
Kapal feri yang membawa Ayyara menyeberangi lautan dari pelabuhan merak, Banten itu sudah hampir berlabuh di bakauheni, lampung selatan. Hari sudah hampir pagi. Ia bisa melihat matahari yang mulai berani menampakkan diri di ufuk timur.
Ia menarik nafas panjang saat semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Begitu juga dengan dirinya. Ia berjalan di antara deretan orang-orang yang menuruni tangga yang lebarnya hanya cukup untuk satu orang itu dengan hati-hati.
Sesampainya di bawah, dia segera mencari bus yang ditumpanginya. Bus yang akan membawanya menapaki jalanan lintas sumatera.
Sambil memegangi perutnya yang belum membuncit, Ayyara mulai masuk ke dalam bus nya. Ia kembali duduk di kursinya yang ada tepat di belakang supir.
Perjalanan ini adalah perjalanan yang panjang. Dimana dia akan menempuh waktu sekitar 3 hari 4 malam untuk sampai di tempat tujuannya. Di sebuah kota kecil asal sang nenek dari pihak papanya..
Kenapa ia memilih menaiki bus daripada pesawat? Karna kalau dia naik pesawat Gama akan dengan mudah melacaknya. Pengaruh pria itu tidak main-main.
Perjalanan yang sangat melelahkan. Dan setelah 3 hari 4 malam berada di dalam bus, akhirnya Ayyara tiba di tempat tujuannya. Kota kecil penghasil kopi Gayo yang cuacanya sangat dingin, di provinsi Aceh. Ya, Ayyara kini sudah menginjakkan kaki di sebuah kabupaten bernama Bener Meriah.
Dulu ia pernah kesini bersama dengan kedua orang tuanya. Saat berumur sekitar sepuluh tahun. Dia tidak ingat tepatnya. Tapi dia masih ingat nama kampungnya.
Dengan hanya bermodalkan nama kampung dan nama adik dari sang nenek, Ayyara nekat mendatangi kota asing ini. Berharap keluarga itu akan menerimanya dengan tangan terbuka. Sebab ia tidak tau harus kemana.
Udara pagi yang super dingin meresap sampai ke tulang-tulangnya. Ia bergidik sesaat mengusir hawa dingin itu.
Tubuh nya masih sempoyongan. Berada di dalam bus selama berhari-hari akan meninggalkan efek terhuyung, bahkan saat sudah turun dari bus masih akan terasa seperti sedang berada didalamnya.
Ayyara merasakan sedikit mual. Kepalanya agak pusing. Ia terhuyung sampai hampir terjerembab ke aspal. Untung seseorang segera menangkapnya.
"kakak tidak apa-apa?" tanya seorang Gadis berhijab sambil menuntun Ayyara untuk duduk di sebuah kursi yang ada si warung di sebelah loket.
"saya tidak apa-apa. Teimakasih banyak."
"bang. Pesan teh hangat satu ya." pesan gadis itu kepada si penjual. dengan segera segelas teh hangat sudah tersaji di hadapannya.
"minum dulu kak. Wajah kakak pucat sekali." gadis itu menyodorkan teh hangat kepada Ayyara.
Dengan perasaan tidak enak, Ayyara tetap menyeruput minuman itu. ia sangat membutuhkannya. "trimakasih."
Setelah beberapa saat, Ayyara mulai merasa tenang.
"kakak dari mana?" tanya gadis itu.
__ADS_1
"Saya dari jakarta."
"oo.. Pantas saja. naik bus dari jakarta?" tanya si gadis dengan tatapan tidak percaya. Tapi ia langsung membelalakkan mata saat melihat Ayyara menganggukan kepalanya.
"wahh.. Apa tidak lelah naik bus berhari-hari?"
"ya, lumayan. Bo**ng saya yang lumayan terasa panas. Karna duduk berhari-hari." jelas Ayyara sambil malu-malu.
"kakak mau kemana?" tanya gadis itu lagi.
"ke kampung S, apa masih jauh dari sini?" tanya Ayyara lagi.
"tidak jauh kak, paling hanya sekitar 15 menit naik ojek. Kakak ada saudara disana? Kebetulan saya juga rumahnya di sana. Saya bisa membantu karna saya mengenal semua orang di kampung itu."
Sebuah kebetulan kalau gadis penjaga loket itu ternyata berasal dari kampung tujuannya.
"saya akan merasa sangat berterimakasih. Saya ingin mengunjungi sanak saudara disana. Namanya kakek Erwin. Apa kau mengenalnya?"
"Kakek Erwin? Tentu saja saya mengenalnya. Beliau adalah kakek saya." jawab gadis itu terkejut.
