
Fikiran Ayyara masih dipenuhi oleh Maya saat ia sedang berada di dalam lift yang akan membawanya ke ruangan Gama. Kali ini bukan karna ketakutannya kepada wanita itu. Tapi lebih kepada rasa ‘kasihan’, mungkin.
Ting.!
Pintu lift terbuka. Dan ia segera disambut oleh dua orang sekretaris pria yang duduk dimeja tepat di depan ruangan Gama dan arfan. Kedua pria itu langsung mengangguk hormat padanya dan langsung memberitahu Gama tentang kedatangannya.
“silahkan Nyonya.” Kata salah satu pria yang mengetuk pintu Gama.
Saat langkahnya memasuki ruangan Gama. Ayyara langsung disambut dengan senyuman super lebar dari pria itu.
“bagaimana reuninya?” Tanya Gama saat ia bangkit dari tempat duduknya.
“aku tidak menyangka kalau perusahaan itu bisa sampai sebesar itu. Nia bilang kau banyak membantu.” Ujar Ayyara sambil mendudukkan diri di sofa.
“hehe.” Gama tersenyum bangga. Ia pun ikut duduk di sebelah Ayyara. Kemudian merentangkan lengannya disandaran sofa. Seketika itu juga kepala Ayyara seperti tertarik untuk bersandar disana. Sepertinya lengan Gama memiliki magnet.
“sayang, aku baru saja bertemu dengan Maya....” Ujar Ayyara lirih. Ia sangat takut jika membahas Maya. Karna ia tau, sebesar apa kebencian Gama kepada wanita itu.
“aku sudah tau.” Kata Gama santai. Respon yang tidak Ayyara duga.
“baru saja Rudi yang memberitahuku..” Katanya lagi. Ia mengelus kepala Ayyara yang kini mendongak menatapnya dengan alis berkerut.
“secepat itu si Rudi mengadu.? Huh.!” Dengus Ayyara.
“hahaha. Memang itu merupakan salah satu tugasnya. Kalau ada hal yang menyangkut keselamatanmu, sudah seharusnya dia memberitahuku.”
“jadi, apakah benar kalau selama ini kau terus mengirim orang untuk mengawasi Maya?” Ayyara memberanikan diri bertanya. Ia menatap wajah Gama dengan serius.
__ADS_1
“tentu saja. Kau tidak berfikir kalau aku akan melepaskannya begitu saja kan? Aku menyuruh orang untuk mengawasinya selama 24 jam 7 hari. Bahkan aku tau berapa kali dia ke kamar mandi, jam berapa dia tidur, apa saja yang dia makan, bahkan ritme mendengkurnya pun aku tau. Hahahaha.” Seloroh Gama.
Entah kenapa penjelasan Gama malah membuat hati Ayyara merasa panas. Dan rasa panas itu kini malah naik kewajahnya, membuat wajahnya ikut memerah.
“wah... Senangnya Maya ada yang memperhatikan sampai seperti itu.” Sindir Ayyara. Wjahnya berubah merengut dan menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh dari Gama.
“sayang... Kau tau bukan itu maksudku..” Ujar Gama. Entah kenapa dia merasa seperti sorang pencuri yang sedang ketahuan dan siap dihajar masa.
Ya, Ayyara tau itu. Kalau semua itu semata-mata hanya untuk mengawasi gerak gerik Maya. Dia juga tidak tau kenapa dia bisa cemburu di saat yang kurang tepat begini.
“semua itu hanya demi keselamatanmu. Agar dia tidak berani macam-macam lagi kepada kita” imbuh Gama.
“jadi, apa kau akan berhenti mengawasinya? Sepertinya sudah cukup pelajaran untuknya. Dia mempersilahkanmu untuk langsung membunuhnya jika dia berani muncul lagi dihadapan kita.”
“sayang. Aku mangawasinya, bukan karna aku tidak ingin membunuhnya. Aku sangat ingin membunuhnya. Apalagi saat dia mengancammu dan membuat kita berpisah. Saat itu, aku sangat ingin menghabisinya. Tapi aku tidak punya hak untuk melakukan itu bukan.?” Ujar Gama dengan nada suara berat.
