
Ayyara masih terpaku memandangi wajah pria yang kini berdiri dihadapannya. Wajah pria yang setiap malam ia pandangi fotonya. Pria yang masih bercokol di hatinya sampai detik ini. pria yang bahkan suara nafasnya pun masih bisa ia rasakan.
"Gama.. Bagaimana bisa.. Bagaimana..." Ayyara tidak mampu meneruskan kata-katanya. Yang jelas hatinya yang sudah dipenuhi kerinduan itu kini merasa sangat bahagia. Ia tidak peduli jika ini mimpi atau bukan. Yang penting, ia bisa menatap wajah pria itu lekat.
Air matanya mengalir deras saat kedua tangan Gama memegang pipinya dan menatap lekat wajahnya. Sentuhan itu, bahkan setelah 4 tahun berlalu, ia masih bisa mengingat lembutnya sentuhan itu.
"aku menemukanmu." ucap Gama lirih seraya menarik tubuh wanitanya itu kedalam pelukannya. "aku sangat merindukanmu, Yara. Aku sangat merindukanmu." Gama juga tidak bisa menahan laju air matanya lagi. Ia tergugu sambil memeluk Ayyara.
Untuk sesaat, Ayyara lupa perihal Ana. Hatinya tengah diselubungi kebahagiaan. Pelukan Gama yang terasa nyata menyadarkan dia kalau itu semua bukanlah mimpi. Melainkan pria itu benar-benar ada dihadapannya.
"hua..! Hua..!" terdengar tangisan Ana dari dalam mobil. Membuat semua orang tersadar kalau mereka tengah mencari Ana.
"Ana.!" teriak Gama dan Ayyara bersamaan.
Gama segera berjalan ke mobilnya dan membuka pintu mobilnya. Disana, Ana kecil sudah terbangun. Ia mengusap-usap matanya dengan punggung tangannya.
"Ana.!" teriak Ayyara yang langsung berlari menghampiri putri kecilnya itu.
Jun yang juga masih di dalam gendongan Ayyara sudah terbangun sejak Gama memeluk Mamanya pertama tadi. Ia sudah tidak mengantuk karna terganggu dengan keributan itu.
"Mama.! Hua.! Hua.!" teriak Ana yang semakin keras menangis. Ia mengulurkan kedua tangannya meminta di gendong oleh Ayyara.
Ayyara memberikan Jun kepada Riski dan kemudian beralih menggendong Ana untuk menenangkannya. Awalnya Gama yang ingin menggendong Jun, tapi putranya itu tidak mau di gendong oleh orang asing. Ia lebih memilih di gendong oleh Riski. Dan hal itu membuat hati Gama sedikit merasa sakit dan cemburu.
"kak Yara, siapa dia?" akhirnya Riski memberanikan membuka suara. Ia menunjuk Gama dengan dagunya.
"dia..." jawab Ayyara ragu.
__ADS_1
"aku suami Yara. Dan ayah dari Ana dan Jun."
Jawaban itu sontak membuat semua orang saling pandang. Termasuk Risma dan kedua orang tuanya yang baru saja bergabung. Kemudian mereka kompak menatap Ayyara dengan tatapan menuntut jawaban.
"Yara?" tanya Ama Rusli dengan pandangan yang masih menuntut.
"eh.. Emmm.. Iya, dia memang ayah Ana dan Jun. Dia Gama, suamiku." Jelas Ayyara takut-takut.
Entah, masih pantaskah dia menyebut Gama sebagai suaminya? Setelah apa yang ia perbuat kepada pria itu? Setelah dengan egoisnya ia meninggalkan Gama begitu saja?
"apa maksudmu Yara" tanya Ine.
"dia suamiku Ne,"
"tapi kau bilang kalau dia sudah meninggalkanmu. Lantas apa ini?" tanya Ine yang masih belum mengerti. Melihat dari ekpsresi wajah Gama yang nampak sangat bahagia bertemu dengan Ayyara, ia bisa menyimpulkan kalau Gama tidak meninggalkan Ayyara.
"maafkan aku Ine, Ama. Sebenarnya aku yang meninggalkannya." jelas Ayyara dengan suara lirih. Ia menundukkan wajahnya karna merasa malu.
Kini mereka sudah berada di cafe. Hanya tinggal Ama Rusli, Ine, Risma dan Riski. Si kembar sudah di tidurkan di sofa yang ada disana.
