
Gama menghentikan mobilnya ke sebuah cafe tempat Ayyara bekerja paruh waktu dulu.
"sayang...." lirih Ayyara saat sudah turun dari dalam mobil. Netranya berpendar menatapi tidak percaya bangunan yang ada didepannya. Sudah sangat berbeda, tapi Ayyara masih mengenali tempat itu dari plang nama yang tidak berubah.
Dia sangat mengenal tempat itu. Tempatnya mencari sekelumit rupiah saat dia berada di titik terendahnya.
"ayo, masuk." ajak Gama kembali menggenggam tangan Ayyara.
Mereka berdua melangkahkan kaki memasuki cafe itu. Ada perasaan terharu yang membuncah di hati Ayyara. Selama ini bahkan dia sudah melupakan tempat itu.
Tempat itu sudah banyak berubah. Bangunannya sudah diperbesar. Dan panggung tempat live musik diadakan juga sudah di berubah lebih besar dengan berbagai alat musik yang lebih lengkap.
"silahkan.." sapa seorang pelayan wanita sambil melemparkan senyum yang sangat manis. Kemudian membimbing Gama dan Ayyara menuju ke sebuah meja yang sudah dipesan secara khusus oleh Gama. Meja yang dulu didudukinya saat melihat Ayyara bernyanyi.
Disana belum banyak pengunjung. Hanya ada beberapa meja yang sudah terisi.
Gama berpangku tangan sambil terus menatapi wajah istrinya yang duduk didepannya. Membuat Ayyara merasa risih karna diperhatikan sedemikian rupa.
"kenapa melihatku seperti itu. Wajahku bisa berlubang." seloroh Ayyara. Menahan rasa panas di pipinya.
"apa kau masaih ingat pertemuan ke dua kita?" Tanya Gama antusias.
"tentu saja aku ingat. Saat itu ada pria psikopat yang tiba-tiba langsung memelukkj. Untuk yang kedua kalinya.!" jawab Ayyara berapi-api.
Kali ini giliran Gama yang wajahnya berubah memerah.
"kalau diingat-ingat, saat itu lucu juga ya.." kata Gama lagi sambil menatap ke arah panggung.
"lucu? Lucu bagaimana? Itu adalah hal paling menyebalkan dalam hidupku. Dipeluk oleh orang asing yang sama sekali tidak kukenal. Mimpi buruk."
Gama mengernyitkan dahinya. Tapi kemudian dia tersenyum.
"Kalau sekarang,? Apa pelukanku masih menyebalkan?" seloroh Gama dengan senyum menggoda. Dia bahkan menarik turunkan kedua alisnya.
"sayang. Apa-apaan sih. Malu didengar orang." jawab Ayyara spontan. Karna dua orang yang duduk tak jauh dari mereka sedang menatap aneh kearah mereka.
"kenapa malu? Mereka itu pasti iri dengan kita."
Ayyara hanya tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah barang tentu Gama tidak bisa dikalahkan olehnya.
__ADS_1
Sekitar satu menit kemudian, seorang pelayan datang membawakan daftar menu dan meletakkannya di atas meja.
"silahkan panggil saya jika suda selesai." pinta pelayan itu lagi sebelum ia meninggalkan kedua pengunjung yang langsung sibuk berkutat dengan lembaran demi lembaran buku menu.
"Sayang, kau mau pesan apa?" Tanya Ayyara sambil terus membaca satu persatu pilihan menu.
Bukannya menjawab, Gama malah menutup buku menu yang ada ditangannya, kemudian beralih melihat kepada Ayyara.
"apapun. Kau pesankan untukku."
"kok apapun?"
"Atau pesankan aku makanan yang sama denganmu. aku akan makan apapun yang kau pesankan."
"kau yakin tidak akan kecewa?" Tanya Ayyara meminta kepastian.
Gama mengangguk mantap.
"baiklah. Aku akan pesan Mie Aceh kepiting."
Setelah selesai menulis pesanan, Ayyara kemudian melambaikan tangannya kepada pelayan yang membawa menu tadi. Menyerahkan pesanannya kepada pelayan pria itu.
Aroma gurih rempah langsung menyeruak memanggil-manggil rasa lapar bersamaan dengan asap yang mengepul dari piring mereka.
Hidangan Mie dengan kuah kental yang merah, dengan seonggok kepiting yang bertengger diatasnya, sungguh membuat siapapun yang melihatnya langsung menelan saliva.
