
“Sayang..!! Cepatlah.! Nanti kita terlambat.!” Teriak Gama
dari luar kamar mandi.
Sudah hampir satu jam Ayyara berada didalam kamar mandi, dan
istrinya itu belum keluar juga.
“Sayang.! Ada yang tidak beres dengan perutku.” Lirih Ayyara
dari dalam kamar mandi. Dia keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang
pucat pasi.
“Kamu kenapa?!” Tanya Gama dengan wajah yang langsung
khawatir.
“Entahlah. Perutku tidak nyaman.”
Dengan sigap Gama menggendong istrinya itu dan membaringkannya
di ranjang.
“Tunggu sebentar. Aku akan memanggilkan dokter Wulan.”
“Tidak usah. Oleskan minyak kayu putih saja.” Pinta Ayyara
kemudian.
Gama menuruti. Iapun segera mengambil botol minyak kayu
putih dari dalam laci dan mengoleskannya ke bagian perut dan pinggang Ayyara.
“Anak-anak sudah pergi?” Tanya Ayyara ditengah rintihannya.
“Sudah, baru saja.”
“Bagaimana ini? Padahal kita harus ke acara turun tanah anak
Arfan dan Dewi.”
“Tidak perlu memikirkan itu. Aku akan menelfon Arfan untuk
mengabari kalau kita tidak bisa datang.” Jelas Gama lagi.
“Aku jadi tidak enak. Mereka pasti kecewa.” Kata Ayyara
dengan raut wajah yag pias.
“Hei, tidak perlu memikirkan itu.”
Dan Gamapun mendaratkan ritualnya di dahi, mata dan bibir
istrinya dengan mesra.
Dan anehnya, rasa sakit di perut Ayyara perlahan mulai
mereda. Dan satu jam kemudian bahkan sudah tidak sakit sama sekali. Membuat
Gama menggeleng heran saja.
“hahahaha. Ternyata kecupanku adalah obat paling mujarab
ya..” Seloroh Gama dengan terkekeh. Membuat wajah Ayyara memerah karna malu.
Seolah sakitnya itu hanya dibuat-buat saja.
Bahkan saat mereka sudah didalam mobil dan sedang menuju ke
kediaman Arfan dan Dewi pun, Gama masih saja terkekeh. Drama pagi yang aneh.
__ADS_1
Sementara Ayyara sudah kalah malu. Ia hanya mengatupkan
bibirnya rapat-rapat dengan sesekali melirik tajam kearah suami yang duduk
disampingnya itu. Dia sudah kalah malu.
Gama menyadari, jika ia terus tertawa seperti itu, itu akan
menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Bisa-bisa nanti malam tidak dapat jatah
dari istrinya. Dan Gama tidak mau hal itu terjadi.
Dengan lembut Gama menarik tubuh istrinya dan
menyandarkannya di dadanya. Mengusap lembut kepala istrinya.
“Maaf, aku tidak bermaksud menertawakanmu. Maaf kalau aku
membuatmu tersinggung.” Ucap Gama lirih.
Ayyara tidak tau, kalau Gama sedang menahan senyum di atas
kepalanya. Kegeliannya tidak bisa hilang begitu saja.
“Kita mampir ke toko dulu ya, beli hadiah buat dedek kecil.”
Pinta Ayyara kepada Gama.
“Fadil, kau dengar itu?”
“Iya tuan.”Jawab Fadil dengan sigap. Kemudian mengarahkan
mobil ke sebuah toko langganan Ayyara.
Setelah selesai membeli kado, merekapun langsung meluncur ke
kediaman Arfan dan Dewi.
keluarga Arfan dan Dewi. Mereka semua tau tentang kebaikan yang selalu
diberikan oleh Gama dan Ayyara kepada Arfan dan Dewi. Dan sekarang mereka tau
kalau Gama merupakan pebisnis yang sangat menghargai karyawannya.
Ayyara langsung saja menghampiri Dewi yang sedang
menggendong putri kecilnya. Memberi selamat atas kelahiran anak pertama mereka.
Dan tidak lupa menyerahkan bungkusan kado yang sudah dibelinya tadi.
“Trimakasih banyak Yara,” ujar Dewi dengan tatapan bahagia.
“Sama-sama. Selamat datang didunia emak-emak,,hehehe”
seloroh Ayyara.
Gama yang sedang berbincang dengan Arfan melirik kearah Ayyara
dan Dewi, kemudian iapun berinisiatif untuk menghampiri istrinya dan ikut
berbincang-bincang bersama mereka.
Acaranya sangat meriah. Hampir semua keluarga besar dari Arfan
dan Dewi datang. Ayyara merasa sangat senang bisa berada di keramaian seperti
itu. Mereka sangat hangat. Mereka juga selalu bersikap ramah kepada Ayyara.
Kadang Ayyara merasa risih saat mereka memperlakukan Ayyara seperti tamu
kehormatan saja.
__ADS_1
Ayyara sempat merasa trenyuh saat melihat Gama menggendong
anak Arfan dan Dewi. Tiba-tiba hatinya merasa sedih. Ia teringat dengn kedua
anaknya, yang waktu kecil tidak pernah
merasakan hangatnya dekapan Gama. Itu karna kebodohan dan keegoisannya sendiri.
Gama menebarkan senyuman mempesona kepada istrinya. Ayyara tidak
mengerti, kalau senyuman itu merupakan sebuah kode dari Gama.
Gama dan Ayyara pulang tidak sampai menunggu acara berakhir.
Karna Gama masih khawatir kalau-kalau Ayyara belum pulih benar. Gama sangat tau
sifat istrinya itu. Ayyara mungkin sedang menahan sakit karna tidak enak jika tidak
datang keacara itu.
“Sayang, kamu tampan sekali tadi saat menggendong anak Arfan.”
Puji Ayyara jujur saat mereka sudah sampai dirumah. Membuat Gama jadi salah
tingkah saja.
“Benarkah?” Tanya Gama dengan tatapan menggoda. Diselingi
dengan senyum jahil di bibir seksinya.
Karna pancingan Ayyara, jadilah Gama cepat-cepat menarik
istrinya itu masuk kedalam kamar.Ia harus merealisasikan otaknya yang sudah
traveling lebih dulu.
“Sayang. Kenapa sih?!” Tanya Ayyara masih belum mengerti
jika Gama sedang ‘lapar’. Ia bingung kenapa Gama menariknya seperti itu.
“Ayo kita buatkan adik untuk Ana dan Jun..” Seloroh Gama dengan
kerlingan menggodanya.
“Ha? Mereka kan masih kecil sayang.” Tolak Ayyara dengan
halus.
“Tidak apa-apa. Biar
rumah ini tambah ramai.” Gama beralasan.
Tidak perlu menunggu persetujuan dari istrinya. Karna
senyuman Ayyara sudah cukup memberinya jawaban. Berkali-kali Gama mendaratkan
kecupan hangat di seluruh wajah istrinya. Entah kenapa, semakin hari, rasa cintanya
semakin bertambah. Ayyara adalah istri paling sempurna dimatanya. Dan sampai
kapanpun dia tidak akan pernah menyia-nyiakan Ayyara atau membuatnya bersedih.
***
yuhuuu,, ada yang kangen sama mereka? nih Mak kasih obatnya. jadilah ya,, walau cuma sedikit.
Mak mau tanya nih, kira-kira perlu gak kita buat Diperistri Tuan Muda Season 2??
hehehehehe,,,
lope,, lope,, lope,, buat kalian semua.
__ADS_1