
Pak Ito dan Toni saling memandang dengan ekspresi wajah cemas. Pandangan mereka mengikuti Ayyara yang sudah menjauh di dalam taksi.
“bagaimana ini Pak?” Tanya Toni cemas.
“lebih baik kita menghubungi tuan saja.” Pak Ito mengeluarkan idenya.
Dengan segera, Toni mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Gama.
Di kantor...
Gama sedang memandangi tumpukan berkas di mejanya. Berkas-berkas itu menumpuk dengan sangat tinggi sehingga membuatnya malas menyentuhnya. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya beserta kursi singgasananya ke kanan dan ke kiri. Memainkan ponselnya dan mengetuk-ngetukkannya di paha.
Dia ingin menghubungi istrinya. Entah kenapa dia merasa sangat rindu. Padahal baru beberapa jam yang lalu dia bertemu. Gama terus terbayang dengan keinginan aneh sang istri. Tapi Gama sudah membatalkan bookingan satu gerbong kereta begitu dia keluar dari kamarnya tadi pagi. Entah bagaimana Ayyara tau kelakuannya itu.
Drt,, drt,,
Ponsel Gama bergetar. Panggilan dari Toni. Dia segera mengangkatnya. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang jika Toni yang menghubunginya.
“ada apa Ton?” Sapa Gama.
“Tuan, ada masalah. Nona Yara pergi Tuan.” Lapor Toni dengan nada cemas. Ia takut dimarahi Gama karna kecerobohannya.
“pergi? pergi kemana?"
"tidak tau tuan."
"Apa maksudmu? dia pergi dengan siapa?”
“Nona Yara pergi sendirian dengan menggunakan taksi tuan. Wajahnya terlihat sangat marah. Aku dan pak Ito sudah mencegahnya dan menawarkan diri untuk mengantarnya, tapi Nona bersikeras pergi sendiri.” Jawab Toni. Pak Ito yang masih berada disampingnya ikut manggut-manggut.
“kenapa kau ceroboh sekali?!!” Bentak Gama. Ia langsung berdiri dari kusrinya dan langsung menutup ponselnya.
Gama segera menghubungi ponsel istrinya. Dua kali panggilan, tapi Ayyara belum mengangkatnya.
“Yara.. Kemana kamu...” Lirihnya.
Dia mencoba menghubungi Ayyara kembali, tapi istrinya itu tetap tak menjawab telfonnya. Membuat ia semakin panik. Ia berfikir keras kemana kira-kira Ayyara akan pergi? Ia mengkhawatirkan istri dan calon anak yang ada di dalam kandungannya.
Brak.!!
__ADS_1
Gama membuka pintu ruang kerja Arfan dengan tergesa-gesa. Wajahnya nampak panik membuat Arfan yang melihatnya jadi terkejut.
“tuan?”
“lacak ponsel istriku.! Sekarang.!” Titah Gama dengan berteriak.
Arfan segera meninggalkan pekerjaannya dan mengerjakan perintah dari Gama. Dia menghubungi seseorang dan memerintahkannya untuk melacak ponsel milik Ayyara. Arfan tidak bertanya apa masalahnya. Melihat ekspresi wajah Gama dia bisa menyimpulkan kalau sudah terjadi sesuatu dengan istri tuannya itu.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. Arfan sudah mendapatkan lokasi keberadaan Ayyara dan segera memberitahu kepada Gama.
Gama mengernyitkan keningnya melihat alamat yang tertera di ponsel Arfan. Rasa khawatir menyergap dadanya. Ia bertambah panik
“kenapa dia datang ketempat itu?!” Pekik Gama frustasi. Ia segera berlari keluar dari ruangan dan diikuti oleh Arfan.
“Fan. Bawa anak buahmu.” Perintah Gama lagi.
Mendapatkan titah seperti itu. Arfan mengernyitkan dahinya lagi. Dia tidak bisa menebak apa rencana Gama dengan membawa anak buahnya ke sana. Tapi ia segera melaksanakan perintah Gama.
Nafas Gama terus menderu. Kekhawatiran bisa dilihat jelas di wajah Gama. Dia bahkan tidak mempedulikan para bawahannya yang menyapa hormat saat berpapasan dengannya. dan aura yang keluar dari tubuhnya membuat mereka bergidik ngeri.
Gama mendesak Fadil untuk memacu mobilnya dengan kencang. Si sopir jomblo itu langsung menuruti perintah tuannya. Di belakang mereka terdapat 4 mobil suv lain yang berisi anak buah Arfan.
