Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Perjalanan Pulang.


__ADS_3

Gama sedang memperhatikan lekat wajah Jun. Mantap hatinya berkata bahwa Jun memang tampan seperti drinya. Wajah oval, kulit putih mulus, mata coklat dan hidung mancungnya persis seperti dirinya.


Ia mengusap-usap puncak kepala Jun sambil mengecupnya sesekali. Dan itu membuat Jun merasa terganggu. Pria kecil itu terbangun dan nampak terkejut saat melihat wajah Gama yang berada sangat dekat dengan wajahnya, Membuatnya ketakutan dan langsung menangis.


Gama nampak kebingungan. Ia mencoba menennagkan Jun yang semakin keras menangis. Membuat Ayara juga ikut terbangun. Ia memicingkan matanya saat mendengar suara tangisan putranya dan langsung terduduk.


“Mama...!” Teriak Jun yang langsung meringsut menjauihi Gama dan memeluk Ayyara.


“kenapa sayang? Sudah, sudah, cup, cup.”


Jun tidak menjelaskan kenapa dia menangis. Tapi tatapan dan ekspresi wajahnya yang ketakutan saat melihat Gama sudah cukup menjadi penjelasan bagi Ayyara. Putranya itu memang takut dengan orang asing. Apalagi yang baru ia lihat. Berbeda dengan Ana, putrinya itu mudah akrab dengan orang lain bahkan yang tidak dia kenal sekalipun.


Hati Gama terasa sangat sakit. Entah kenapa. Saat melihat wajah Jun yang terkejut dan ketakutan saat melihatnya, dadanya berdesir nyeri. Putranya sendiri tidak mengenalinya dan takut kepadanya. Sungguh kenyataan yang membuat lututnya melemas.


Ia memandang Ayara dengan tatapan sayu. Sementara Ayyara hanya mengangguk dan memejamkan matanya. Ia sangat tau bagaimana perasaan Gama saat ini. Pria itu pasti sangat sedih.


Jun terus mengeratkan pelukannya di leher Ayyara dan menenggelamkan wajahnya disana. Dia masih takut melihat wajah Gama. Bagaimana tidak, saat membuka mata ia langsung melihat wajah orang asing di depannya. Tentu saja dia takut.


“Jun, sayang, tidak apa-apa.” Ucap Ayara menenangkan Jun. ia menepuk-nepuk punggunh Jun.


Perlahan Jun mengangkat wajahnya. Menatap wajah Ayyara dengan tatapan bertanya. Ayyara tau maksud Jun. Putranya itu meminta kepastian kepadanya bahwa pria asing itu tidak berbahaya.


Ayara mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Jun beralih melihat Gama.


“tidak apa-apa. Jun sayang, jangan takut. Dia adalah papa.”


Jun yang masih belum mengerti apa arti dari kata ‘papa’ masih menatap Gama dengan tatapan curiga. Memang selama ini Ayara belum pernah sekalipun menunjukkan foto Gama kepada si kembar. Jadi wajar saja kalau mereka tidak tau tentang Gama.

__ADS_1


“Ma...” Lirih Ana yang juga sudah mulai terbangun. Posisinya membelakangi Gama. Jadi dia tidak tau kalau ada Gama disana.


“oh, selamat pagi sayang.” Sapa Ayyara. Dia kemudian merentangkan sebelah tangannya untuk meraih Ana dalam pangkuannya.


Saat sudah berada di pangkuan Ayyara, Ana menoleh dan melihat Gama.


“o om..” Panggilnya.


“Ana, dia ini adalah papa. coba panggil papa..” Ayyara mencoba memberikan penjelasan sekaligus pengertian.


“oom papa.” ucap bibir mungil itu sambil mengucek-ucek matanya.


Gama tersenyum. Hatinya senang. Setidaknya Ana mengenalinya walaupun sebagai oom bukan sebagai papa. Gamapun kemudian merentangkan kedua tangannya untuk memanggil Ana. Dan Ana pun langsung terbangun dan langsung merangkak mendekati Gama dan menyambut pelukannya.


Senyuman bahagia juga tersungging di bibir Ayyara. Setidaknya Ana sudah akrab dengan Gama. Hanya tinggal Jun yang memang bocah itu pendiam dan tidak mudah untuk bergaul.


“ayo besok kita pulang ke jakarta.” Ajak Gama kemudian. Ia menatap Ayara dengan sungguh-sungguh.


“lusa saja ya. Aku masih harus mengurusi beberapa hal sebelum pergi.” Pinta Ayyara. Dan Gama menyetujuinya.


