
"Ma..." sapa Gama setelah menemui kedua orang tuanya di ruang tamu. Ayyara mengikuti Gama sambil menundukkan wajahnya.
"Yara... sayang kau tidak apa-apa? kau baik-baik saja? apa kau terluka?" Mama langsung menghambur kepada Ayyara. membolak-balikkan tubuh Ayyara. menelisik setiap bagian tubuh gadis itu barang kali ada yang terluka. Mama nampak lega saat melihat Ayyara baik-baik saja.
"aku tidak apa-apa Ma.. maafkan aku sudah mengacaukan pestanya..." ucap Ayyara lirih.
"jangan bicara seperti itu. yang terpenting kamu baik-baik saja. walaupun Mama tidak mempercayai perempuan itu, tapi Mama tetap butuh penjelasan dari kalian." tuntut Mama.
Ayyara menarik nafas dan membuangnya perlahan. ia mengumpulkan keberanian untuk bicara jujur. Ayyara menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir. tanpa dikurangi, maupun ditambahi.
penjelasan dari Ayyara rupanya membuat Tuan Gundala berang. terlebih Nyonya Gundala. ia nampak sangat kecewa dengan Gama dan Ayyara.
plak.!
Tuan Gundala bangkit dari duduknya dan menghampiri Gama yang duduk di hadapannya. kemudian Ia menampar Gama. membuat semua orang terkejut bukan main. terlebih Gama. ini adalah tamparan pertama dari Papanya. dan rasa sakitnya sampai ke hati.
__ADS_1
"Papa.!" pekik Mama.
"aku tidak pernah membesarkanmu untuk bermain-main dengan pernikahan. kau sudah membuatku malu. ceraikan dia kalau kau tidak mencintainya. setiap wanita itu berharga Gama.! kau orang asing yang sama sekali tak berhak menyakitinya.! apa?! surat perjanjian?! apa yang membuatmu segila ini?! hah?!! jawab!!" Tuan Gundala sangat marah dengan sikap Gama.
"pa,, sudah pa,, sudah..." bujuk Mama mencoba menenangkan tuan Gundala yang sedang berang. ia menarik lengan suaminya itu dan menyuruhnya duduk kembali.
Gama hanya terdiam. ia menatap kosong ke bawah meja. perasaan sakit hati bercampur malu kini memenuhi ruang hatinya. hatinya sakit karna tamparan dari Papanya, ia juga malu karna Ayyara harus melihat semua itu.
"Pa.. tolong jangan menyalahkan Gama. ini bukan sepenuhnya salahnya. ini juga salahku karna menerima tawaran darinya." timpal Ayyara...
Gama hanya terdiam saja. ia tidak sepenuhnya mendengar apa yang Mama nya katakan. hatinya ditutupi rasa malu kepada Ayyara. ia merasa harga dirinya runtuh karna Ruan Gundala menamparnya di hadapan gadis yang dicintainya.
"tapi aku mencintainya... aku menyukai Yara bahkan sebelum aku menikahinya." kata Gama lirih. Ayyara dan kedua orang tua Gama trenyuh mendengarkannya
"Mama tau nak.. Mama bisa melihatnya dari matamu. tapi ada sesuatu yang membuat Mama takut. Yara, maaf kalau pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu, tapi benarkah yang dikatakan perempuan itu? kalau kau tak bisa hamil?"
__ADS_1
deg.!
akhirnya Mama menanyakan hal yang paling ditakuti Ayyara. jantung Ayyara serasa berhenti, nafasnya terburu. apakah ia harus menceritakan yang sebenarnya? tapi itu akan membongkar aib Dafa. apakah ia harus membongkar aib orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri? rasanya sungguh tidak benar.
"Yara... ceritakan semuanya. kami akan mendengarkanmu. tidak apa-apa kalau kau memang sulit hamil. aku akan membawamu berobat kemanapun sampai berhasil. selama kita berusaha, tuhan tidak mungkin tidak mendengarnya kan?"
Ayyara masih terdiam dan menunduk. ia masih berfikir apakah ia harus jujur dan menceritakannya kepada mereka?
"Yara..." panggil Gama lirih. Ayyara yang mendengar Gama memanggilnya langsung mengangkat wajahnya dan menatap pria di sampingnya itu.
Gama menganggukan kepalanya kepada Ayyara. anggukan itu seolah memberi banyak arti. seolah memberi kepercayaan kepada Ayyara untuk menceritakan kebenarannya. tatapan mata Gama yang teduh memberi Ayyara kekuatan. ia menarik nafas dan membuangnya perlahan.
"semua yang dikatakan mantan ibu mertuaku itu tidaklah benar Ma,, aku bukan tidak bisa hamil. selama 4 tahun pernikahan, mantan suamiku tak pernah sekalipun menyentuhku di tempat tidur. dia sama sekali tak menyukaiku. orang tua kami yang memaksakan pernikahan itu tanpa ada perasaan apapun diantara kami. dia sudah punya wanita idamannya sendiri yang sekarang sudah menjadi istrinya. ibunya bahkan tidak tau tentang sikap anaknya itu padaku. dan aku memang sengaja tidak menceritakannya. makanya mantan ibu mertuaku berbicara seperti itu." jelas Ayyara panjang lebar.
Nyonya dan Tuan Gundala ikut merasakan kesedihan dari cerita Ayyara. bagaimana ada pria yang tak menghargai istrinya seperti itu.? benar-benar biadab. menikahi Ayyara sedangkan dia punya wanita idaman lain dan terus menemuinya. benar-benar pria yang tak ber etika.
__ADS_1
Nyonya Gundala memeluk Ayyara dengan erat. ia mengelus rambut menantunya itu dengan lembut. perasaannya lega sudah. mendengar cerita yang sebenarnya dari Ayyara. tiba-tiba ia merasa kasihan dengan Ayyara. ternyata kehidupan pernikahannya sama sekali tidak mudah. apalagi sekarang Ayyara terikat pernikahan dengan Gama. Mama mencoba memahami perasaan Ayyara. dan terus memeluknya dengan penuh kehangatan.