Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Maya.


__ADS_3

Maya melangkah lunglai menyusuri trotoar. Perasaannya tidak menentu setelah dia mengumpulkan keberaniannya untuk menemui ayyara. Ia berharap ayyara benar-benar bisa membujuk gama agar dia tak mengawasinya lagi. Diawasi begitu, benar-benar hampir membuatnya gila.


Langkahnya terhenti saat ada sebuah mobil suv berwarna metalik berhenti tepat di sampingnya.


“hai kak.!” Sapa seorang pria yang duduk di kursi samping kemudi.


“Dian?!” Pekiknya terkejut. “ka kapan kau keluar dari penjara? Bukankah masa hukumanmu masih lama? Kenapa kau bisa ada disini?” Tanyanya ragu.


“tadi pagi. Karna aku bersikap baik, jadi mereka mengeluarkanku lebih cepat. Masuklah. Aku ingin menemui papa. Kufikir kau ingin ikut.” Ucap Dian.


Maya sama sekali tidak menaruh curiga kepada Dian. Padahal dia yang menjebloskan adiknya itu ke penjara. Mendengar kata ’papa’, Maya langsung tersenyum sumringah dan masuk kedalam mobil begitu saja. Dia fikir ini adalah kesempatannya untuk meminta ampun kepada papanya. Semoga papanya masih mau menerimanya kembali.


Hampir di sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Terlebih Maya. Sampai tiba-tiba Dian membuka pembicaraan terlebih dulu.


“minumlah. Sepertinya kau sangat lelah.” Ujar Dian sambil menyerahkan sebuah botol berisi air mineral kepada Maya. Dan Maya langsung saja meminumnya sampai habis. Karna memang dia merasa sangat haus dan lelah. Tenaganya sudah dia habiskan untuk mengumpulkan keberaniannya tadi.


Perlahan, Maya mulai merasakan kantung matanya berat. Seperti ada yang menggantung. Dia sudah mencoba menepuk pipinya berkali-kali untuk menyadarkan dirinya sendiri, tapi tidak berhasil. Sampai akhirnya kepalanya mulai lunglai dan diapun tertidur.


Maya membuka matanya akibat siraman air yang mengenai wajahnya. Membuatnya langsung gelagapan saat membuka mata. Ia berniat mengelap bekas air diwajahnya. Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Seperti terkunci. Ternyata tangannya sedang terikat di pegangan kursi.


Refleks Maya memberontak berusaha melepaskan diri dari ikatan itu. Sampai membuat kursi kayu yang ia duduki sekaligus yang menjadi tempatnya terikat itu terjatuh kesamping.


“tidak perlu berusaha. Aku akan melepasmu jika aku sudah mau nanti.” Ujar Dian yang ternyata tengah duduk di depannya.


“Dian? Apa-apaan kamu?! Lepaskan aku.!” Pekik Maya. “dimana ini?” Tanya Maya mengedarkan pandangannya. Rasa takutnya muncul saat ia melihat keselilingnya. Sepi, tidak ada orang lain selain ia, Dian dan dua orang pria yang membantunya bangun tadi. Dia seperti sedang berada di sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Suasananya sedikit mencekam dengan hanya beberapa sinar matahari yang menerobos masuk melalui lubang-lubang dinding yang jebol.


“kenapa? Jangan bilang kau benar-benar percaya kalau aku akan mengajakmu menemui ayah? Yang benar saja.! Hah.!” Dengus Dian dengan nada yang penuh ejekan,.


“apa maksudmu?”


“hufh.! Apa kau tau apa yang selalu aku fikirkan selama 4 tahun berada dipenjara?” Ujar Dian menatap Maya penuh kebencian.

__ADS_1


“aku selalu memikirkan cara untuk menyingkirkanmu dari dunia ini. Berani sekali kau memasukkanku kedalam penjara? Dan apa?! Kau membuat perusahaan kita hancur sampai tidak bersisa. Kau membuat kami menderita. Kira-kira, apa hukuman yang setimpal dengan semua perbuatanmu itu? Hah?!”


“di dia n.. Kenapa kau seperti ini. Kau membuatku takut.” Lirih Maya yang mulai gemetaran.


“hahahahaha. Kenapa kau sepertiitu kak? Apa kau sedang ketakutan sekarang? Wah.. Dimana Maya yang dulu? Yang seolah tidak ada yang bisa menyentuhnya? Yang tidak takut apapun?”


