Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Kembali Ke Villa.


__ADS_3

kaki Ayyara gemetar saat Gama mengulurkan tangan dan mengajaknya turun dari mobil. saat ini mereka sudah berdiri di depan Villa megah milik keluarga Gundala.


“tidak ap-apa.” Entah sudah berapa kalinya Gama mnyebutkan kalimat itu.


hufh..


Ayyara menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.


“Gama..!!!!” pekik Nyonya Gundala berlari dari dalam rumah. Tapi langkahnya tiba-tiba berhenti saat netranya menatap sosok wanita yang sedang berdiri di samping putranya. Wanita itu sedang menggendong seorang Anak kecil yag entah kenapa wajah bocah kecil itu terasa sangat familiar baginya.


“Ma...” sapa Gama.


“Yara?! benarkah ini kamu?” pekik Mama dengan suara lirih. seketika rasa rindunya terhadap Gama teralihkan oleh kehadiran Ayyara. Menantu yang sangat dirindukannya.


Nyonya Gundala berjalan perlahan mendekati Ayyara. Netranya bahkan tidak berkedip menatap menantunya itu. Ia melewati Gama begitu saja seolah tidak melihat bahwa Gama ada disana. Tapi entah megapa hal itu membuat Gama malah bahagia, bukannya sedih.


“Mama...” panggil Ayyara lirih. Air matanya sudah menggenang sejak tadi. Dan langsung tumpah saat wanita paruh baya itu memeluknya erat.


Keduanya terlarut dalam perasaan masing-masing. Ayyara dengan perasaan bersalahnya, sedangkan Nyonya Gundala dengan perasaan rindunya.


Pemandangan itu membuat Gama merasa trenyuh sekaligus bahagia. Dua wanita yang sangat dia cintai.


“Mama apa kabar?” tanya Ayyara saat Nyonya Gundala sudah melepaskan pelukannya.


“Kami baik-baik saja. Kami selalu merindukanmu. Kami tidak pernah putus berdoa agar dipertemukan denganmu lagi.” Ujar Nyonya Gundala. Kemudian pandangannya beralih kepada Jun yang masih mengeratkan pelukannya di leher Ayyara. Menatap aneh padanya.


“apa ini Cucu Mama?” tanya Nyonya Gundala lagi dengan wajah yang berbinar. Sedangkan Jun menatapnya dengan tatapan aneh.


“ini juga Ma.” timpal Gama.

__ADS_1


Nyonya Gundala langsung melihat ke arah Ana yang masih bergelayut di gendongan Gama. Rasa bahagianya langsung bertambah saat melihat gadis mungil itu. Sangking bahagianya, ia sampai tidak bisa kerkata-kata dan langsung menciumi Ana dan Jun. Ana diam saja, sementara Jun langsung menangis dengan sangat keras. Ia melap pipinya yang baru saja dicium oleh Nyonya Gundala dengan kasar.


Hal itu malah membuat Nyonya Gundala semakin gemas. Dia terus menciumi Jun walaupun bocah kecil itu terus menangis dan menolak untuk dicium.


“ayo, masuk.” ajak Nyonya Gundala dan diikuti oleh Gama dan Ayyara.


Plak.!


“au.!” pekik Gama pelan.


Sebuah pukulan mendarat di pundak Gama. Nembuat ia terkejut. Bahkan Ana yang dipangkuannya ikut terkejut.


“dasar Anak nakal. Bisa-bisanya tidak memberitahu kami? hah?” dengus Mama.


“maaf Ma, kami benercana memberi kejutan. Oh iya, Papa mmna ma?" tanya Gama. Karna sejak tadi dia belum melihat sosok Papanya.


“ya masih dikantor. Gara-gara kamu. seharusnya kan Papa sudah pensiun.” cibir Mama lagi


Nyonya Gundala melirik Jun yang sudah berhenti menangis. Tapi masih menatapnya dengan tatapan tidak suka. Kemudian pandangan Jun teralihkan oleh sebuah akuarium yang super besar yang berada di sudut ruangan dengan 2 ikan arwana raksasa sebagai penghuninya.


Mata Jun langsung nampak bersemangat dan perlahan melorot turun dari pangkuan Ayyara. kaki mungilnya berjalan mendekati akuarium dan langsung berdiri persisi di depannya. Ana yang melihat adiknya itu mendekati akuarium, ikut turun dari pangkuan Gama dan berjalan mendekati Jun. Mereka terpaku menatap ikan arwana raksasa yang baru pertama kali ini mereka lihat.


Dirumah, hanya ada akuarium kecil berukuran 50x20 cm dan hanya berisi ikan-ikan koi yang kecil-kecil yang bisa dibeli di pasar dengan harga 5000 an rupiah.


Ayara dan Gama jadi ikut tersenyum melihat keduanya. Mereka nampak sangat senang sekali melihat ikan itu.


