Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
The Power Of Kepepet.


__ADS_3

Ayyara turun dari kamarnya dan berjalan ke depan. Ia mencari Toni. Baru saja Gama menelfon kalau dia tidak bisa mengantarkannya pergi ke rumah sakit. Jadi dia berencana meminta Toni untuk mengantarkannya.


“pak Toni, bisa minta tolong antarkan saya ke rumah sakit?” Tanya Ayyara dengan sopan.


“baik Nona. Saya akan menyiapkan mobil.”


“baiklah, kalau begitu aku akan bersiap-siap dulu.”


Kemudian Ayyara segera kembali masuk dan mengganti pakaiannya. Setelah rapi berpakaian, ia keluar dan ternyata Toni sudah siap di depan rumah bersama mobilnya.


Ayyara langsung saja masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Toni.


Sepanjang perjalanan, Ayyara tak berbicara sama sekali. Ia hanya sibuk bermain dengan sosial medianya. Dia bahkan tidak sadar kalau mobil sudah dekat dengan rumah sakit. Senyumnya tersungging saat ia melihat ponselnya berdering dan nama Gama tertera disana.


“halo sayang,”


“aku sudah di rumah sakit. Kau dimana?” Tanya Gama di seberang.


“em.. Aku juga sudah hampir sampai.”


“yasudah. Aku tunggu dilobi ya.”


setelah sekitar lima menit menunggu, senyum Gama merekah saat dia melihat Ayyara yang sedang berjalan menghampirinya. wanitanya itu juga tersenyum kepadanya.


“sudah lama sayang?” tanya Ayyara.


“lumayan.” jawab Gama. baginya, lima menit menunggu kedatangan Ayyara adalah lumayan lama.


“haha.. tadi bilang tidak bisa antar, kenapa tiba-tiba ada disini”


“karna aku tidak bisa menahan rinduku pada kalian.” kata Gama menatap perut Ayyara.


setelah terkekeh, mereka berduapun langsung menuju ke ruangan dokter spesialis kandungan bernama dokter Hafni. Wulan dengan setia menemani putra pemilik rumah sakitnya itu.


dokter paruh baya itu melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Ayyara dan janinnya. dia bahkan memperdengarkn detak jantung janin yang ada di perut Ayyara.


Gama dan Ayyara tertawa bahagia saat mendengar detak jantung itu. ada rasa hangat yang mengalir ke hati mereka. dengan erat Gama menggenggam tangan Ayyara.


selesai periksa, Gama dan Ayyara langsung berpamitan pulang. dengan diantar oleh Wulan sampai ke lobi rumah sakit.


“sayang, apa kau akan kembali ke kantor?”


Gama melirik jam di pergelangan tangannya. jam 5 kuang. rapatnya pasti blum selesai.

__ADS_1


“sepertinya iya sayang. aku akan mengantarmu pulang dulu, setelah itu baru aku kembali ke kantor.”


“tidak usah. ada pak Toni yang akan mengantarku. kau kembali saja ke kantor.” jawab Ayyar, ia tidak mau merepotkan Gama dengan bolak-balik kerumah-kantor.


“eemm,,” Gama nampak berfikir sejenak. kemudian ia menganggukan kepala perlahan tanda setuju dengan ide Ayyara.


“sayang, bolehkah aku pergi ke rumah lama ku? aku ingin membereskan beberapa barang.” pinta Ayyara.


“baiklah. tapi hati-hati ya..” Gama pun memberi izin.


Gama mengantarkan Ayyara sampai ke mobil yang dinaiki oleh istrinya itu. kemudian dia melakukan ritualnya bahkan dihadapan Toni yang memerah mukanya.


“antar dia hati-hati..” perintah Gama kepada Toni.


“baik tuan.” jawab Toni patuh.


setelah melihat mobil yang membawa istrinya pergi dari area rumah sakit sampai menghilang dari pandangannya, barulah Gama pun masuk kedalam mobilnya sendiri dan kemudian pergi menuju ke kantor.


***


Ayyara memandangi rumah yang di sudut-sudutnya sudah dipenuhi oleh sarang laba-laba itu. bahkan figura kedua orang tuanya yang juga tak luput dari serangan si laba-laba.


“pak Toni kalau mau pergi, pergi saja dulu. sepertinya aku akan lama disini. nanti kalau aku sudah selesai bebersih, aku akan menelfon pak Toni.” jelas Ayyara kemudian kepada Toni yang berdiri di luar rumahnya


“hufh...”


Ayyara menghembuskan nafasnya kuat-kuat. ia siap untuk bertarung melawan gerombolan laba-laba dan pasukannya.


ia menutup rapat pintu depan. dan mulai bekerja.


figura kedua orang tuanya adalah yang pertama ia bersihkan. kemudian meletakkannya di samping pintu. kemudian ia menghampiri sofa bed kesayangannya yang bagian bawahnya sudah usang karna digigiti tikus.


tidak terasa. hari sudah semakin gelap. peluh dan keringat sudah memenuhi sekujur tubuhnya. badannya sudah terasa lengket. jadi Ayyara memutuskan untuk mandi. lagipula acara bersih-bersihnya sudah beres.


segar. itulah yang dirasakan Ayyara saat tubuhnya diguyur oleh air. setelah selesai mandi, ia duduk-duduk di sofa bed kesayangannya sambil mengenang masa-masa ia tinggal dirumah itu. melamun membuat mata Ayyara terasa berat. lama-kelamaan ia pun terlelap.


