
"wah... tidak kusangka kita akan bertemu disini..." kata seorang wanita dari arah belakang Ayyara. membuat gadis itu sontak membalikkan badanya.
Maya... batin Ayyara.
"sedang apa kau?" tanya Maya sinis. ia berjalan mendekat ke arah Ayyara dengan mendorong trolinya kesamping.
"kau bisa saja berpura-pura tidak mengenalku. kenapa menegurku? aku fikir kau membenciku?" jawab Ayyara tak kalah sinis.
"ya,, tadinya aku berfikir untuk mengabaikanmu. tapi,, aku baru saja menemukan hal yang sangat menarik darimu."
"apa maksudmu Maya?"
"apa Gama tau kalau kau adalah seorang janda sebelum menikah dengannya?"
jleb.!
pertanyaan Maya setajam pisau. tepat menusuk kedalam hatinya. memangnya kenapa kalau dia janda?
"kau ini bicara apa? apa kau fikir Gama sebodoh itu sampai tak tahu masa laluku?" Ayyara berusaha menahan diri agar tidak terpancing.
__ADS_1
"tapi... apa keluarga Gundala tau kalau kau wanita yang tak bisa punya anak? uuhh... sayang sekali. padahal keturunan adalah yang paling diharapkan oleh Tuan dan Nyonya Gundala." Maya terus saja memprovokasi Ayyara. entah apa maksudnya.
"sepertinya kau wanita yang pintar Maya. dalam sekejap kau bisa menggali informasi tentang diriku. kau wanita yang hebat."
Maya tersenyum mendengar pujian itu. padahal itu adalah sindiran dari Ayyara. Ayyara sama sekali tak berniat memuji Maya.
"aku bersedia memberitahu keluarga itu. kalau kau membutuhkan bantuanku, katakan saja. karna aku rasa Tuan dan Nyonya Gundala tak mengetahui tentang hal ini. dengan senang hati aku akan memberitahu mereka mewakilimu."
"tidak perlu repot. aku sama sekali tak membutuhkan bantuanmu."
Ayyara enggan menanggapi Maya. ia takut emosinya terpancing. jadi ia membalikkan badan dan berniat untuk segera meninggalkan Maya.
perkataan Maya sungguh sudah keterlaluan. kali ini Ayyara tak bisa menahannya lagi. rasa marah yang sudah ia tahan sejak tadi sekarang sudah meledak. telinganya memerah karna marah. ia menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
"apa yang baru saja kau katakan?"
"hmh.!" Maya tersenyum jahat. dia merasa sudah berhasil memprovokasi Ayyara. kemudian ia mendekat ke aaray maya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Maya.
"kau. wanita murahan yang hobi menggoda calon suami orang." bisik Maya sambil tersenyum senang. bisikan dari mulut Maya terdengar sangat menyakitkan. meruntuhkan semua harga diri Ayyara. emosinya memuncak. nafasnya tersengal-sengal. dadanya dipenuhi dengan rasa marah yang bergemuruh.
__ADS_1
Tangan Ayyara terangkat ke atas. ia ingin sekali menampar mulut kotor milik Maya. rasanya menjijikkan sekali mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut itu.
"au.!!!!!" teriak Maya. ia tersungkur ke lantai dengan memegangi pipinya, dan menyenggol trolinya sampai troli itu bergerak dan menabrak rak yang ada di dekat mereka dan menimbulkan suara gaduh. sontak orang-orang yang mendengar sura gaduh itu memengok kepada Maya yang terduduk dilantai sambil memegangi pipinya.
"kenapa? kenapa?" tanya orang-orang yang mulai mendekat kearah mereka. sebagian orang menatap marah pada Ayyara yang masih mengangkat tangannya. sepertinya orang-orang itu bisa menduga hal apa yang sedang terjadi.
Ayyara mengernyitkan dahinya. bibirnya ternganga tak menduga akan mendapat reaksi yang berlebihan begitu dari Maya. padahal tangannya belum sempat menyentuh Maya sedikitpun. orang-orang mulai berkerumun. menatap melas kepada Maya yang mulai menangis sesenggukan. sedangkan menatap marah kepada Ayyara.
"tega sekali kau menamparku? apa salahku padamu? hiks,, hiks,, hiks,," ujar Maya, ia masih memegangi sebelah pipinya. air mata mulai mengalir deras dari matanya.
"hei. berhenti berpura-pura. tanganku bahkan tak menyentuhmu sama sekali." bela Ayyara.
"hiks,, hiks,, hiks,, hiks,," Maya terus menangis, membuat orang-orang semakin menatap iba padanya. sorot mata mereka serentak menganggap Maya sebagai korban. dan melihat Ayyara sebagai orang jahat yang tega menampar orang lain di muka umum.
"kasihan sekali. kenapa kau menamparnya nona?" tanya seorang ibu-ibu paruh baya.
"lihatlah, dia sampai terjatuh begitu." ujar yang lain. beberapa orang membantu Maya berdiri, sedangkan yang lain menatap Ayyara dengan tatapan menghakimi.
"tidak. jangan salah paham. saya sama sekali tidak menamparnya." jelas Ayyara membela diri. tapi sepertinya tak ada yang mempercayainya. mereka lebih mempercayai akting Maya yang luar biasa itu.
__ADS_1
manusia. tak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar, mereka akan otomatis membela yang terlihat lebih lemah dan bersikap seperti korban ketimbang mendengarkan penjelasan dari seluruh ceritanya.