“aku tidak ingin menjadi pembunuh. Aku tidak bisa mencederai masa depan anak-anak kita. Ya, walupun aku bisa saja membunuhnya diam-diam tanpa ada satu orangpun yang tau. Karna aku sangat mampu untuk melakukan itu. Tapi bagaimana dengan perasaan dan ingatanku? Orang yang tidak tau pasti menganggap semua baik-baik saja. Tapi perasaan dan ingatanku tidak akan mungkin bisa dibohongi kan? Bahwa aku seorang pembunuh. Aku tidak akan punya keberanian untuk menemuimu dan anak-anak kita.”
“jika aku membunuhnya, aku tidak akan sanggup menaggung perasaan yang mengerikan itu. Aku memang sangat membencinya. Tapi itu lantas tidak bisa membuatku menjadi seorang pembunuh.”
Ayyara mendengarkan penuturan suaminya dengan perasaaan campur aduk. Ya, bagaimana bisa seorang manusia membunuh manusia lain? Ia jadi ikut ngeri membayangkannya.
Didalam hatinya. Dia merasa bangga karna Gama bisa mengendalikan sikap mengerikan seperti itu. Siapa yang ingin punya suami pembunuh? Dia rasa tidak ada. Dan Gama benar-benar sudah menghukum Maya tanpa harus melenyapkan nyawa wanita itu. Gama sudah mengambil semua hal yang sangat di agung-agungkan oleh Maya. Dan terbukti, itu sangat membuat Maya menderita.
“sayang....” Lirihnya. Kenapa dia tidak berfikir kearah sana? Bahwa sesungguhnya membalas dendam atas semua kejahatan Maya adalah mengambil semua miliknya? Terutama harta dan kehormatan yang sangat diinginkan wanita itu?
“kau sangat luar biasa. Aku benar-benar bangga padamu.” Ucap Ayyara sambil mendaratkan sebuah kecupan di pipi suaminya itu.
__ADS_1
Dan tentu saja hal itu membuat perasaan Gama melambung sangat tinggi. Padahal awalnya dia sangat takut jika keputusannya dengan membiarkan Maya hidup merupakan keputusan yang keliru. Tapi ternyata, takdir tidak sekejam itu padanya.
Drtt. Drtt. Drt..
Ponsel Ayyara bergetar di dalam tasnya. Ayyara segera memalingkan wajahnya yang tadi sedang asyik menatapi wajah Gama lekat-lekat, untuk kemudian meraih ponselnya.
Dini menelfon.
“ya Din?”
“hua..!!! Hua..!!!! Hua.!!!” Suara tangis langsung menyeruak memekakkan telinga. Sampai membuat Ayyara menjauhkan ponselnya sesaat.
“iya din, aku akan segera pulang.” Ujarnya kemudian. Tanpa menunggu Dina menjelaskan situasinya. Kemudian ia menutup telfonnya secara sepihak.
“kenapa?” Taya Gama penuh selidik.
“anak-anakmu sedang mengamuk dirumah. Sepertinya aku harus segera pulang.” Jawab Ayyara terkekeh.
Padahal aku masih ingin kau menemaniku disini..” Dengus Gama.
“tidak boleh begitu. Masih ada yang lebih membutuhkanmu.” Jawab Ayyara menunjuk ke arah meja kerja Gama dengan dagunya. Dimana berkas-berkas yang masih tersisa separuhnya untuk dia tinjau berada.
“yasudah, hati-hati dijalan. Akan aku usahakan pulang cepat malam ini. Tunggu aku ya..” Rayu Gama dengan kerlingan mata manja.
“tentu saja. Aku akan menunggumu.” Ujar Ayyara kemudian.
Dan setelah ritual Gama, iapun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dengan perasaan tenang. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Gama akan memiliki hati sebesar itu. Walaupun kejahatan Maya sudah tidak terhitung jumlahnya.
__ADS_1
Dia bangga. Karna suaminya ternyata bukan tipikal orang kaya yang mau melenyapkan nyawa orang begitu saja. Dia bahkan punya cara yang lebih kejam untuk membalaskan dendamnya. Elegan, tapi punya efek yang luar biasa. Karna dia bisa melihat tatapan mata menyerah milik Maya. Dan merasakan ucapan penyesalan dari wanita itu.