Ayyara dibangunan oleh sesuatu yang menyeruak masuk kedalam hidungnya. sampai membuatnya terbatuk dan sulit bernafas. hawa panas juga terasa sangat menyengat di kulitnya. perlahan ia membuka matanya. dan mendapati kalau rumahnya sudah dipenuhi oleh asap dan api yang sudah menyala-nyala.


“uhuk. uhuk.”


Ayyara terus terbatuk karna kesulitan bernafas. nafasnya serasa tercekat di paru-paru. ia tak bisa mengeluarkannya.


di luar, ia bisa mendengar orang-orang berteriak panik.

__ADS_1


“to... long...” ucap Ayyara dengan suara yang tidak mau keluar dari mulutnya. “uhuk.. uhuk..”


tubuhnya semakin lemas. mungkin karna ia sudah terlalu banyak menghirup asap. pandangannya sudah mulai kabur. samar ia bisa melihat pintu rumahnya yang mulai dilalap api.


Ayyara menutup hidungnya dengan pergelangan tangannya. ia berusaha merangkak menuju pintu keluar. ia sama sekali sudah tidak bisa bernafas. semakin banyak menghirup asap dan membuat dadanya sakit. pandangannya semakin memudar. tubuhnya semakin melemas.


“to....lo..ng..” ia masih berusaha meminta tolong dengan suara lirihnya.


***


“Toni, dimana kau sekarang? apa istriku masih di rumahnya?” tanya Gama melalui sambungan telfon.


“masih tuan. tapi sekarang saya tidak sedang bersama dengan Nona. saya sedang di warung makan.” jawab Toni.


“baiklah. kau bisa langsung pulang. biar aku yang menjemputnya.” kata Gama lagi.


“baik tuan.”


Gama baru saja selesai memimpin rapatnya. ia melirik jam tangannya, sudah jam 8 malam. dia ingin menjemput istrinya dan mengajaknya makan malam romantis diluar.


“tuan. sepertinya sedang terjadi sesuatu.” ucapan Fadil membuat Gama menundukkan kepalanya untuk melihat lebih jelas kearah depan. Fadil menepikan mobilnya karna jalanan yang menuju ke rumah Ayyara sudah dipadati oleh orang-orang yang mulai berkumpul untuk melihat.


di kejauhan, ia bisa melihat asap yang membumbung tinggi disertai dengan cahaya terang. kepulan asap itu membuat dada Gam bergemuruh. entah kenapa fikirannya langsung tertuju kepada istrinya.


“yara...” ucapnya. ia kemudian langsung turun dari dalam mobil dan berlari membelah kerumunan manusia yang menghalangi jalannya.


“permisi... permisi...” ucapnya meminta jalan.


Gama trus saja menerobos. dan sampailah dia di depan sebuah rumah dengan nyala api yang sudah membesar. masyarakat sekitar berusaha memadamkan api dengan alat seadanya. bahu-membahu mengambil air dari rumah di sekitar dengan ember dan alat apapun yang bisa di gunakan untuk mengambil air. sebagian mereka membantu mengosongkan rumah yang ada di sebelah rumah Ayyara.


disertai dengan teriakan kepanikan dari ibu-ibu pemilik rumah yang berdempetan dengan rumah Ayyara. mereka terus berusaha memadamkan api. sedangkan Gama terkejut sambil membelalakkan matanya.


“Yara... Yara.!!!” teriaknya sambil berusaha merangsek masuk kedalam kobaran api. dengan wajah yang emosi dan panik.


untung saja dia di cegah oleh beberapa orang yang ada disana. mereka memegangi tubuh keker Gama agar tidak masuk kedalam api.


“istri saya pak.! istri saya ada didalam.! tolong lepaskan saya.!” teriak Gama membabi buta. dia terus berusaha melepaskan diri dari tiga orang yang memegangi tubuhnya.


tiga pria yang memegangi Gama tidak sanggup melawan tenaga Gama yang terus memberontak. entah darimana dia mendapatkan tenaga sebesar itu. yang jelas sekarang dia sudah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman mereka.


dengan panik, Gama mengedarkan pandangannya. ia kemudian meraih sebuah handuk yang entah milik siapa, kemudian merebut ember berisi air dari tangan seorang warga dan membasahi handuk itu. kemudian membalutkannya di sekitar wajah dan punggungnya.


“hei.!! jangan masuk.!!” teriak salah seorang warga saat melihat Gama yang langsung merangsek menembus kobaran api.

__ADS_1


ia mendobrak pintu yang sudah dilalap api separuhnya itu dengan sekali tendangan. the power of kepepet. mungkin itulah yang sedang merasuki tubuh Gama. rasa takutnya karna bisa saja api itu malah melahap tubuhnya, hilang. yang ada hanya rasa takut akan kehilangan istrinya.


__ADS_2