
hoaaaahhhmm.!!
masih jam 6 pagi, Ayyara sudah siap melepaskan kantuknya dan membuka mata. ia melihat kesamping, tak ada Gama disana. apa dia sudah pergi ke kantor? batinnya.
isshh..! jahat sekali suaminya itu. dia kelaparan sepanjang malam sampai tertidur, tapi Gama tak mempedulikannya. gumamnya pada dirinya sendiri.
setelah membersihkan tubuhnya, Ayyara berniat turun kebawah untuk sarapan. perutnya masih terasa lapar. perasaannya agak sedih dengan sikap Gama yang tak peduli lagi dengannya. pria itu bahkan pergi kekantor dan tak berpamitan dengannya. memikirkan itu, air mata mulai menggenang diujung mata bulatnya.
ia memicingkan alisnya melihat pemandangan di ruang makan. ramai sekali. sepertinya seluruh pekerja dirumah ini sedang berkumpul disana. masing-masing mereka sedang memegang sebuah bungkusan.
ada apa? batin Ayyara.
“sayang... kau sudah bangun?” suara Gama terdengar berat. ia masih sebal dengan kejadian nasi uduk.
“ada apa ini?” tanya Ayyara lagi.
“kami sedang makan bersama.” jawab Gama menahan rasa dongkol dihatinya.
“apa itu?” tanya Ayyara. matanya melirik ke bungkusan yang ada atas meja dihadapan Gama.
“nasi uduk..” jawab Gama santai.
wah, dasar keterlaluan. aku yang minta dia tidak mau menuruti, sekarang malah mentraktir semua orang yang ada dirumah ini. dengus Ayyara dalam hati.
“kau mau?”
Ayyara hanya terdiam. ia menelan ludah diam-diam. namun ia kemudian duduk di meja makan juga.
“semalam aku yang meminta nasi uduk, tapi kau tak mau membelikanku. kenapa tiba-tiba beli nasi uduk sebanyak ini?” selidik Ayyara.
“ini semua aku beli dini hari tadi.” jawab Gama melebih-lebihkan. “setelah kau memintanya, aku langsung mencarikannya untukmu. tapi setelah dapat, kau malah tertidur pulas. tidak mau bangun” jelas Gama.
"benarkah?”
jadi Gama bukan tidak peduli padanya? gumamnya dalam hati.
__ADS_1
“aaa!” kata Gama lagi. ia menyodorkan sendok berisi nasi uduk kehadapan mulut Ayyara. menyuruh istrinya itu untuk membuka mulut. dengan pandangan yang masih melirik, Ayyara tetap membuka mulutnya. ia mengunyahnya dengan semangat.
“sayang, aku sudah mengakuisisi perusahaanmu. si brengsek itu akan segera pergi dari sana. dan perusahaan itu akan jadi milikmu seutuhnya.” jelas Gama.
“aku sudah dengar darinya. trimakasih sayang. benar katamu, kalau kau tidak turun tangan, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. dia benar-benar keras kepala.”
mendengar pembicaraan serius di antara kedua majikan itu, para penghuni rumah yang lain segera menyingkir dari sana. mereka bahkan membawa sisa nasi uduk yang baru mereka makan setengahnya. entah kenapa mereka merasa canggung berada ditengah-tengah pembicaran serius itu.
sedangkan wajah Gama sedikit memerah. hatinya cemburu mendengar wanitanya itu membicarakan pria lain.
“kenapa kau tidak jadi membeli kalungnya?” entah apa yang ingin diketahui Gama dengan menanyakan hal seperti itu.
“apa maksudmu?”
“aku mendengarnya kemarin. tentang sebuah kalung.”
mendengar ucapan dingin Gama, Ayyara jadi tak berselera makan. pertanyaannya membuat Ayyara merasa sebal. apa maksud Gama dengan menanyakan hal seperti itu?
“aku dengar, kalung itu adalah kalung yang pernah pria itu berikan padamu dulu.” Gama masih tak mau menghentikna aksinya. ia sedang cemburu.
“cemburu? apa aku harus cemburu?” tangkis Gama. ia sudah menyelesaikan makanannya, dan beralih menatap layar ponsel.
