Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Kabar Tak Terduga.


__ADS_3

Ayyara bergegas turun dari mobil saat Fadil sudah menghentikan mobil di depan pintu gerbang rumahnya. Karna Fadil harus kembali ke kantor dan menunggu Gama sampai pulang.


Begitu Pak Totok membukakan pintu gerbang untuknya, Ayyara segera berlari kecil masuk kedalam rumah. Dan Ia langsung mendapati bahwa Dina dan Devi masih terlihat berusaha menenangkan si kembar Ana dan Jun. Padahal tadi di telfon ia hanya mendengar Jun saja yang menangis dan berteriak. Namun sekarang, Ana juga malah ikut menangis meraung-raung.


“Anak muda kok menangis?” Tanya Ayyara. Ia langsung menghampiri si kembar yang sedang menghentak-hentakkan kakinya di lantai sambil sesekali mengomel.


Ayyara merengkuh Ana dan Jun kedalam pelukannya. Dan membiarkan keduanya menangis sepuasnya. Ia tidak memarahi ataupun memprotes tangisan Ana dan Jun. Melainkan ia hanya memeluk dan terus mengusap kepala keduanya sampai mereka berhenti menangis dengan sendirinya.


“sudah menangisnya?” Tanya Ayyara seraya melepaskan pelukannya.


Dan dijawab dengan menganggukan kepala oleh si kembar.


“maafkan Mama ya sayang. Tadi Mama pergi keluar sebentar. Mengantar Papa pergi kekantor.”


“Papa?” Tanya Ana dan Jun hampir bersamaan. Keduanya mengelap bekas air mata dengan punggung tangan mungil mereka.


Sudah beberapa hari ini Jun sudah lebih bisa menerima Gama sebagai Papanya. Setelah Gama menunaikan janjinya dengan membelikan Jun sebuah akuarium yang super besar skaligus beberapa ikan arwana sebagai penghuninya. Ia bahkan membelikan ikan yang lebih besar dari yang ada di villa.


Juga sebuah mobil remote control keluaran terbaru yang super canggih. Gama bahkan langsung memesan secara khusus dari pabriknya yang ada di negara J. Yang bahkan harganya hampir sama dengan mobil SUV keluaran terbaru. Jadi mobil itu hanya ada satu didunia. Tentu saja Jun tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Yang penting baginya adalah mobil remot. Tapi Gama ingin memberikan yang terbaik untuk putra dan putrinya.


“hm,, hm,,” jawab Ayyara serya mengangguk. “sudah makan belum?” Tanya Ayyara lagi. Tapi Ana dan Jun menggelengkan kepala. “mau Mama suapi?” Tawar Ayyara. Dan keduanya pun langsung mengangguk.


Ayyara mengajak Ana dan Jun ke meja makan, dimana sudah terhidang berbagai macam makanan yang sudah disiapkan langsung oleh Bi Sulis.


Setelah selesai makan, Ayyara mengajak keduanya untuk tidur siang dikamar. Tapi Ana tidak mau. Ia masih ingin bermain diruangan khusus yang baru dibuatkan Gama dua hari yang lalu.


Diruangan itu dipenuhi oleh koleksi berbagai jenis boneka. Dari yang super besar, sampai yang hanya berukuran satu kepalan tangan. Dan tentu saja, harganya juga tidak kalah mahal dengan mobil mainan milik Jun.


Gama benar-benar memanjakan mereka. Padahal sebelumnya Ayyara sempat mengatakan keberatannya tentang hal itu. Ia ingin Ana dan Jun di besarkan secara biasa-biasa saja. Tapi apa jawaban Gama?


“aku mengumpulkan uang memang untuk mereka, dan kamu. Kalau aku tidak membelanjakan uangku untuk istri dan anakku, lantas aku harus membelanjakannya untuk siapa?”


Dan. Ayyara tau dia sudah kalah telak dalam hal ini. Jadi akhirnya dia memilih diam saja dan membiarkan Gama melakukan keinginannya untuk kedua buah hati mereka. Karna perkataan Gama juga tidak salah.


Ana sedang asyik bermain dengan boneka kuda poninya. Sementara Jun sudah tertidur di kasur tipis yang ada dipojokan. Dan Ayyara memilih chattingan dengan Risma dan Riski. Sambil sesekali melirik Ana yang sedang berbicara dengan bahasanya sendiri kepada si kuda poni. Membuatnya sesekali tersenyum karna kelucuan Ana.

__ADS_1


Sampai akhirnya Ana mengantuk dan meminta untuk tidur. Sambil menidurkan Ana, kantuk Ayyara juga ikut terpanggil. Apalagi setelah perutnya merasa kenyang karna ia baru saja selesai makan siang bersama Ana dan Jun.


***


Pukul 16:32.