Ayyara tak kalah terkejut. Lagi, sebuah kebetulan yang sangat ia syukuri.
"iya. Aku Ayyara, cucu kakek Surya. Anak dari Pak Hadi." jelas Ayyara kemudian.
"jadi kakak ini kak Yara? Yampun kak.. Apa kakak tidak mengenalku? Aku Risma." jelas gadis itu berapi-api.
Ayyara mencoba mengingat-ingat siapa itu Risma.
"8 tahun lalu aku pernah ke jakarta bersama kedua orang tuaku dan menginap di rumah kakak. Apa kakak masih belum ingat?"
Samar Ayyara bisa mengingatnya. Gadis kecil yang dulu pernah datang ke rumahnya Saat ia masih duduk di bangku SMA. Gadis kecil yang lincah dan cerewet.
Risma, Ayyara mungkin tidak mengingatnya. Karna kedatangan gadis itu dan keluarganya bukanlah hal yang istimewa baginya. Tapi tidak bagi Risma. Berkunjung ke jakarta adalah suatu pengalaman yang luar biasa yang tidak pernah dia lupakan. Bahkan sampai sekarang dia masih teringat detail-detail kecil tentang perjalannya itu.
"ya ampun kak Yara.." Risma menghambur ke pelukan Ayyara yang masih berusaha mengingat-ingat. "ayo kita pulang sekarang. Mereka pasti akan sangat senang sekali." ajak Risma bersemangat.
Risma kemudian berpamitan dan menitipkan loket kepada karyawannya dan segera meraih tas jinjing kecil milik Ayyara kemudian menaruhnya di motor maticnya. Ayyara hanya menurut saja. Ia pun ikut naik ke atas motor itu.
__ADS_1
Udara dingin semakin terasa menusuk-nusuk saat mereka berkendara di jalanan. Ayyara bahkan bisa melihat nafasnya yang berasap sangking dinginnya. sepanjang perjalanan, dia bisa melihat deretan perkebunan kopi yang sedang berbunga.
Risma membelokkan Motor maticnya ke sebuah rumah yang cukup besar. Dengan halaman yang super luas. Sepertinya keluarga Risma adalah orang yang cukup berada.
"Ama.!! Ine.!!" teriak Risma dengan suara yang menggelegar. "ayo masuk kak." ajak Risma kemudian.
"kamu ini pagi-pagi sudah berteriak-berteriak begitu. tidak malu didengar tetangga?" ucap seorang wanita paruh baya yang lebih muda dari Mama Ayyara.
"Ine (ibu). Lihatlah, siapa yang datang." kata Risma bersemangat.
"siapa itu.?" tanya seorang pria paruh baya yang sepertinya itu adalah ayah Risma.
"Ama (ayah), ini kak Yara Ama. Anaknya Om Hadi yang di jakarta."
"Yara? Ayyara?" tanya Ama dengan tatapan tidak percaya kearah Ayyara yang masih diam mematung
"iya..." jawab Ayyara canggung.
"ya ampun... Astaga.. Yara.. Dengan siapa kamu datang?" tanya Ine yang langsung menghambur memeluk Ayyara.
"saya sendirian." jawab Ayyara.
Selebihnya, Mereka tenggelam di dalam suasana haru biru.
Ayyara menceritakan semuanya saat keluarga Risma menanyakan tentang kedua orang tuanya. Mereka bahkan tidak mengetahui tentang kabar meninggalnya kedua orang tua Ayyara. Saat Ayyara memberitahu mereka, tangis mereka langsung pecah saat itu juga.
Mereka juga menanyakan apakah Ayyara sudah menikah atau belum. Ayyara menjawab bahwa dia sudah menikah, dan suaminya meninggalkannya. Dia terpaksa sedikit berbohong kepada keluarga itu.
Mendengar kisah pilu kehidupan Ayyara, membuat Risma dan ibunya kembali meneteskan air mata. Mereka merasa kasihan dengan Ayyara.
"sudah, jangan difikirkan lagi. Mulai sekarang tingggal disini saja dengan kami. Kami yang akan merawat dan menjagamu." ucap Ama yang ternyata adalah seorang kepala desa setempat.
Satu jam kemudian, rumah Ama Rusli sudah dipenuhi oleh para tetangga yang langsung datang begitu mendengar ada yang datang dari jakarta. Mereka menyambut hangat kedatangan Ayyara. Sebagian menyalami bahkan sampai menciumi Ayyara.
Beginikah suasana di kampung? Sangat menghangatkan. Batin Ayyara. Dia merasa seperti mendapatkan keluarga baru. Dan itu sedikit menghibur dan mengalihkan fikirannya tentang Gama.
Gama...
__ADS_1
dia sangat merindukan sosok pria itu.