Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Membunuh Rindu.


__ADS_3

Sudah selama empat tahun ini Ayyara hidup mandiri besama dua malaikat mungilnya yang ia beri nama Arjuna Putra dan Aryana Putri. Kebahagiannya berangsur-angsur datang setelah ia melahirkan bayi kembarnya itu. Walaupun masih ada rasa sakit dihatinya tentu saja. Ia masih sangat merindukan sosok Gama.


Ayyara baru saja pulang menjemput Juna dan Ana dari sekolah PAUD mereka, Ayyara segera kembali ke cafenya yang ada dipusat kota kecil itu. Karna Riski, adik Risma, sudah berkali-kali menelfonnya untuk segera datang ke cafe. Pria itu kewalahan melayani pengunjung, walaupun sudah dibantu dengan dua karyawan lainnya.


Ya, Ayyara sudah membuka sebuah Cafe yang khusus menyajikan minuman kopi khas Gayo. Dari situlah ia bisa membiayai kebutuhannya dan juga kebutuhan Juna dan Ana. Dia dibantu oleh Riski yang baru saja selesai kuliah.


Hari ini cafenya sangat ramai. Karna besok akan ada acara pembukaan bandara yang baru saja dibangun oleh pemerintah setempat. Cafenya yang berada persis disebelah bandara membuatnya kebanjiran pembeli yang berasal dari masyarakat setempat. Ada juga yang dari luar kota. Karna kabarnya akan dihadiri langsung oleh bapak presiden. Pelanggan bahkan sampai mengantri di luar cafe untuk membeli kopi.


“Jun sayang, disini saja ya, jaga Ana. Jangan pergi kemanapun. Jangan menghilang dari pandangan Mama ya, mengerti?” Ucap Ayyara kepada si bungsu, Juna. Ayyara kemudian mengecup masing-masing kening kedua bocil itu dan meninggalkan mereka di area play ground khusus anak yang memang disediakan di cafe itu.


Walaupun Ana lebih dulu lahir 2 menit sebelum Juna, tapi Juna lebih dewasa sikapnya. Memang Juna pendiam, tapi ia selalu menjaga sang kakak, Ana. Sedangkan Ana, sikapnya lebih lincah dan cerewet. Selalu saja menghilang dan membuat Ayyara khawatir.


Prang.!!


Suara gelas pecah mengagetkan semua yang ada didalam cafe. termasuk Ayyara. Seorang pria paruh baya yang mengenakan topi dan berkacamata sedang berdiri mematung menatap pecahan gelas yang terjatuh dari tangannya. Ayyara segera menghampiri pria paruh baya itu dan langsung memunguti pecahan gelasnya.


“anda tidak apa-apa tuan?” Tanya Ayyara menatap lurus kepada pria brewok itu.


“oh,, eh,, saya tidak apa-apa.” Jawab pria itu kemudian kembali duduk di kursinya. Dia nampak gemetar. Mungkin merasa tidak enak karna sudah memecahkan gelas dan membuat suara berisik sehingga semua orang menatapnya.


“tidak apa-apa tuan. Kami akan mengganti minuman anda.” Jelas Ayyara lagi.


Setelah selesai membersihkan pecahan gelas yang berserak di lantai, Ayyara segera kembali ke belakang untuk membuatkan kopi si pria brewok. Ia menyuruh salah satu karyawannya untuk mengantarkan ke meja pria itu. Sedangkan dia kembali disibukkan oleh pesanan pelanggan yang lain.

__ADS_1


Berkali-kali Ayyara mengusap peluh di keringatnya. Dia sangat lelah. Begitu juga dengan Riski dan dua karyawan lain. Sudah hampir jam makan siang, jadi pelanggan sekalian meminta di buatkan makan siang. Dan hal itu membuat Ayyara semakin kerepotan. Tapi disela kerepotannya itu, ia selalu menyempatkan melirik kearah Juna dan Ana yang sedang asyik bermain bola. Kemudian ia akan tersenyum kepada mereka dan kembali melanjutkan menyiapkan pesanan pelanggan.


Tapi tiba-tiba Jun berlari menghampiri sang Mama.


“Ma, Ana beldalah.” Kata Jun yang masih belum bisa menyebut huruf R.


