
Dafa sedang sibuk mengurusi bisnis travelnya. Dengan di bantu oleh sang istri, Celine. Mereka berdua nampak sangat serius membaca berkas demi berkas di meja mereka masing-masing.
Celine memang wanita yang cerdas. Otaknya encer kalau mengurusi masalah bisnis. Dan hal itu membuat bisnis mereka berkembang dengan pesat.
Sesekali Dafa memperhatikan istrinya itu, lantas kemudian ia tersenyum.
Sudah beberapa tahun ini, kehidupan pernikahannya tenang, dan damai. Sejak ia memutuskan untuk pindah dari rumah ibunya tentu saja. Mereka bahkan sedang serius menjalani tahapan demi tahapan dalam proses bayi tabung.
“sayang, apa kau tidak lelah? Istirahat saja. Biar aku yang mengurus sisanya.” Ucapnya tatkala Dafa menghampiri sang istri dan kemudian memeluknya dari belakang.
Celine menurut. Karna dokter juga sudah mewanti-wantinya untuk tidak terlalu banyak bekerja sehingga membuatnya lelah. Ia kemudian memilih rebahan di sofa sambil bermain dengan ponselnya.
Celine mengernyit saat membaca sebuah berita tentang mantan koleganya dulu. Dian.
Disana disebutkan, bahwa Dian telah diringkus polisi karna diduga telah membunuh kakaknya sendiri dengan memanipulasinya sebagai kecelakaan.
“astaga,,,” selorohnya.
“kenapa sayang?”
“Dian, yang dulu pernah bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja, ditangkap polisi sayang. Katanya dia membunuh kakaknya dan disamarkan sebagai kecelakaan.” Jawab Celine tidak percaya.
“tidak ada kejahatan yang sempurna. Waspadalah. Waspadalah.” Ujar Dafa dengan suara mengikuti salah satu progam televisi.
Celine hanya terkekeh mendengar selorohan suaminya itu. Tapi tiba-tiba mereka kompak meihat kearah pintu saat terdengar pintu di ketuk dari luar.
“ya?” Jawab Celine.
__ADS_1
Kemudian pintu ruangan itupun terbuka. Dan muncullah seseorang yang tidak pernah Dafa dan Celine duga sebelumnya.
Dengan menundukkan wajah, namun tetap menatap kepada celin dan Dafa, Rini masuk kedalam ruangan anak dan menantunya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
“mama?” Ucap Dafa tidak percaya. Ibunya yang tidak pernah sekalipun bertandang ke kantornya kali ini muncul dengan wajah pias. Ia langsung berdiri dari duduknya sangking terkejutnya.
“ma?” Timpal Celine. Ia juga tidak percaya dengan kedatangan mertuanya itu.
“Dafa... Celine...hiks,, hiks,,” ujar Rini yang langsung menghambur memeluk putranya. Menumpahkan seluruh kesedihannya di pundak Dafa.
Suasana langsung berubah menjadi canggung. Baik Dafa maupun Celine, hanya mematung saja. Mencoba mencerna kejaDian itu.
Ada kebencian, juga kerinduan di hati Dafa kepada ibunya. Dadanya terasa bergemuruh. Sudah lama ia tidak bertemu dengan ibunya sejak ia memutuskan kontak dengan wanita yang melahirkan dan membesarkannya itu.
“maafkan mama nak.. Maafkan mama..” Ujar Rini masih dalam keadaan menangis.
“Celine.... Hiks.” Ujar Rini kemudian beralih menghampiri menantunya itu dan langsung memeluknya erat. “maafkan mama. Mama baru menyadari semua kesalahan mama setelah kalian pergi dari rumah.”
Ya, butuh waktu lama bagi Rini untuk menyadari kesalahannya. Bahkan saat ia bertemu dengan Ayyara yang membuatnya tersadar seketika. Tentang, betapa pentingnya keluarga. Betapa tidak bijaksananya dirinya jika terus mengekang kehidupan pernikahan putra dan menantunya itu.
“mama minta maaf kepada kalian berdua. Mama sudah menyesal sekarang.” Ujarnya lagi saat Dafa dan Celine membimbingnya untuk duduk disofa.
“tidak ma, kami yang salah karna pergi meninggalkan mama dan menyakiti perasaaan mama.” Ujar Dafa melunak.
“iya, ma. Kami juga minta maaf.” Timpal Celine.
“mama tidak akan mencampuri kehidupan rumah tangga kalian lagi. Cuma kalian yang mama punya. Mama tidak bisa hidup sendiri.” Uajr Rini yang masih sesenggukan.
__ADS_1
Ada perasaan campur aduk di dada mereka masing-masing. Dafa merasa bersalah karna meninggalkan ibunya sendiri. Celin merasa bersalah karna Dafa lebih memilihnya ketimbang ibunya, ada perasaan tidak enak di hatinya.
Sedangkan Rini, tentu menjadi orang yang peling menyesal disini.
Setelah beberapa saat, mereka bertiga sudah bisa menenangkan diri. Dan disitulah Rini mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Ayyara beberapa waktu yang lalu.
“sudah ma, kita tidak harus melihat kebelakang lagi. Mulai sekarang, kita akan menjalani kehidupan kedepannya dengan lebih baik.” Ujar Dafa menenangkan ibunya yang sepertinya akan menangis lagi.
Rini hanya mengangguk, kemudian merengkuh tubuh putra dan menantunya kedalam dekapannya.
Pelajaran yang sangat berharga Rini, agar tidak lagi melebihi batas dalam mengatur rumah tangga anaknya. Penyesalan yang datang setelah dia kehilangan apa yang sudah dia lindungi, tapi dengan cara yang salah.
Rini memejamkan matanya untuk menikmati kehangatan pelukan anak dan menantunya. Begitu juga dengan Dafa dan Celine. Prasaan tidak nyaman yang selama ini bercokol di hati mereka karna berbuatan Rini, kini menguap begitu saja setelah merasakan ketulusan wanita itu.
Perlahan, senyuman mulai mengembang di bibir mereka bertiga.
.
.
.
yuhuuuu... pemirsah, udahan ya episode ekstranya. jangan lupa sedekah vote, dan hadiahnya yaa...🙏
lope,, lope,, lope,,
😘😘😘😘😘😘
__ADS_1