Ama Rusli menatap tajam kepada Gama dan Ayyara yang duduk di hadapannya. Tatapannya seperti menginginkan jawaban lebih dari mereka. Biar bagaimanapun, Ayyara dan kedua anaknya berada di bawah tanggung jawabnya. Ia tidak bisa serta merta mempercayai seorang pria yang tiba-tiba datang dan mengaku-ngaku sebagai suami Ayyara. Walaupun Ayyara juga sudah mengakuinya.
"aku tidak akan bertanya kisah apa yang sudah kalian alami sampai berpisah. Aku hanya ingin bertanya, kamu," kata Ama Rusli menatap tegas kepada Gama. "kenapa kau membiarkan istrimu pergi dalam keadaan mengandung? Kalau bukan kau yang meninggalkan Yara, lantas apa saja yang kau lakukan selama ini? Kenapa tidak mencari Yara?"
"saya bukan tidak mencarinya Pak. Saya bahkan sudah berkeliling ke seluruh penjuru negeri untuk menemukannya. Tapi semua itu tidak pernah membuahkan hasil." jelas Gama kemudian.
Ama Rusli terus melihat Gama dengan tatapan menyelidik. Berusaha mencari kejujuran disana.
__ADS_1
"Ama. Ini semua salahku. Aku yang dengan egois memutuskan untuk meninggalkannya. Dia sama sekali tidak bersalah." bela Ayyara. Ia sadar, selama ini Ama Rusli sudah menjadi orang tua baginya. Ama dan Ine lah yang sudah merawat dan menjaganya. Mengurusnya saat ia melahirkan, dan ikut menjaga si kembar jika ia sibuk bekerja.
Ama Rusli hanya menarik nafas perlahan mendengar penjelasan Ayyara.
Setelah berbincang-bincang ringan untuk menghilangkan kecanggungan, Ama Rusli dan keluarganya pamit pulang. Meninggalkan Ayyara dan Gama yang masih saling membeku walaupun berdiri bersebelahan.
Setelah mengantarkan Ama Rusli sampai di depan cafe, Ayyara sempat melirik sekilas ke arah Gama. Ia masih merasa canggung untuk memulai pembicaraan. Akhirnya ia memilih untuk berbalik dan berjalan menghampiri si Kembar yang masih terlelap disofa.
Tapi tiba-tiba sebuah pelukan hangat kembali menempel dipunggungnya. Gama memeluknya dari belakang. Pria itu sampai memejamkan mata demi menikmati perasaan bahagia itu.
"aku sangat merindukanmu." bisiknya di telinga Ayyara. Yang membuat hatinya berdesir.
Gama kemudian memutar tubuh Ayyara agar dia bisa menatap wajah yang sangat dirindukannya itu dengan leluasa. Ia menatap netra Ayyara dalam.
"maafkan aku." akhirnya terucap juga kata-kata itu dari mulut Ayyara. "aku tidak be...."
"sssttt. Sudah. Jangan meminta maaf. Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang kita alami di masa lalu. Yang terpenting bagiku sekarang adalah aku sudah menemukanmu. Itu sudah lebih dari cukup." jelas Gama. Tatapannya masih berkaca-kaca.
"tapi aku sudah menyakitimu."
"aku yakin kau pasti juga merasakan rasa sakit yang sama."
"aku tau aku egois. Aku terlalu takut dengan ancaman bodoh Maya. Seharusnya aku memberitahumu semuanya."
"Yara, aku hanya memintamu untuk mempercayaiku. Apa begitu sulit.? Aku pasti akan melindungimu dan anak-anak kita. Kenapa kau tidak percaya padaku?" tanya Gama semakin memperdalam tatapannya.
"maafkan aku karna sudah meragukanmu. Aku terlalu bodoh. Hiks,, hiks,," Ayyara mulai terisak. Dan hal itu membuat Gama kembali merengkuh Ayyara kedalam pelukannya.
__ADS_1
"mulai saat ini, jangan pernah meragukanku lagi. Ya." kata Gama sambil mengusap lembut rambut Ayyara. Ada perasaan lega dan bahagia di hatinya.
Ayyara hanya mengangguk dengan wajah yang masih tenggelam di dada Gama. Ia terus menumpahkan airmatanya. Entah air mata bahagia, atau air mata penyesalan yang keluar itu. Tapi yang jelas, Ia berjanji dalam hati, bahwa ia tidak akan menghianati Gama dan akan terus mempercayai pria itu. Dia tidak akan bersikap egois dan bodoh lagi. Yang hanya akan membuat hati mereka terluka karna kebodohannya.