Maya tidak lagi berani menjawab. Tubuhnya semakin gemetaran. Dulu, dia fikir bisa menyingkirkan Dian selamanya. Tapi dia malah kehilangan segalanya. Dan kini, dia gemetar ketakutan dihadapan Dian yang menatapnya seolah ingin menelannya hidup-hidup.


“Papa tidak akan suka jika kau bersikap begini. Cepat lepaskan aku.” Katanya dengan suara bergetar.


“hahaha. Papa tidak mungkin bangkit dari kubur dan menyelamatkanmu kan?” Kerling Dian dengan tertawa pias.


“apa maksudmu? Bangkit dari kubur?” Tanya Maya seolah ingin Dian menjelaskan lebih detail.


“wah. Kau memang pembunuh sejati. Bahkan aku saja masih teringat saat membunuh pejabat itu. Tapi kau, bahkan tidak mengingat kalau kau membunuh orang tuamu sendiri, dengan kedua tanganmu itu?! Luar biasa.” Tajam sekali perkataan yang dilontarkan oleh Dian. Pria itu terus menatap tajam kepada Maya dengan tatapan penuh intimidasi.


Tapi Maya sama sekali tidak mengerti. dia tidak bisa menebak arti dari ucpan Dian. atau lebih tepatnya dia takut kalau apa yang ida fikirkan ternyata benar.


Deg.!


Saat itu juga dunia Maya serasa runtuh dan langsung menimpanya. Membuat dadanya terasa sesak sampai sulit bernafas. Tubuhya melemas. Air matanya mulai mengalir.


Apa benar dia yang sudah menyebabkan papanya meninggal? Dia benar-benar sudah menghancurkan keluarganya kali ini. Dan seketika ia merasa dunianya hancur berkeping-keping.


“kau menangisi siapa? Menangisi Papa? Atau menangisi kebodohanmu?”


Maya tidak bisa lagi menjawab. Perasaannya benar-benar sudah hancur. Apa ia akan berakhir seperti ini? Saat dia sudah kehilangan segalanya?


“apa kau menangis karna sangat merindukan papa?t tenang saja, sebentar lagi kau sudah bisa menemuinya. Itupun kalau malaikat mengijinkan. Hahahahahaha.” Dian kembali menyeringai.


“oh. Jangan lupa banyak-banyak berdoa. Agar kepergianmu tidak terlalu menyakitkan.”

__ADS_1


Dian terus saja menakut-nakuti Maya. Membuat tubuh Maya semakin menciut dan gemetar tidak karuan. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. Dalam hati dia masih berharap kalau Dian tidak akan melaksanakan rencana mengerikannya itu.


“Dian. Toong lepaskan aku. Aku minta maaf karna sudah memasukanmu kedalam penjara. Aku ingin pergi ke makam papa. Tunjukkan padaku dimana kalian memakamkannya.” Pinta Maya penuh harap.


“tidak perlu repot-repot. Kan aku sudah bilang, sebenatar lagi kau bisa langsung menemuinya. Aku akan memakamkanmu tepat di sebelah papa, supaya kau bisa langsung meminta maaf padanya.”


“Dian. Aku mohon. Lepaskan aku.” Maya masih terus memohon. Padahal dia tau kalau dia tidak punya hak untuk memohon begitu. Kesalahannya sudah terlalu besar. Dia sadar Dian tidak akan mungkin memaafkannya begitu saja.


Dian memberi kode kepada dua orang pria berbadan kekar dengan kepalanya. Dan dua pria itu langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Dian. Mereka langsung menyuntikkan sesuatu di tengkuk Maya yang langsung membuat wanita itu tidak sadarkan diri.


Selebihnya, Maya sudah berada didalam mobil di tengah rel kereta api. Tepat di tempat kedua orang tua Ayyara dulu juga mengalami kecelakaan yang serupa. Akhir bagi sebuah keserakahan. Yang bahkan merenggut orang-orang terkasih. Kehilangan cinta dari orang terdekat, bahkan sampai kehilangan nyawanya sendiri.


.


.


.


pagi-pagi udah dapat komenan yang bikin hati ini gimanaaa gitu. komentarnya bikin sedih.😭😭😭


pemirsahhh.!😍


maaf kalau karya mak otor remahan yang otaknya keriting ini tidak seperti harapan kalian. kurang baguslah, ceritanya muter-muterlah, dsb.


namanya juga masih belajar. bukan otor profesional seperti otor sebelah.


hiks,, hiks,,


butuh pelukannn.....


😭😭😭😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2