Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Kandang Harimau.


__ADS_3

Ayyara sedang sibuk di ruang pakaian. ia nampak memilah apa-apa saja yang akan dia bawa ke jogja. itu adalah pengalihannya dari rasa sedihnya.


“sedang apa sayang?” Gama datang dan langsung memeluk pinggang istrinya itu dari belakang.


“sayang, mana pakaian yang akan kau bawa ke jogja?” tanya Ayyara.


“tidak perlu sayang. ada lebih dari cukup pakaianku yang ada disana. kau juga tak usah membawa baju lah, kita beli disana saja,, ya..”


“wah,, jangan begitu. aku bawa pakaian dari sini saja.” kata Ayyara bersikeras. masak iya dia harus beli baju begitu sampai di sana? rasanya malas sekali.


“yasudah, terserah saja.” akhirnya gama mengalah. toh bukan mereka yang akan membawa barang-barang itu. “sayang, kita naik pesawat saja ya,, lebih cepat, dan nyaman.” pinta Gama lagi. dia belum menyerah merayu Ayyara soal transportasi yang akan mereka naiki. selera istrinya benar-benar aneh.


“tidak mau. aku maunya naik kereta." sungut Ayyara. "sayang.. kamu tidak akan membeli tiket satu gerbong kan?”


jreng.!


darimana dia tau? batin Gama. dia memang sudah membooking satu gerbong kereta kelas ekonomi.


“sayang...” panggil Ayyara lagi. karna pria yang sedang memeluknya dari belakang itu tidak menjawabnya.


”oh? eh... tidak,, tidak. mana mungkin aku melakukan itu. hehehe” elak Gama. “ sayang, aku berangkat kekantor dulu ya...muuah.” Gama melakukan ritualnya sebelum berangkat bekerja. kening, mata dan mulut Ayyara adalah santapan rutinnya.


setelah mengantarkan Gama sampai ke depan rumah, Ayyara kembali melakukan aktifitasnya mengemas barang-barangnya. ia memasukkan satu persatu pakaiannya kedalam koper.


netra Ayyara tertuju pada sebuah figura di atas nakas. foto kedua orang tuanya. hati Ayyara seperti teriris rasanya. dia benar-benar tidak terima kalau kedua orang tuanya pergi dengan cara menyakitkan seperti itu. dan bisa dibilang itu karna dirinya. hati Ayyara bertambah sakit.


dalam diam, air mata Ayyara terus saja mengalir. ia sesenggukan di kamar sendirian.

__ADS_1


"Pa.. Ma.. maafkan aku. maafkan aku..." lirih Ayyara memeluk figura itu di dadanya.


walaupun dia masih bisa mengendalikan amarahnya, Ayyara tetap masih merasa marah. setelah ia meletakkan foto itu kembali ke atas nakas, ia kemudian berdiri dan mengelap air matanya. kemudian menyambar tas dan ponselnya.


Ayyara melangkah menuruni anak tangga dengan mantap. pak Ito yang melihat itu pun segera menghampiri.


"Nona Yara mau kemana?" tanya Pak Ito menyelidik.


"aku mau pergi keluar sebentar pak." jawab Ayyara.


"apa Raden Gama tau kalau Nona mau pergi?" tanya pak Ito lagi. ia harus bertanya dengan detail, karna Gama sudah mewanti-wantinya untuk menjaga Ayyara saat dia tidak ada dirumah.


"nanti aku akan memberitahunya sendiri pak." jawab Ayyara. ia tak peduli dengan pak Ito yang nampak khawatir. ia terus melangkahkan kakinya keluar rumah.


setelah di luar rumah, Ayyara kembali dihadang oleh Toni. pertanyaan Toni kurang lebih sama dengan pak Ito. Toni menawarkan diri hendak mengantar Ayyara, namun Ayyara menolak dengan alasan dia sudah terlanjut memesan taksi online. dan kebetulan, taksi online yang ia pesan sudah menunggu di depan rumah.


setelah hampir satu jam perjalan, Ayyara sudah sampai di sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi. ia mendongakkan kepalanya keatas. ada sebuah tulisan yang terpampang dengan sangat besar di atas gedung itu.


WIRA BUILDING


ya. saat ini Ayyara sedang berada di depan gedung milik keluarga wira. bagaimana dia bisa tau? tadi dia sempat bertanya dengan mbah google. disana, dia bisa mencari semua informasi tentang alamat gedung ini.


Ayyara menarik nafas sekali lagi sebelum memasuki kandang harimau itu. kemudian ia melangkah menuju ke meja resepsionis yang ada di lobi di lantai satu.


"selamat siang Nona, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang resepsionis wanita.


"saya mau bertemu dengan Nona Maya. apa dia ada?" tanya Ayyara.

__ADS_1


"maaf, apa anda sudah membuat janji sebelumnya?"


"tidak, belum."


"maaf Nona, anda harus membuat janji terlebih dulu."


"beritahu saja dia, Ayyara datang dan meminta bertemu." desak Ayyara dengan suara tegas.


dengan ekspresi jengkel yang aneh, resepsionis itu mengangkat gagang telfon dan menghubungi seseorang.


"ya baik." jawabnya kemudian menutup sambungan telfon.


"silahkan ikut saya bu.. direktur sedang menunggu anda." jelas si resepsionis.


ini jauh lebih mudah dari dugaan Ayyara. dia fikir dia mungkin akan diseret oleh security karna Maya tak mau menemuinya. tapi ternyata bayangannya salah.


di dalam lift, Ayyara berkali-kali menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. ia memantapkan hatinya. ia tidak menyangka kalau dia sendiri yang akan mendatangi Maya lebih dulu, setelah apa yang diperbuat wanita itu kepadanya.


"mari.." ajak si resepsionis itu setelah pintu lift terbuka. jujur, jantung Ayyara sedang berdetak kencang saat ini, bukan karna ia takut kepada Maya, melainkan ia berusaha menahan diri agar tidak menampar wanita itu nanti.


mereka sudah sampai didepan sebuah ruangan. si resepsionis berbincang sebenatar deng seorang wanita yang ada di depan ruangan itu.


"silahkan Nona.." ajak wanita yang nampaknya seorang sekretaris itu.


Ayyara mengikuti sekretaris itu masuk ke dalam sebuah ruangan. saat masuk, netranya langsung tertuju kepada seseorang yang sedang duduk di balik meja kerjanya.


"duduklah." sapa Maya dengan senyumnya yang mengejek. dia kemudian beralih duduk ke sofa. Ayyara sudah menduga dengan sikap Maya kepadanya. wanita itu selalu saja angkuh.

__ADS_1


__ADS_2