
Pesta pernikahan Arfan dan Dewi di gelar di dua tempat. Yaitu di pekalongan, rumah orang tua dewi. Dan di jogja, yanh diadakan di sebuah hotel mewah.
Akad nikah sudah dilaksanakan satu minggu yang lalu, di pekalongan. Dan besok, adalah acara resepsi ke dua yang di gelar di kota jogja. Karna Arfan memang berasal dari kota gudeg itu.
Malam ini, rencananya Gama dan istrinya bertolak ke kota jogja. Tidak dengan kereta api, melainkan dengan pesawat.
Gama benar-benar sudah trauma dengan yang namanya naik kereta api. Mengingat saat dulu, dia hampir seperti pengemis yang tertidur di depan pintu toilet gerbong kelas ekonomi, hampir sepanjang malam.
Ana dan Jun tidak ikut. Kedua krucil itu lebih memilih menginap di villa kakek dan neneknya. Jadilah Gama dan Ayyara bergi berdua saja. Ya, anggap saja ini bulan madu mereka yang kedua. Dan lagi-lagi, ke kota jogja.
Saat mereka sudah sampai di jogja, Arfan dengan senyumnya yang merekah sudah menunggu Gama dan ayyara di bandara.
"Tuan. Nyonya.." sapa Arfan saat melihat Gama dan Ayyara muncul.
"hei. Fan. Kok malah pengantin baru yang menjemput kami? Kau kan bisa menyuruh siapa saja. Atau kami juga bisa pergi sendiri." seloroh Gama. Merasa tidak enak harus mengganggu Arfan dihari bahagianya. Padahal dia juga sudah hafal jalanan kota jogja. Jadi walaupun tidak dijemput, Gama juga bisa pulang ke villanya sendiri.
"tidak apa-apa tuan. Saya masih sempat." jawab Arfan malu.
Seperti biasa, dengan sigap Arfan membukakan pintu mobil untuk Gama dan istrinya. Bahkan kali ini Arfan memilih untuk mengemudikan mobil itu sendiri.
"hei. Fan. Keluar." perintah Gama saat mobil mereka berhenti di perempatan APILL.
"apa maksud anda tuan?"
__ADS_1
"aku akan menyetir sendiri. Kau pulanglah dengan taksi."
"tapi tuan..."
"Fan." kata Gama dengan nada yang penuh dengan ketegasan.
Tidak punya pilihan lain, Arfan segera turun dari mobil itu, dan Gama segera mengambil alih kemudi.
Ayyara hanya terkekeh saja melihat kelakuan dua pria itu. Setelah Gama pindah di depan kemudi, Ayyara pun lantas pindah duduk di depan. Menemani suaminya.
"kenapa begitu sayang?"
"enak saja. Aku sudah memberinya libur, dihari istimewanya begini, dan dia masih mau menyupiri kita. Harga diriku tidak terima." dengus Gama juga sambil terkekeh.
Sementara itu, Arfan hanya menatap pias mobil yang ditumpangi Gama dan Ayyara yang mulai berjalan menjauh dan menghilang dari pandangannya.
"kenapa wajahmu kesal seperti itu mas?" tanya Dewi saat melihat wajah suaminya yang nampak lesu.
"hah. Aku diusir oleh tuan Gama. Dia ingin mengemudikan mobilnya sendiri. Dan aku diturunkan di jalan." jelas Arfan yang langsung menghempaskan diri di atas sofa ruang tamu.
"hahahaha. Apa kubilang. Kau sih tidak mendengarkanku. Gama itu cuma hartanya saja yang berlimpah. Tapi sikapnya selalu sederhana, seperti kita."
"ya maksudku kan, mereka itu tamu istimewa kita, jadi aku ingin tetap melayaninya seperti biasa."
__ADS_1
"kau ini, seperti tidak tau saja bagaimana Gama. Kau kan lebih dulu mengenalnya daripada aku mas."
Di hari resepsi...
Dewi nampak sangat anggun dengan mengenakan kebaya berwarna putih gading. Begitu juga dengan Arfan. Nampak tampan sekali dengan berbalut busana dengan warna senada. Mereka berdua sedang di pajang di pelaminan.
Yang tidak kalah anggun adalah, penampakan dua wanita yang sedang mengobrol santai, sambil sesekali diselingi dengan tawa. Di samping mereka, dua pria yang dulu sempat baku hantam di atas ring, juga sedang berbincang sambil sesekali menganggukkan kepala.
Ayyara, Gama, Mala, dan Micko. Mereka berempat duduk di meja yang sama. Bercengkerama dengan sangat akrab.
Tidak ada sedikitpun kecanggungan diantara mereka. Terlebih Ayyara. Dia sangat terbuka sikapnya kepada Mala, begitu juga sebaliknya.
"meutia kok tidak diajak sih? Pasti sudah besar dan cantik sekarang ya." ujar Ayyara.
"dia sudah masuk sekolah TK. Sangat senang, tidak mau libur. Bahkan seharipun maunya jangan libur. Hari minggu saja dia merengek minta sekolah." jelas Mala yang langsung tertawa mengingat kegemasan putrinya.
Ayyara jadi ikut tertawa membayangkan.
"anakmu mana? Kudengar mereka kembar? Dewi yang memberitahuku." tanya Mala kemudian.
"sama. Mereka lebih memilih liburan bersama nenek dan kakeknya, ketimbang ikut kami kesini." jawan Ayyara.
Sementara para suami mereka lebih memilih membicarakan masalah bisnis. Micko mengajak Gama untuk berkolaborasi di salah satu proyeknya di bidang perkelapa sawitan.
__ADS_1
Dengan antusias Gama langsung meng iyakan ide Micko itu.
Kedua pasangan itu lantas berfoto bersama pengantin di pelaminan. Masing-masing mengembangkan senyuman termanis yang mereka miliki.