Nyonya Gundala beralih tempat duduk di samping Ayyara. Kemudian tiba-tiba menggenggam tangan Ayyara dengan erat.


“trimakasih Yara, sudah kembali kepada kami dan kembali kepada Gama. Aku sangat bahagia. Dan terimakasih juga kamu telah melahirkan cucu-cucu yang cantik dan juga tampan untuk kami. Entah, bentuk terimakasih yang seperti apa yang harus ku berikan padamu.” ucap Nyonya Gundala lirih. Netranya berkaca-kaca menatap dalam kepada Ayyara.

__ADS_1


“Ma...” Ayyara tak mampu melanjutkan kalimatnya. Matanya ikut berkaca-kaca. “aku yang seharusnya minta maaf Ma. Maafkan aku karna sudah mengambil keputusan sepihak dengan egois tanpa memikirkan perasaan Mama dan Lapa.” ucap Ayyara kembali. Ia masih teringat dengan pelukan terakhir antara ia dan Nyonya Gundala terakhir kali. Saat dirumah sakit sesaat setelah kejadian kebakaran yang menghanguskan rumah sederhananya beserta figura kedua orang tuanya.


Ayyara tidak bisa lagi menahan laju air matanya yang kini sudah menganak sungai dipipinya. Begitu juga dengan Nyonya Gundala. Ia ikut menangis dan langsung memeluk Ayyara dengan erat.


Gama ikut terharu menyaksikan pemandangan yang sedang terjadi di depannya. Matanya juga jadi ikut berkaca-kaca. Bahkan sudah hampir menetes.


Kehadiran Ayyara benar-benar bisa merubah keluarganya. Yang semula merasa bersedih karna keterpurukannya akibat ditinggalkan oleh Ayyara, kini kembali berbahagia. Ia menatap trenyuh dua wanita yang paling dicintainya itu.


“Lom Papa..” panggil si Ana kecil menghampiri Gama. “mau itu...” ujarnya lagi sambil menunjuk ke arah meja yang berada diruang tv yang memang letaknya bersebelahan dengan ruang tamu dimana mereka berada saat ini. Ruangan itu hanya bersekat dinding kaca.


sontak Gama dan Ayyara dan juga Nyonya Gundala ikut menoleh kearah yang ditunjuk oleh Ana. Apel. Ada sekeranjang apel yang tergeletak di atas meja itu.


Gama langsung tertawa renyah dan segera mengambil apel itu dan menaruhnya diatas meja di ruang tamu.


Ana yang sangat menyukai apel pun langsung tertawa senang dan langsung mencomot satu buah apel dan langsung menggigitnya dengan mulut mungilnya yag jelas tidak cukup untuk dimasuki apel yang sebesar itu.


“Nun.!” panggilnya kepada Jun yang masih asyik mengajak bicara ikan arwana didalam akuarium.


Melihat Jun tidak menanggapinya, Ana berinisiatif mengambil satu buah apel lagi untuk diberikan kepada Jun.


“siapa nama mereka? mama sampai lupa.” seloroh Nyonya Gundala. Pantas saja ia tadi sempat mengernyingkan dahi saat Ana memanggil Jun dengan sebutan ‘Nun’.


“oh iya. Aku sampai lupa Ma. Yang perempuan Aryana Putri Gundala. kami biasa memanggilnya Ana dan yang laki-laki Arjuna Putra Gundala, dan sering dipanggil Jun.”


“ooo..” kata Nyonya Gundala. Dia sudah bisa mengartikan kata ’nun’ yang baru saja diucapkan oleh Ana. “apa mereka sudah dekat denganmu?” taya Nyonya Gundala mengalihkan pandangan kepada Gama.


“Ana sudah akrab denganku. Walaupun masih memanggilku dengan Oom Papa.” ucap Gama bangga. “ tapi Jun belum. Sepertinya dia sangat membenciku.” lirih Gama dengan nada suara sedikit kecewa. Ia menatap Jun dengan pandangan sayu.


“dia bukan membencimu sayang. Memang seperti itulah Jun. Dia introvert. Jarang bergaul. Dia sedikit takut dengan orang yang baru dia temui. Berbeda dengan Ana yang tidak takut dengan siapapun. Perlahan mereka pasti akan menerimamu. Nersabar ya..” jelas Ayyara.

__ADS_1


“iya nak. Wajar saja mereka begitu. Toh mereka memang tidak pernah melihatmu. Tidak pernah mengenalmu. Kedatanganmu yang tiba-tiba pasti membuat mereka merasa aneh.” timpal Nyonya Gundala memberi pengertian kepada Gama.


setelah itu, mereka mengobrol ringan kesana kemari. Gama menceritakan kronologis saat ia bertemu dengan Ayyara. Nyonya Gundala merasa sangat antusias mendengar setiap celotehan Gama.


__ADS_2