Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Bertemu Ana.


__ADS_3

Asap yang mengepul di gelas kopinya sudah mulai hilang. Dan itu pertanda minuman itu siap untuk di seruput. Gama menikmati setiap seruputan yang mengalir melewati tenggorokannya. Hingga saat ia berdiri dan melihat masih ada sisa kopi di dalam gelas itu, kemudian iapun berniat menghabiskan minuman itu tanpa sisa.


Dengan gelas yang masih menempel di mulutnya, tiba-tiba mata Gama menangkap sosok wanita yang sedang menuntun dua Anak kecil di kedua tangannya. Wanita itu lantas berhenti di jarak yang tak jauh darinya. Berbicara sesuatu kepada dua bocah yang tadi di gandengnya kemudian mengecup hangat kening keduanya. Saat itu juga jantung Gama terasa berhenti berdetak. Tangan dan lututnya gemetar luar biasa.


Yara...


Dia hanya bisa memanggil nama itu di dalam hatinya. Suaranya tercekat ditenggorokan. Ia ingin berteriak memanggil wanita yang sangat dirindukannnya itu dengan lantang. Tapi entah kenapa ia tidak bisa mengeluarkan suaranya.


Tubuhnya gemetar semakin hebat. Membuat gelas yang masih dipegangnya terjatuh kelantai dan pecah. Menimbulkan suara bising sampai orang-orang melihat kearahnya.


Ia semakin tidak bisa mengendalikan emosinya saat Ayyara bejalan mendekatinya dan bertanya apakah dia baik-baik saja.


Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Aku merasa sakit yang luar biasa. Karna aku sangat merindukanmu.!!! Ingin rasanya ia berteriak begitu. Tapi ia malah membeku.


“oh,, eh,, saya tidak apa-apa.”


Hanya itu yang bisa ia katakan.


Yara. Ini aku. Apa kau tidak mengenaliku? Ini aku.! Ini aku.! Kenapa kau tidak mengenaliku? Gama hanya bisa berteriak didalam hati.


“hah.. Hah.. Hah..” Akhirnya Gama bisa bernafas kembali karna sebelumnya paru-parunya berhenti bekerja sesaat. Ia melihat Ayyara yang berjalan menjauh dengan kerinduan yang semakin membuncah. Ia telah menemukan Ayyara. Ada peasaan bahagia sekaligus takut yang tiba-tiba mendera hatinya.


Gama mengalihkan pandangannya ke pada sepasang bocah kecil yang sedang asyik bermain bola. Hatinya mantap meyakini bahwa mereka adalah Anak-Anaknya. Tanpa sadar, ai matanya mengalir dibalik kaca mata hitam yang ia kenakan. Mereka terlihat sangat tampan dan juga sangat cantik. Ayyara merawat mereka dengan sangat baik.


“ah.! Huaaaaa.. Huaaaa...” Tiba tiba si gadis mungil menangis dan menunjukkan jari-jarinya kepada bocah pria yang ada didepannya. Dan si bocah pria langsung berlari ke belakang.


Gama tidak sadar hingga langkahnya bergerak menghampiri bocah yang sedang menangis itu.


“gadis cantik. Kenapa menangis?” Tanyanya sambil mensejajarkan tubuhnya.


Ana langsung menunjukkan jari telunjuknya yang terluka sambil terus menangis. Gama yang melihat itu langsung menggendongnya dan menghisap jari mungil itu untuk menghentikan pendarahan yang hanya setitik.

__ADS_1


Gama terus menenangkan si Ana kecil di gendongannya dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Saat itu Ayyara datang menghampirinya. Hatinya kembali berdetak dengan kencang. Tubuhnya mulai gemetar. Ia ingin memeluk tubuh Ayyara yang sangat dia rindukan itu sekarang juga. Tapi entah mengapa ia malah kembali membeku.


“dia menangis. Sepertinya tangannya terluka.” Gama berusaha berkata senormal mungkin. Hatinya sakit saat pandangannya bertemu dengan netra Ayyara.


“trimakasih banyak tuan.”


“sama-sama.” Ucap Gama mengangguk kemudian memaksa kakinya yang lemas untuk berjalan keluar dari cafe itu.


Gama langsung masuk kedalam mobilnya yang terparkir di halaman cafe. Setelah menutup pintu mobilnya, ia kemudian menangis merung-raung sejadi-jadinya.


“tuan? Anda kenapa?!” Tanya supirnya yang sedang bermain ponsel di depan kemudi. Ia terkejut bukan main saat mendengar tangis pilu Gama.


“huaa.... Hua... Hua....” Gama terus saja meraung-raung sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.


