
"tidak, jangan percaya padanya. saya sama sekali tidak menamparnya. kalau kalian tidak percaya, kita bisa melihat rekaman CCTV." Ayyara terus saja meyakinkan orang-orang itu.
sebagian dari mereka setuju untuk melihat rekaman dari CCTV. sekaligus ingin melihat kejadian yang sebenarnya. yang tanpa Ayyara sadari, Maya sudah menyuruh seseorang untuk menghapus rekaman itu. sekarang tak ada bukti yang bisa membebaskan Ayyara dari Maya. wanita licik itu tertawa senang dalam hatinya.
security bilang tidak ada apa-apa dalam rekaman CCTV karna sedang ada perbaikan tadi. pupus sudah harapan Ayyara untuk membela dirinya. ia menatap marah kepada Maya yang masih ditenangkan oleh beberapa orang. ia tidak menyangka kalau Maya sangat licik.
setengah jam kemudian, datanglah dua orang polisi. Maya sempat menelpon mereka tadi dan melaporkan tindak kekerasan yang menimpa dirinya. petugas itu langsung menanyai beberapa orang saksi yang menyaksikan kejadian itu. tapi tidak ada yang benar-benar melihatnya. jadi petugas itu meminta Maya untuk datang kekantor polisi. sementara Ayyara akan pergi bersama mereka.
"pak. tapi saya tidak menampar dia. dia itu cuma pura-pura pak. tolong jangan mempercayainya." Ayyara mencoba memberontak untuk melepaskan diri dari cengkeraman petugas itu. tapi ia kalah tenaga.
"iya,, nona, silahkan jelaskan dikantor ya.. sekarang tolong ikut kami." pinta salah satu petugas memberi pengertian kepada Ayyara. Ayyara tak punya pilihan lain selain mengikuti mereka.
di tempat parkir, Toni yang sedang menunggu Ayyara di depan Mall pun terkejut bukan main, saat ia melihat Ayyara yang sedang digandeng oleh polisi, ia segera berlari menghampirinya.
"Nona? ada apa ini pak? kenapa anda membawanya?" tanya Toni yang panik.
__ADS_1
salah seorang petugas menjelaskan kepada Toni. sebelumnya petugas itu menanyakan siapa Toni. dengan raut wajah panik, Toni menghampiri Ayyara yang sudah masuk di mobil polisi.
"Nona, tolong jangan khawatir, saya akan mengikuti Anda dari belakang." ucap Toni menenangkan Ayyara.
"baik pak.."
dengan tergesa-gesa, Toni segera menghubungi Gama. tapi tuannya itu tak mengangkat telfonnya. sampai 3 kali dihubungi, tapi Gama tak mengangkatnya. akhirnya Toni menelfon Arfan.
...****************...
Gama yang terkejut langsung berdiri ditengah-tengah rapatnya dengan dewan direksi. baru saja Arfan memberitahunya tentang Ayyara.
"bagaimana bisa?" tanya Gama lagi. kali ini dia merendahkan suaranya.
"saya masih belum tau tuan. Toni tidak memberi informasi lengkapnya kepada saya." jelas Arfan sambil berbisik.
__ADS_1
"saya minta maaf, sepertinya rapat hari ini sekian dulu. saya ada urusan mendesak. tentang rapat lanjutan, nanti akan diinformasikan lagi." jelas Gama. tak menunggu jawaban, ia langsung melesat keluar dari ruangan rapat.
Gama nampak sangat cemas. berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan kasar. berkali-kali pula ia memukul kursi disebelahnya dengan sangat keras.
ponsel Arfan berbunyi, telfon dari anak buahnya yang sudah ia suruh untuk mencari tau tentang permasalahan yang menerpa Ayyara. anak buahnya itu sudah mendapat semua informasi yang dibutuhkan Arfan. mereka bekerja sangat cepat. seperti biasanya.
"baiklah. kirimkan padaku. dan awasi mereka disana." perintah Arfan pada ponselnya.
setelah mematikan telfon, Arfan menepikan mobilnya dan membuka ponselnya kembali. ia mengerutkan dahinya, kemudian memberikan ponsel itu kepada Gama.
"sialan.!!!" maki Gama. ia meremas ponsel itu dengan sangat keras. untung saja tak hancur. "berani-beraninya dia mengusikku? apa dia menyatakan perang denganku?" gumam Gama masih dalam keadaan marah.
tanpa disuruh, Arfan melajukan mobilnya dengan sangat cepat. ia juga mengkhawatirkan Ayyara. ia sama sekali tidak menyangka kalau Maya akan berbuat sejauh ini. ia merasa sudah lengah. ia melirik tuannya yang duduk dibelakang, wajahnya nampak sangat khawatir.
Arfan bisa merasakan bagaimana carutnya perasaan Gama saat ini. padahal tadi Gama sudah nampak sumringah saat menelfon Ayyara dan berkata akan makan malam dirumah. soalnya belakangan ini Gama terlalu sibuk, banyak proyek yang sudah deadline dan harus segera diselesaikan, jadi Gama selalu pulang larut malam saat Ayyara sudah tertidur pulas. ia tau bahwa Gama sedang memberi batasan kepada dirinya sendiri agar tak terlalu dekat dengan Ayyara. jadi dia menenggelamkan diri dalam pekerjaan.
__ADS_1