***


Keluarga Ama Rusli mengantarkan Ayara dan Gama, juga si kembar Ana dan Jun ke bandara yang baru dibuka beberapa hari yang lalu itu dengan linangan air mata. Hanya Ama Rusli yang tidak nampak menangis. Pria paruh baya dengan tinggi semampai itu berusaha menahan kesedihan karna berpisah dengan si kembar Ana dan Jun. Karna memang selama ini si kembar memang sangat dekat dengannya.


“jangan lupakan kami ya kak.” Seloroh Risma yang terus menangis ambil memeluk erat tubuh Ayara.


“tidak mungkin lah Risma. Aku tidak akan mungkin melupakan keluarga disini. Kalau sempat kalian main-mainlah ke jakarta. Nanti aku akan ajak berkeliling.” Kata Ayyara sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


“Riski, aku titip cafe ya.” Ayara beralih kepada Riski.


“tenang saja kak. Aku akan menjaganya dengan baik. kak Yara juga baik-baik disana ya.” Jawab Riski.


“sering-seringlah menelfon kami. Aku juga akan sering-sering menelfon jika merindukan Jun dan Ana.” Ine menimpali.


“iya Ne, kami akan sering melfon Ine.” Kata Ayyara. Ia kemudian juga memeluk Ine dengan erat.


“jaga mereka baik-baik. Atau aku akan langsung terbang ke jakarta dan menghajarmu jika kau buat Anak dan cucu-cucuku menangis.” Ancam Ama Rusli menatap tajam kepada Gama.


“tenang saja Ma. Aku akan menjaga mereka dengan baik. Kalau aku tidak bisa menepati janjiku, aku yang akan menyerahkan diri untuk dihajar.” Jawab Gama mantap.


Seloroh Gama berhasil membuat mereka tertawa dan melupkan kesedihan karna akan berpisah.


Gama mengulurkan tangan untuk meraih Jun dari gendongan Ama Rusli. Tapi si Jun malah meringsut dan memeluk Ama Rusli dengan erat. Akhirnya Ayyara yang mengambilnya dengan menyerahkan Ana terlebih dulu kepada Gama.


“pelan-pelan. Nanti juga dia akan menerimamu.” Ujar Ama Rusli mencoba menghibur Gama yang nampak kecewa.


“iya Ama. Trimakasih karna sudah merawat mereka selama ini. ” jawab Gama meng amini perkataan Ama Rusli.


Setelah selesai berpamitan, Gama dan Ayyara langsung masuk kedalam bandara. Ada perasaan berat dihati Ayyara untuk meninggalkan keluarga Ama Rusli. Ia sempat meneteskan airmata yang sudah sejak tadi dia tahan saat di hadapan keluarga itu.


Gama mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Ayyara. Ia tau kesedihan yang sedang dirasakan oleh Ayyara. Keluarga itulah yang sudah merawat Ayyara dan Anak-Anaknya selama ini. Tidak ada ungkapan yang bisa mewakili rasa trimakasihnya.


“sayang, bagaimana dengan Maya?” Tanya Ayara tiba-tiba saat mereka sudah ada di dalam pesawat.


Entah kenapa hatinya masih di selimuti kekhawatiran jika megingat wanita itu. Walaupun ia sudah tau tentang keadaan wanita itu sekarang dari berita-berita di tv beberapa tahun yang lalu, tapi bukan tidak mungkin Maya akan bertindak nekat dan semakin dendam kepada keluarga kecilnya karna Gama sudah menghancurkan keluarganya.

__ADS_1


“tidak usah khawatir. Dia sudah kusingkirkan. Dia tidak akan berani mengganggu kita lagi. Kalau dia masih berani mengganggumu dan Anak-Anak, aku akan membunuhnya saat itu juga.” Ujar Gama sambil menggeretakkan gigi-giginya. Ia masih merasa marah jika megingat semua perlakuan Maya terhadap Ayyara. Mengancam Ayyara sampai Ayyara memilih untuk meninggalkannya demi melindungi buah hati mereka.


Dia tidak akan kecolongan untuk yang kedua kalinya. Dia sudah berencana menyiapkan pengawal pribadi untuk Ayara dan si kembar. Tidak bisa dipungkiri, ia juga mengkhawatirkan hal yang sama. Maya tipe manusia yang nekat. Walaupun dia sudah tidak punya uang atau pun kekuasaan, tapi masih ada kemungkinan Maya akan menyakiti keluarganya.


__ADS_2