Itu adalah makanan kesukaan Ayyara saat dia ada di Gayo. Melihat makanan itu, mengingatkannya pada keluarga Ama Rusli.
"pedas tidak?" tanya Gama khawatir. Ia melihat kuah merah yang ada dipiringnya.
"hmmm... enak sayang. Tidak terlalu pedas." jawab Ayyara saat sudah menyeruput suapan pertamanya.
Gama nampak masih belum yakin. Dia terus memandangi piringnya dengan ragu.
"cobalah dulu. Tidak sepedas yang kamu fikirkan sayang.." jelas Ayyara meyakinkan.
Sslluurrpp...
Ayyara kembali menyeruput mie nya. Melihat Ayyara makan, keinginan Gama untuk ikut memakan pun muncul. Ia menyendok sedikit mie kemudian memasukkannya kedalam mulutnya. Dia belum pernah memakan Mie Aceh sebelumnya, saat melihat kuah kentalnya yang agak merah, Gama langsung berekspektasi kalau makanan itu pedas.
__ADS_1
Tapi setelah ia mulai mengunyah, ternyata tidak sepedas perkiraannya. Dan rasanya sangatlah gurih. Dipadu dengan manisnya daging kepiting yang langsung melelh di mulut.
Setelahnya, Gama bahkan tidak memberikan jeda kepada mulutnya sendiri. Ia terus memakan Mie itu. Bahkan ia jadi yang pertama selesai sebelum Ayyara.
Hari semakin malam, mereka berdua mengabiskan waktu disana sambil mengobrol ringan. Membahas Ana dan Jun yang tingkahnya sangat menggemaskan.
Di panggung, pertunjukan live musik sudah mulai di mainkan. Nampak seorang wanita muda sambil duduk dengan memegang sebuah gitar akustik. Lagu yang pertama kali dinyanyikannya adalah lagu dari Pongki Barata yang berjudul Setia.
Lagu yang dulu pernah dinyanyikan oleh Ayyara. Saat itu, Gama bahkan seperti tersihir dan membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Lagu itu, mengantarkannya untuk menemukan belahan jiwanya.
Baik Gama maupun Ayyara, kembali teringat saat-saat itu. Dimana Gama menemukan cintanya, sedangkan Ayyara justru sebaliknya, ia kehilangan suaminya.
Keduanya larut dalam setiap petikan nada yang terdengar sangat lembut ditelinga. Menghanyutkan perasaan setiap orang yang mendengarkannya. Tidak terkecuali mereka berdua.
Gama menggenggam tangan Ayyara yang terulur di atas meja. Sentuhannya mengalirkan rasa hangat sampai ke hati Ayyara. Membuat hatinya kembali berdesir.
Entah, hari ini, sudah berapa kali Gama membuat hatinya berdesir. Dan membuat wajahnya memerah.
Drt,, drt,, drt,,
Ponsel Gama bergetar. Telfon dari Arfan. Dan Ia segera mengangkatnya.
"baiklah." jawabnya singkat. Kemudian langsung menutup ponselnya.
"kenapa sayang?" tanya Ayyara penasaran. Ia menyeruput jus terung belanda favoritnya.
"telfon dari Arfan. Dia sedang menunggu dirumah. Ada masalah pekerjaan yang mendesak." jelasnya sambil memasukkan ponsel kedalam sakunya.
Ayyara yang mendengar itu pun langsung memanyunkan bibirnya. Dia masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Gama. Mumpung Ana dan Jun sedang tidak rewel dirumah.
Tapi apa? Gangguan itu justru datang dari Arfan. Dalam hati Ayyara mengutuki pria yang mengganggu kencan romantis mereka itu.
"ayo," kata Gama sambil beranjak dari duduknya. Kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar makanan mereka.
Dengan wajah yang tertekuk, Ayyara memaksa langkahnya untuk mengikuti Gama. Padahal didalam hatinya ia masih sangat ingin melanjutkan kencan mereka malam ini.
Kencan sederhana, Tapi terasa sangat istimewa bagi mereka. Kalau saja bukan karna si Arfan, mereka berencana akan menghabiskan malam ini dengan berkencan.
Tapi ternyata keadaan memaksa keduanya untuk mengakhiri kemesraan itu. Membuat suasana hati Ayyara berubah drastis.
__ADS_1
"dasar. Si Arfan. Menyebalkan.!" gerutunya di sepanjang perjalanan pulang.