Gama membuka ruangan bermain untuk si kembar, dan mendapati kalau istri dan kedua Anaknya tengah tertidur pulas. Ia hanya tersenyum saja. Kemudian kembali menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan mereka. Dan masuk kedalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Dan kemudian kembali mengahampiri istri dan Anak-Anaknya.


Sebenarnya pekerjaan Gama masih menumpuk, tapi ia memutuskan untuk menyelesaikannya dirumah saja. Ia tidak peduli walaupun Arfan sudah mengeluh sedemikian rupa. Dia masih merindukan istri dan Anak-Anaknya. Padahal belum ada 12 jam sejak dia pergi kekantor.


Apalagi Jun. Putranya itu sudah mau berbicara dan bahkan diam saja saat Gama menggendongnya. Dan itu adalah kebahagiaan yang luar biasa. Dia tidak ingin Jun kembali menjauh nanti kalau dia jarang dirumah.


Gama memandangi wajah Ayyara yang tertidur pulas dengan masih memegang ponsel di telapak tangan kanannya. Dengan hati-hati ia melepaskan ponsel itu kemudian meletakkan di sebelahnya. Menciumi kening mereka satu persatu.


“sayang?” Ujar Ayyara dengan suara berat khas bangun tidur. “apa aku ketiduran?” Ia nampak terkejut dan langsung duduk.


“apa aku mengejutkanmu? Maaf sayang. Aku tidak bermaksud membangunkanmu.”


“tidak apa-apa. Jam berapa ini? Kenapa sudah pulang?” Tanya Ayyara heran.


Setelah makan malam, Gama dan Ayyara sedang mengobrol di ruang tv. Gama bercerita tentang masa kecilnya yang masih dia ingat. Ayyara mendengarkan dengan seksama dengan kepala yang bersandar di lengan Gama. Padahal sudah berkali-kali dia mendengarkan kisah itu. Namun entah kenapa dia tidak pernah merasa bosan.


Sambil sesekali mereka memperhatikan berita di tv yang sedang ditayangkan.


“sayang. Apa kau sudah menarik Anak buahmu dari maya?” Tanya Ayyara penuh hati-hati. Ia tidak ingin Gama tesinggung.


“sudah. Sejak tadi siang. Sepertinya dia benar-benar sudah jera. Tapi tetap. Aku tidak akan menurunkan kewaspadaanku.” Jelas Gama dengan nada penuh ketegasan.


“aku tau sayang. Aku sangat menghargai setiap usahamu untuk melindungi kami."


“dan aku tetap akan langsung membunuhnya saat dia muncul dihadapan kita lagi.” Kata Gama lagi. Ayyara bisa melihat keseriusan dari perkataan Gama yang penuh ancaman itu.


“sayang, maafkan aku harus membahas ini sekarang. Aku tau kau sangat jengah mengurusi Maya, Maya, dan Maya.”


“tidak apa-apa. Memang seharusnya hanya dengankulah kau membahasnya.”

__ADS_1


Percakapan mereka terhenti saat Bi Sulis datang dengan membawa sepiring buah-buahan campur yang sudah siap makan. Kebiasaan Bi Sulis sejak dulu, Dia akan menyajikan aneka buah yang sudah diirisnya kemudian menghidangkannya saat malam, saat Ayyara sedang asyik menonton tv bersama kedua orang tuanya.


“trimakasih, Bi.” Ujar Ayyara.


“sama-sama neng. Silahkan dimakan.” Kata Bi Sulis lagi. Kemudian ia berlalu ke belakang.


“sayang, ini, makanlah.” Kata Ayyara sambil menusuk buah dengan sendok buah dan mengangsurkannya ke mulut Gama.


Tapi suaminya itu tidak bergeming. Matanya lurus melihat berita yang ada di tv. Sedangkan ekspresinya nampak sangat terkejut. Sehingga membuat Ayyara tertarik untuk menoleh juga kearah tv.


Dan. Ayyara tak kalah terkejut demi membaca satu baris kalimat yang tertera di layar ajaib itu.


‘putri sulung pengusaha wira group tewas tertabrak kereta.’


Dengan menampilkan sebuah mobil yang sudah ringsek tak berbentuk.


Ayyara sontak menutup mulutnya. Seketika ia merasa ngeri, takut, dan terkejut scara bersamaan. Tubuhnya menjadi gemetar. Seketika bayangan wajah Maya tadi siang terlintas di fikirannya.


.


.


.


gantung teroossssss...!!!


😁😁😁🤭🤭🤭


ampun pemirsaaahh...!


🤕🤕🤕


jangan kutuk Mak jadi keriting ya. plisss. 🙏🙏🙏


kutuk dengan vote aja. mumpung ini hari senin.😁😁😘😘

__ADS_1


__ADS_2