
Hari ini adalah hari terakhir mereka ada di kota pelajar itu. Pagi ini wajah Gama masih saja di tekuk. Sama sejak 3 hari yang lalu.
Bagaimana tidak, sejak pulang dari pantai, Ayyara tidak mau menyediakan stop kontak padanya. Walaupun hari-hari mereka dihabiskan dengan jalan-jalan, belanja, dan makan-makan, tapi kalau sudah pulang, Ayyara akan langsung tertidur setelah mandi tanpa mempedulikan jeritan hati junior yang selalu menangis setiap malam.
Dan itu membuat Gama tak semangat. Ia seperti kehilangan sesuatu yang sangat penting.
Apalagi semalam mereka baru saja pulang dari rumah Micko dan Mala. Gama dirundung kebingungan. Mau mampir, ia memikirkan bagaimana perasaan Ayyara. Kalau tidak mampir juga tidak enak dengan Micko dan Mala.
Akhirnya dengan puluhan bujuk rayu yang dilontarkan Gama, dengan berat hati Ayyara menyanggupi permintaan suaminya itu untuk bergi makan malam di rumah Micko dan Mala.
Jangan ditanya bagaimana kecanggungan mereka disana. Tepatnya kecanggungan Gama dan Ayyara. Sedangkan si tuan rumah tetap bersikap biasa saja.
Disana juga ada Dewi dan Arfan tentunya. Pasangan kekasih itu nampak sangat serasi.
"sayang. Ayo cepat. Mandi." titah 'ibu negara'. Tapi Gama tak bergeming. Ia tetap meringkuk dibalik selimut.
Ayyara tau cara merayu suaminya. Ia mengecup bibir Gama dengan lembut sampai pria itu terbangun.
"kalau tidak boleh di charge, jangan menggoda." sungut Gama. Membuat Ayyara terkekeh. Suaminya itu lucu sekali.
"aku sedang tidak mood melayanimu di jogja. Aku akan memberikan stop kontaknya saat kita tiba di jakarta." Ujar Ayyara.
Dan ternyata rayuan Ayyara berhasil. Setelah mendengar ucapan Ayyara, mata Gama langsung berbinar. Ia tersenyum dengan lebarnya sampai menampakkan deretan gigi-giginya. Kemudian ia segera turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Keduanya keluar dari kamar. Di ruang tamu, sudah menunggu Arfan dan pak Ito. Mereka juga sudah siap berangkat.
Keponakan pak Ito yang mengantar mereka ke bandara. Sepanjang perjalanan Gama terus tersenyum lebar. Bahkan saat sudah didalam pesawatpun dia masih nampak sangat senang.
...****************...
Seperti yang dijanjikan oleh Ayyara, sesampainya dirumah, Gama langsung menagih janji istrinya itu. dan jadilah mereka bekerja keras selama semalaman penuh. Gama seperti dendam karna beberapa hari tidak diberi jatah oleh Ayyara. Dia melampiaskan hasratnya malam itu.
Cup.
Ritual pagi Gama sebelum berangkat ke kantor.
"sayang, jam berapa nanti kontrolnya? Aku akan berusaha pulang secepatnya jadi kita bisa pergi ke rumah sakit bersama"
__ADS_1
"jam 3 sayang." jawab Ayyara dengan suara beratnya.
"baiklah. akan aku usahakan pulang sebelum jam 3. Lanjutkan saja tidurnya. Aku berangkat ke kantor dulu. Love you. Mmuuaahh."
Kecupan terakhir sebelum berangkat ke kantor kembali mendarat di bibir ranum Ayyara.
Seharusnya Gama yang merasa kelelahan setelah aktifitas mereka di jogja yang menguras tenaga. Tapi setelah di charge, semangat Gama kembali full seperti semula. Rasa lelahnya hilang tanpa jejak. Dan dia sudah siap dengan tumpukan berkas-berkas yang pasti sudah menggunung di meja kerjanya.
Benar saja. Begitu ia memasuki ruang kerjanya, tumpukan berkas-berkas sudah berjajar rapi.
Hufh..
Dengus Gama. Ya memang begitulah. Jika dia libur bekerja, maka pekerjaannya akan semakin menumpuk.
Gama meraup udara sepuasnya dan menghembuskannya perlahan. Dia bejalan mendekati kursi kebesarannya. Dan siap memulai tugasnya.
"batalkan jadwalku untuk sore ini." perintah Gama kepada Arfan. "aku akan menemani istriku kontrol kandungan ke rumah sakit. Beritahu Dokter Wulan juga." jelas Gama tanpa diminta.