“kenapa kau tidak mengenaliku?” Ucapnya disela isak tangisnya yang terdengar pilu.


“ya? Maksudnya tuan?” Tanya si supir tak mengerti. Ia fikir Gama sedang berbicara dengannya.


Si supir yang akhirnya sadar kalau bukan dia yang sedang Gama ajak bicara, akhirnya memilih diam dan keluar dari mobil. Memberikan ruang untuk bosnya itu meluapkan seluruh perasaannya.


“aku sangat merindukan kalian.” Isaknya lagi. Air mata yang begitu deras tak bisa berhenti mengalir dari matanya. Setelah ia bertemu dengan Ayyara dan Anak-Anaknya rasa rindu itu semakin membesar memenuhi seluruh ruang di hatinya. Rasanya sampai akan meledak.


Lama sekali ia baru bisa mengendalikan perasaannya. Walaupun air matanya sudah berhenti mengalir, tapi Gama masih tetap di dalam mobil. Matanya terus saja melihat ke arah cafe. Bahkan sampai hari menjelang sore Gama terus berada di tempatnya. Supirnya sampai heran dibuatnya.


Matanya langsung terbelalak saat melihat Ayyara keluar dari cafe dengan menggandeng dua malaikat kecil mereka. Kemudian mengeluarkan sebuah motor matic dari parkiran dan menaikkan Anak-Anaknya di atasnya.


Ana di depan. Sementara jun duduk di jok belakang yang sudah dimodifikasi sehingga aman untuk dinaiki Anak kecil.


“ikuti mereka. Jangan sampai kehilangan.” Perintah Gama kepada supirnya. Walaupun dengan ekspresi bingung si supir tetap menuruti perintah Gama.


Mobil berhenti di pinggir jalan di tempat yang tidak jauh dari rumah ruko Ayyara. Mata Gama terus memperhatikan mereka dengan seksama. Lama sekali Ayyara berda didalam rumah. Sampai malam tiba, barulah nampak Ayyara keluar dari dalam rumah bersama kedua Anaknya.

__ADS_1


Saat itu juga Gama langsung turun dari dalam mobil. Ia mulai melangkahkan kakinya ingin menghampiri mereka. Tapi kemudian ia menghentikan langkahnya. Keberaniannya tidak cukup jika ia muncul sekarang. Entah apa yang membuat Gama ragu.


Tiba-tiba ia melihat si kecil Ana berjalan perlahan menghampirinya.


“o om.” Panggil Ana. Ia masih mengingat pria yang menolongnya saat ia terluka tadi.


“hai...” Jawab Gama dengan senyum ramah yang nampak pilu. Alisnya mengkerut menahan air matanya agar tidak kembali tumpah. Kemudian ia berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan sikecil Ana dan langsung memeluknya dengan erat. Rasanya nyaman sekali saat ia memeluk tubuh mungil itu.


“siapa namamu cantik?” Tanya Gama setelah ia melepaskan pelukannya.


“Ana.”


“terus, yang itu siapa?” Tanya Gama menunjuk ke arah Juna yang sedang asyik bermain mobil-mobilan.


“Nun..” Jawab sikecil lagi.


“nun?” Tanya Gama kemudian. Ia merasa aneh, kenapa namanya nun?


Ana memperhatikan wajah brewok Gama dan menyentuhnya dengan tangan mungilnya. Secara logika, Anak kecil pasti akan takut dengan penampakan Gama saat ini. Rambut yang gondrong dan jenggot yang panjang membuat dirinya nampak sangar. Tapi gadis kecil itu sama sekali tidak takut kepadanya.


Setelah puas bermain dengan jenggot Gama, Ana kemudian menghentikan tingkah menggemaskannya itu dan berjalan mendekati penjual buah yang ada di sampingnya.


“mau..” Kata Ana dengan menunjuk kearah tumpukan apel. Gama yang melihat itupun langsung tertawa. Ia jadi teringat betapa konyolnya Ayyara saat sedang hamil. Menangisi sepotong apel yang sudah jatuh ke lantai.


“tunggu sebentar ya, aku akan membelikannya untukmu.” Kata Gama kemudian berdiri dan membelikan apel untuk Ana.


Setelah mendapat apel, si kecil Ana langsung tertawa senang. “atih oom..” Katanya lagi.


“sama-sama.” Jawab Gama.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Gama terus memperhatikan Ana yang berjalan menjauhinya dan menghampiri Ayyara.

__ADS_1


“aku akan menemui kalian secepatnya.” Ucapnya lirih. Kemudian kembali masuk kedalam mobilnya dan pulang ke hotel.


__ADS_2