Ia terus mencoba menghubungi ponsel Ayyara. Tapi tetap tak di angkat. Gama semakin bertambah panik. Ia meninju kursi kosong yang ada disebelahya.
“apa kau tidak bia mengemudikan mobil Dil?!” Bentak Gama tak sabar. Ia ingin segera sampai.
Fadil gelagapan dan kembali memperdalam pedal gas untuk mempercepat laju mobilnya. Gama sangat mengerikan kalau sedang panik.
Setelah sampai di tempat tujuan, mereka langsung memarkirkan mobil dengan sembarangan. Gama segera turun dan langsung menerobos masuk kedalam gedung berlantai 10 itu.
Dua orang petugas security yang berjaga di depan pintu tak mampu menghalangi kedatangan Gama dan anak buahnya. sehingga menimbulkan keributan.
Aksi mereka itu sontak membuat orang-orang melihat ke arah mereka. Membuat ngeri saja. Seperti akan ada pertarungan sengit disana.
Beberapa orang security lainnya juga ikut datang dan menghadang rombongan Gama.
“dimana Maya.!! Aku ingin bertemu dengannya.!” Bentak Gama pada resepsionis yang mengantarkan Ayyara tadi. Wanita ramping itu langsung gemetaran ketakutan.
Suasananya sangat mencekam. Karna di lobi, sedang terjadi adu dorong antara security dan anak buah Gama.
__ADS_1
“cepat.!” Bentak Gama lagi.
“i..i..iya tuan.” Resepsionis itu sangat ketakutan. Ia memaksa lututnya yang gemetar untuk terus berjalan membimbing Gama dan mengantarkan pria menakutkan itu ke ruangan Maya.
Aura mencekam memenuhi ruangan lift yang mereka naiki. Si resepsionis terus berusaha menahan tubuhnya agar tidak ambruk. Ia menggenggam jari jemarinya di depan perut untuk menyembunyikan rasa takutnya.
Tengkuknya sudah basah oleh keringat dingin. Ia terus berfikir bagaimana kalau dua pria yang sedang berdiri dibelakangnya itu menusuknya diam-diam dari belakang? Memikirkan hal itu membuat si resepsionis itu bertambah ketakutan.
Saat lampu lift behenti di angka 10, Gama langsung menampis tubuh gemetar milik si resepsionis ke samping dan langsung keluar tanpa aba-aba.
Hufh..!! Tubuh resepsionis itu langsung terduduk lemas di dalam lift yang membawanya kembali turun. Berkali-kali ia mengucap syukur karna nyawanya masih menempel di tubuhnya.
Brak.!!!!
Gama mendobrak pintu ruangan Maya dengan satu tendangan kakinya. Membuat dua wanita yang berada didalamnya langsung menoleh kearah suara brisik itu.
“tuan.! Anda tidak bisa...” Pekik sekretaris Maya yang langsung di hentikan oleh Arfan.
Pemandangan yang ada dihadapannya membuat Gama tertegun.
Ayyara sedang berdiri menantang di hadapan Maya, dengan Maya yang masih memegangi pipinya. Bahkan Ayyara masih nampak setengah membungkukkan badannya dan wajahnya berada sangat dekat dengan Maya. Sekilas Gama bisa melihat tatapan ketakutan milik Maya.
“sayang??” Tanya Ayyara. Dia terkejut bukan main. Lebih terkejut saat mendengar suara pintu terbuka dengan paksa tadi.
Dengan langkah yang sangat cepat, Gama berjalan mendekati Ayyara, pria itu langsung memeluknya tanpa aba-aba.
“kau tidak apa-apa?” Tanya Gama masih dengan mimik khawatir.
“o? Iya,, aku tidak apa-apa. Kenapa kau bisa ada disini.?” Tanya Ayyara lagi.
Gama mengalihkan tatapannya kepada Maya yang masih merah mukanya.
“kau apakan istriku?!!” Tanya Gama sedikit membentak.
Maya yang masih tertegun dengan tamparan Maya hanya terdiam. Dia juga masih terkejut dengan kedatangan Gama yang tiba-tiba.
“sayang,, bukan begitu..” Jelas Ayyara.
Dia ingin menjelaskan kepada Gama, bahwa dia baik-baik saja. Bahwa Maya tidak melakukan apapun padanya. Tapi Gama sudah terlanjur dipenuhi oleh amarah. Matanya melotot melihat Maya penuh dendam.
__ADS_1
“bukankah aku sudah memperingatkanmu?!” Tegas Gama lagi. Dia terus menatap Maya dengan tatapan menusuk.