
"kak Yara benar-benar tak membeli apapun? lantas kenapa kita kesini?" dengus Nia yang merasa heran. sejak tadi mereka hanya melihat-lihat saja.
"tidak ada yang menarik perhatianku." jawab Ayyara santai. dia terus saja nyelonong masuk ke toko lain. yang segera diikuti oleh Nia.
di tempat yang tak jauh dari kedua gadis itu, Toni dan ke empat anak buahnya tak mengalihkan pandangannya sedikitpun. mereka terus mengikuti Ayyara dan Nia berkeliling. seperti janjinya, Toni bahkan tak menampakkan batang hidungnya kepada Ayyara. mereka mengawasinya dari jauh.
kepala Ayyara terasa agak pusing. ia memijat keningnya perlahan. tiba-tiba ia merasa sangat lelah. wajahnya menjadi pucat pasi. ia menyandarkan tangannya di dinding salah satu toko yang sedang mereka lewati.
"kak Yara kenapa?" tanya Nia yang melihat Ayyara terhuyung.
"entahlah. tiba-tiba aku merasa sangat pusing. kakiku lemas sekali Nia." jawab Ayyara.
Nia segera menuntun Ayyara untuk duduk di sebuah bangku yang ada di depan toko.
"istirahatlah dulu disini kak. kak Yara pasti kelelahan. sudah hampir 4 jam lho kita berkeliling. aku juga sudah mulai lelah."
Ayyara menuruti Nia. ia menyeruput es teh terakhirnya kemudian membuang gelas plastiknya kedalam tong sampah yang ada disebelahnya. Nia turut duduk disamping Ayyara.
"kita pulang saja yuk kak. sudah hampir malam juga." pinta Nia. gadis mungil itu juga sudah merasakan sakit di telapak kakinya. Ayyara menganggukkan kepala menyetujui permintaan Nia. mereka bangkit dan berdiri. Nia melangkahkan kakinya lebih dulu.
bruk!!!!
suara itu sontak membuat Nia menoleh dan membalikkan badan.
"kak Yara.!!!" pekik Nia. ia langsung berlari menghampiri Ayyara yang sudah tergelak lemah. barang belanjaannya bahkan sudah terjatuh dari tangannya.
__ADS_1
"kak.! kak Yara.! kak Yara kenapa?" tanya Nia.
"tubuhku lemas sekali Nia. pandanganku berputar-putar." ucap Ayyara lirih disela nafasnya yang tersengal-sengal.
"aduh,, bagaimana ini?" gadis mungil itu panik sendiri. orang-orang disekitar mereka mulai berkerumun dan menanyakan hal yang terjadi.
"Nona.!" gumam Toni yang melihat Ayyara jatuh terkulai. ia segera berlari secepat kilat dan menghampiri Ayyara.
"pak Toni? bagaimana ini?" Nia bertambah panik. ia bahkan mulai menangis meraung-raung memanggil-manggil Ayyara.
dengan sigap, Toni langaung mengangkat Ayyara dan membopongnya.
"siapkan mobil.! cepat.!" perintah Toni kepada salah satu anak buahnya. sementara yang lain membukakan jalan untuk mereka.
semua mata melihat kearah Toni yang sedang membopong Ayyara dengan wajah panik. lucunya, Nia masih sempat memungut barang belanjaannya di lantai sebelum ikut berlari menyusul Toni.
"cepat ke rumah sakit.!!" perintah Toni kepada anak buahnya.
untung jarak rumah sakit tak terlalu jauh dari Mall, hanya butuh waktu 10 menit saja mereka sudah sampai di rumah sakit.
Ayyara segera di masukkan ke UGD. dan para dokter segera memberikan tindakan. Wulan datang tergopoh-gopoh menghampiri Toni. sebelumnya Toni sudah menelfon Wulan yang memang merupakan direktur di rumah sakit milik GD Group ini.
...****************...
Gama yang sedang berkutat dengan pekerjaannya yang sangat menumpuk merasa enggan menanggapi ponselnya yang terus saja berdering. setelah berdering untuk yang ke tiga kalinya, ia baru mengangkatnya. ia memicingkan sebelah alisnya saat membaca nama Toni.
__ADS_1
"apa?!!!!!" Gama terkejut bukan main mendengar kabar yang baru saja disampaikan oleh Toni. ia bahkan langsung berdiri dan membuat beberapa dokumen yang ada disampingnya terjatuh berserakan karna senggolannya.
dengan langkah secepat kilat, Gama berlari keluar dari ruangannya. Arfan yang berpapasan dengannya di luar ruangan terkejut melihat ekspresi wajah Gama yang nampak khawatir.
"ada apa Tuan?"
"kerumah sakit. sekarang.!" teriak Gama. ia langsung berlari menuju lift dan segera memencet tombolnya. Arfan segera mengikuti Gama masuk kedalam lift.
"kenapa tuan?" Arfan menyempatkan bertanya saat didalam lift.
"istriku pingsan dan sekarang dirumah sakit." jelas Gama singkat. matanya terus saja menatap lampu nomor yang menyala.
kok bisa? batin Arfan. tapi dia tak berani mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutnya. ia yakin Gama juga pasti belum tau ceritanya.
Arfan mengemudikan mobil dengan perlahan. karna jalanan sangat macet. mobil bahkan beberapa kali berhenti dan tak bergerak sama sekali.
di perempatan yang sudah tak jauh dari rumah sakit, mobil kembali terjebak ditengah-tengah kemacetan. membuat Gama semakin tak sabar saja. ia lantas membuka pintu mobil dan langsung keluar. ia berlari menerobos barisan mobil yang berderet menunggu lampu APILL berubah warna menjadi hijau.
"tuan.!!" pekik Arfan yang tentu saja sangat terkejut dengan sikap Gama. Gama sudah tak mendengarkan, ia sudah terlanjur melesat kedepan.
setelah sampai dirumah sakit, ia langsung mencari-cari keberadaan Ayyara. dengan panik ia membuka satu persatu tirai yang menjadi penyekat ranjang di ruang UGD itu. ia tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya marah karna dianggap mengganggu.
sangking khawatirnya, Gama tak sempat lagi berfikir untuk menghubungi Toni. padahal kalau dia menghubungi Toni kan bisa langsung tau dimana Ayyara berada. Gama tak berfikir kesana.
Nia melihat Gama dari kejauhan. dia baru saja kembali ke UGD untuk mengambil sepatu Ayyara yang tertinggal disana. gadis mungil itu menghampiri Gama dengan perasaan kalut.
__ADS_1
...readers masih inget dengan lombanya kan?...
...ayooo.... Sedekah jempol,,, sedekah jempol...wkwkwk.😘😘...