“hei,,, tidak perlu disembunyikan. aku tau kalau kau sedang cemburu.” balas Ayyara lagi.
“terserahlah.” raut wajah Gama berubah dingin. ia jadi malas menanggapi istrinya.
“apa kau marah?”
“tidak. aku hanya merasa kelelahan setelah kau membangunkanku jam 3 pagi. kemudian kau menyuruhku untuk membelikanmu nasi uduk, dan aku menurutinya. tapi setelah si nasi uduk datang, kau malah tertidur pulas dibalik selimut. dan saat kau bangun, kau malah bertanya tentang nasi uduk. apa semua wanita hamil memang begitu? merepotkan para suami saja.”
Gama tidak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. dia baru saja melemparkan bom molotov kepada Ayyara. membuat sudut bibir gadis itu kembali tertarik kebawah. tapi Gama tak memperhatikan.
“bukan aku yang ingin begini.! ini adalah hasil perbuatanmu.!!” tiba-tiba Ayyara berdiri dan berteriak sambil memegangi perutnya. teriakan itu membuat Gama sadar dengan ucapannya barusan. dia terkejut bukan main saat melihat Ayyara yang sudah berlinangan air mata.
“saya......ng” ucapnya lirih. tapi ucapan itu tak terdengar lagi oleh Ayyara. karna istrinya itu sudah berlari menuju kekamarnya sambil menangis.
__ADS_1
merasa bersalah, Gama mengikuti Ayyara ke kamar. tapi ia tidak bisa membuka pintunya. sepertinya Ayyara telah menguncinya dari dalam.
"sayang.!! maafkan aku.! aku tidak bermaksud seperti itu.” bujuk Gama di depan pinth.
“pergi.!!” teriak Ayyara dari dalam kamar.
“Yara sayang,, maafkan aku. buka pintunya..”
Ayyara tak lagi menjawab. dan tidak lagi terdengar suara isak tangis dari dalam kamar. membuat Gama menjadi khawatir. ia kembali mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, tapi Ayyara tak bergeming. Gama bertambah panik. ia berteriak memanggil pak Ito. pria paruh baya ber blangkon itu segera berlari menghampiri tuannya.
“ada apa tuan?” tanya pak Ito.
“cepat ambilkan kunci cadangan pak.!” perintah Gama
pria paruh baya itu langsung melesat dan datang sesaat kemudian dengan membawa kunci cadangan untuk kamar Gama.
“sayang..!” panggil gama. ia mengedarkan pandangannya mencari sosok istrinya. tapi ia tidak menemukannya.
“sayang.!!!” panggilnya lagi. ia mencari kesegala sudut ruangan. dibantu oleh pak Ito. Gama bahkan mengecek balkon kamarnya. fikirannya sudah melayang kemana-mana. dengan frustasi ia meremas rambutnya sendiri.
“lho? kok bisa masuk?” tanya Ayyara dengan polosnya. ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Gama sontak menolehkan kepalanya ke arah suara. dan segera berlari kemudian langsung memeluk istrinya itu dengan erat. ia mngutuki otak cerdasnya karna sudah berfikiran yang tidak-tidak tadi.
“kenapa tidak menyahut?!” masih ada sisa kekhawatirn di raut wajah Gama.
“aku di kamar mandi, tadi tiba-tiba perutku terasa mulas sekali. aku menghidupkan keran air, jadi tidak mendengar panggilanmu.” kesedihan Ayyara hilang sementara.
pak Ito yang menjadi saksi bisu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat siaran langsung drama pagi hari yang baru saja ia lihat. tidak mau terlibat lebih jauh, pak Ito memilih keluar dari kamar itu.
“aku fikir kau marah padaku.” singgung Gama. perkataan itu memangil kesedihan Ayyara kembali.
“tega sekali kau menyalahkanku atas kehamilanku?” Ayyar kembali berang.
“maafkan aku sayang. aku tidak bermaksud menyakitimu. ini semua gara-gara nasi uduk. jangan marah lagi, ya..” rayu Gama dengan tatapan manis seperti kucing.
__ADS_1