Laporan Jun membuat Ayyara langsung menghentikan aktifitasnya dan langsung berlari mengahampiri Ana. Tapi Ayyara terkejut saat disana sudah ada si bapak brewok yang sedang menggendong Ana sambil menenangkan gadis kecil itu. Nampak si bapak yang sedang menyesap jari telunjuk Ana.


“dia menangis. Sepertinya tangannya terluka.” Jawab si bapak brewok sambil menyerahkan Ana kepada Ayyara.


“trimaksih tuan.” Jawab Ayyara.


“apa kau terluka? Bisa kau tunjukkan pada Mama?” Kata Ayyara setenang mungkin. Padahal hatinya sedang dilanda kekhawatiran.


"Mama..... Sa ittt...” Jerit si Ana kecil. Ia kembali menangis di pelukan Ayyara.


“sudah,, tidak apa-apa. Anak pintar tidak boleh menangis.” Rayu Ayyara sambil mengelus punggung Ana.


“trimakasih banyak tuan.” Ucap Ayyara lagi kepada si bapak brewok yang masih berdiri di sampingnya.


“sama-sama..” Setelah mengangguk, pria yang tidak melepaskan kaca mata hitamnya itu kemudian pergi keluar dari cafe.


“sayangku Ana. Hati-hati kalau sedang bermain ya. Kau membuat Mama khawatir sayang.” Kata Ayyara kemudian kembali memeluk si gadis kecil. “sudah. Main lagi sama Jun ya,,” pinta Ayyara lagi. Dan dijawab oleh anggukan dari kepala mungil Ana. Setelah menenangkan Ana, Ayyara kembali dengan kesibukannya melayani pesanan pelanggan.

__ADS_1


Hanya sampai sore saja Ayyara berada di cafe. Karna ia harus pulang dan mengurus kedua malaikat kecilnya. Selebihnya ia menyerahkan cafe kepada Riski dan dua karyawannya yang lain.


Setelah sampai dirumahnya, Ayyara segera memandikan Juna dan Ana. Kemudian memasak makanan untuk mereka. Selesai makan malam, Ayyara menemani kedua anaknya bermain di teras rumah.


Rumah Ayyara merupakan sebuah ruko yang berada di antara toko-toko yang lain. Sehingga walaupun sudah malam, suasananya masih ramai. Karna toko-toko itu buka sampai jam 10 malam.


Ayyara sedang asyik dengan ponselnya. Ia sedang mengobati rasa rindunya dengan membaca berita tentang Gama dan GD Group. Itu adalah rutinitasnya hampir setiap malam. Ia akan memandangi foto-foto Gama yang ada di internet sampai puas. Salah satu cara membunuh rindu kepada pria yang sangat dicintainya itu.


Tapi foto-foto itu adalah foto-foto lama. Tidak ada kabar terbaru dari Gama ataupun fotonya. Tapi itu cukup untuk mengobati rindu Ayyara kepada pria itu. Perlahan ia meremas dadanya. Rasa sakit karna rindu itu sama sekali tidak berkurang. Yang ada justru bertambah. Air matanya kembali menetes. Ia buru-buru menghapusnya. Ia tidak ingin terlihat sedih di depan kedua anak-anaknya.


“Ma... Ini..” Kata si kecil Ana. Ia membawa sebuah plastik kresek ditangan kecilnya.


“apa ini sayang?” Tanya Ayyara sambil menerima plastik itu. Ia membuka ikatannya. Dan ternyata ada beberapa buah apel didalamnya. “siapa yang memberimu apel ini Ana?” Tanya Ayyara dengan suara lembutnya.


“o om.” Jawab Ana.


Ayyara mengernyitkan keningnya. Penasaran siapa yang memberi Ana apel sebanyak itu. Jun yang mendengar kata apel langsung menghampiri Mamanya dan meninggalkan mobil-mobilan yang sedang ia mainkan di teras.


“mau.” Kata Jun meminta buah kesukaannya itu. Begitu juga dengan Ana. Ia segera meminta bagiannya kepada Ayyara.


Setelah memberi Jun dan Ana masing-masing satu buah apel. Ayyara meletakkan bungkusan itu ke lantai begitu saja. Kemudian ia berjalan ke arah jalan raya dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari orang yang telah memberi mereka buah apel.


“apa Riski? Tapi kenapa dia tidak mampir.” Gumam Ayyara.

__ADS_1


Setelah tidak menemukan siapapun, Ayyara kemudian mengajak masuk kedua anaknya untuk menidurkan mereka.


__ADS_2