kamarnya. matanya masih terasa berat, tapi ponselnya terus saja berbunyi. memaksa dirinya untuk membuka mata.
__ADS_1
telfon dari Mama. Gama segera mengangkatnya.
"ya Ma?"
"........."
"benarkah?"
"............."
"baiklah, Nyonya Gundala." kata Gama mengakhiri telfonnya. dengan malas ia memaksa dirinya untuk bangun. dia masih benar-benar mengantuk.
tok,, tok,, tok,, terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya. dengan perasaan malas, Gama menyeret kakinya untuk membuka pintu. ternyata sudah ada Ayyara yang sedang berdiri didepan kamarnya.
"aku baru saja tertidur. pekerjaanku banyak sekali tadi malam. jadi aku bergadang untuk menyelesaikannya." jelas Gama dengan suara malas.
"oh,, baiklah. aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan. lanjutkan saja tidurmu. aku harus pergi ke kantor." kata Ayyara.
entah mengapa saat mendengar Ayyara hendak pergi, mata Gama langsung terbelalak. rasa kantuknya seketika hilang.
"kau mau pergi?" tanya Gama kemudian.
"ya, ini hari senin, tentu saja aku harus pergi bekerja."
__ADS_1
"tidak bisakah kau dirumah saja hari ini?"
deg.!
"apa maksudmu? kenapa aku harus dirumah? aku sedang banyak pekerjaan."
"o,, eh,, aku takut kau akan bertemu dengan Maya lagi." elak Gama menyembunyikan sikap salah tingkahnya.
"aku tidak takut dengannya. sama sekali. yasudah, aku harus pergi." kata ayyara langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Gama yang masih termangu di depan pintu.
"hei.. tunggu dulu.!" teriak Gama berlari menyusul Ayyara yang sudah berada dipertengahan tangga.
"ada apa?"
"nanti malam, aku harus pergi ke negara L untuk urusan pekerjaan. selama aku tidak dirumah, maukah kau menginap dirumah orang tuaku?" tanya Gama memberanikan diri.
"aku berani kok sendirian dirumah. kau tak perlu khawatir." kata Ayyara. ia seperti bisa membaca raut kegelisahan di wajah Gama.
"anu,, Mama baru saja menelfon. dia memintamu membantunya memasak. besok akan ada acara arisan dirumah, jadi Mama butuh bantuan." jelas Gama lagi. dalam hati ia merasa sangat lega. mama menelfon di waktu yang sangat tepat.
Ayyara nampak berfikir sejenak. ia tak ingin datang, tapi ia merasa tak enak. biar bagaimanapun, ia adalah menantu bagi kedua orang tua Gama.
"baiklah... sepulang kerja aku akan langsung kesana" jawab Ayyara tak tega melihat wajah memelas Gama.
__ADS_1
"tidak perlu, aku akan menjemputmu di kantor nanti. aku akan berangkat setelah mengantarmu ke rumah orang tuaku." kekeuh Gama. Ayyara tak punya pilihan lain. ia terpaksa menyetujui ide Gama. tapi dengan syarat Gama harus menunggunya di basement tempat parkir.