Arfan yang ternyata sudah tidak jomblo lagi itu langsung melaksakan perintah itu sambil berlalu kedalam ruangannya. Tapi beberapa menit kemudian dia kembali lagi ke ruangan Gama dengan nafas yang terengah-engah.
Arfan tidak bisa membuka pintu dengan pelan.
"astaga. Fan.! Mengejutkanku saja." dengus Gama kesal. "kenapa wajahmu begitu?" tanya Gama.lagi saat melihat wajah Arfan yang panik dan merah padam.
"Tuan. Ada masalah."
"masalah apa lagi?"
"Maya. Wanita itu diam-diam telah melobi pemilik resort di bali yang akan kita akuisisi Tuan." jelas Arfan dengan masih berusaha mengatur nafasnya.
"APA?!!" Gama tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "bagaimana mungkin? Jadi apakah dia berhasil membujuknya?"
"belum tuan."
"bagus. Kita harus bergerak cepat Fan. Segera kumpulkan tim. Kita rapat sekarang.!" titah Gama.
"tapi ini sudah jam 1 tuan. Anda ada jadwal untuk mengantar istri anda ke rumah sakit." Arfan mengingatkan lagi. Kalau mereka rapat sekarang, itu tidak akan selesai sebelum jam 3. Rapat itu akan memakan waktu paling tidak 5 sampai 6 jam.
__ADS_1
"argh.! Bagaimana ini?!" Gama bingung. Dia harus memilih pekerjaan atau mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Dua-duanya penting. Dia tidak bisa memilih salah satunya.
"Gama." panggil seorang pria paruh baya dari pintu. Gama dan Arfan langsung menoleh.
"papa? Ada apa papa kesini?"
"papa mendengar kalau ada masalah dengan akuisisi resort di bali. Jadi Papa berniat membicarakanya denganmu." jawab Tuan Gundala sambir berjalan mendekati sofa, dan kemudian duduk disana. Gama juga ikut duduk disamping papanya.
"aku tidak menduga hal ini Pa. Maafkan karna aku ceroboh kali ini." kata Gama penuh penyesalan. Memang tidak biasanya Gama cwroboh seperti ini.
"jangan terlalu difikirkan. Papa dengar wanita itu belum berhasil melobi Danuarta. Jadi kita masih punya kesempatan. Wanita itu benar-benar memilih waktu yang pas kali ini. Dia menyerang saat kau sedang tidak di kantor. Berhati-hatilah dengannya. Cara dia berbisnis sama persis seperti Ayahnya, licik, dan kejam seperti ular. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan sekecil apapun. Papa dengar, bahkan dia memenjarakan adik kandungnya sendiri kemarin."
"benarkah itu Pa? Kenapa aku belum mendengar kabarnya.?"
"berita itu memang belum di rilis ke publik. Kau harus berhati-hati. Apalagi kau sudah memutus semua kontrak kita dengannya. Dia tidak akan tinggal diam." wajah Tuan Gundala nampak sangat mengkhawatirkan putranya itu.
"kau akan memimpin rapat?" tanya tuan Gundala lagi.
"iya pa, tapi aku bingung. Aku sudah berjanji akan mengantarkan isteiku kontrol kandungan ke rumah sakit. Dia pasti akan kecewa jika aku membatalkannya tiba-tiba." raut wajah Gama nampak masih berusaha mencari solusi.
Ia meraih ponselnya dan menghubungi Ayyara. Dia berencana membatalkan janjinya untuk mengantarnya kerumah sakit.
"tidak apa-apa sayang. Fokus saja bekerja. Aku bisa pergi sendiri. Lagipula Toni akan mengantarku. Jadi tidak perlu khawatir. Ya. Love you." dengan santainya Ayyara menjawab kebingungan suaminya.
Tuan Gundala merasa tidak tega saat melihat raut wajah putranya nampak sangat ingin pergi ke rumah sakit.
"pergilah. Antarkan menantuku. Dan lihat, apakah calon cucuku baik-baik saja. Masalah di kantor, biar Papa yang mengurusnya." tuan Gundala memberi solusi. Membuat mata Gama berbinar karna senang.
"baiklah pa. Kalau begitu aku pergi dulu. Fan, kau bantu papa." perintahnya sebelum menyambar jasnya dan kemudian menghilang di balik pintu.
.
.
.
ngomong-ngomong, kalian bayangin visualnya Gama dan Ayyara itu siapa sih? Mak jadi kepo.🤔🤔🤔🤔🤔
__ADS_1