
Ayyara terus saja mencari di sela-sela mobil. Air matanya terus saja mengalir. Hatinya di penuhi rasa khawatir. Sampai tiba-tiba seseorang berjalan mendekat dan langsung memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Ayyara tidak bisa melihat orang itu. karna suasana disana lumayan gelap. hanya di terangi oleh lampu jalan yang jaraknya juga jauh darinya.
pelukan itu seperti dejavu bagi Ayyara. rasa sentuhan dari tubuh itu, ia seperti mengenalnya. tapi ia tidak ingin berprasangka yang akan membuat hatinya kembali sakit jika mengharapkan Gama.
“apa-apaan ini.! Siapa kau.! Lepaskan.!!” teriak Ayyara. Tapi orang yang dilihat dari gestur tubuhnya sepertinya adalah seorang pria itu membuat Ayyara semakin berang saja.
“hei.! orang gila.! lepaskan.!” teriak Ayyara lagi. Karna pria itu tetap tidak mau melepaskan Ayyara.
teriakan Ayyara membuat Riski yang berada tak jauh darinya langsung berlari secepat kilat menuju ketempat Ayyara berada. betapa berangnya dia saat melihat ada seorang pria asing yang memeluk Ayyara dengan sangat erat. Pria itu bahkan tidak mempedulikan Ayyara yang terus memberontak ingin melepaskan diri. Si kecil jun bahkan sampai menangis sangking takutnya.
“apa-apaan kau ini?!” teriak Riski sambil menarik pria itu agar melepaskan diri dari ayyara.
BUK.!!!
tanpa ba bi bu Riski langsung melayangkan kepalannya dan mengenai tulang pipi pria itu.
“AAAA.!!!!” teriak Ayyara lagi. Ia terkejut melihat adegan kekerasan yang tiba-tiba itu.
seketika orang-orang langsung berkerumun. Beberapa petugas polisi yang juga berada tidak jauh dari mereka pun langsung mendekat dan memisahkan Riski yag sedang membabi buta memukuli pria asing yang itu.
Salah seorang anggota polisi memegangi pria itu, dan seorang lagi memegangi Siski yang masih nampak emosi dan masih berusaha menendang dengan kakinya.
“ini aku.!” teriak pria itu kemudian. “Yara. Ini aku.” Ia berusaha melepaskan diri dari kuncian petugas.
Ayyara mengenali suara itu. Suara yang selama ini sangat ia rindukan.
“tolong lepaskan saya pak.” pinta pria itu kepada petugas yang memeganginya.
setelah ia terlepas dari pegangan petugas, pria itu langsung melepas topi yang menutupi hampir separuh wajahnya itu. Dan betapa terkejutnya Ayyara saat mengetahui siapa pria itu.
“Gama...” lirihnya. “bagaimana,, bagaimana,,” ucap Syyara. Ia masih tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat Gama berjalan mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
***
Gama bersemangat kembali ke hotel setelah bertemu dengan putri kecilnya. Hatinya bahagia luar biasa. Ia telah menemukan ayyara. Dan yang tidak diduga oleh Gama adalah, ternyata anaknya kembar. Laki-laki dan perempuan. Itu menambah rasa bahagia sekaligus rindu dihatinya.
dan pagi harinya, Gama meminta diantarkan ke barber shop kepada supirnya. Ia berencana untuk menemui ayyara dan dua malaikat kecilnya itu nanti setelah acara pembukaan bandara telah selesai. Dan tentu saja ia tidak ingin terlihat seberantakan ini di depan Ayyara.
Setelah selesai acara seremoni pemotongan pita oleh Bapak Presiden dan pejabat setempat, dan juga Gama tentunya, mereka langsung duduk di tempat yang sudah disediakan untuk menikmati suguhan tari-tarian khas Gayo yang bernama tari Guel.
Suasananya sangat meriah. Gama ikut menikmati hiburan yang disuguhkan dan makanan khas yang lezat. Sampai ia merasa jenuh dan ingin pergi dari tempat itu. Sebelum ia beranjak, ia menyempatkan diri berpamitan dengan Bapak Presiden yang juga duduk di sampingnya, dan kepada beberapa pejabat lain.
Gama melenggangkan kakinya di tengah-tengah kerumunan. Ia mengedarkan pandangannya kepada deretan tenda-tenda penjual yang menjual berbagai macam makanan.
"permisi tuan.." sapa seorang panitia laki-laki.
"ya?" jawab Gama.
"maaf mengganggu, apa anda pernah melihat gadis ini?" tanya panitia itu seraya menunjukkan foto seorang gadis kecil dari ponselnya. "dia hilang beberapa jam yang lalu disekitar sini. Apa anda pernah melihatnya?"
"hilang? Apa maksudmu dia hilang?!" bentak Gama. Membuat si panitia itu heran. Kenapa dia dimarahi.
"anu.. Itu..." mata Gama yang terbelalak membuat si panitia tidak bisa menjawab.
Gama tidak menunggu jawaban si panitia. Ia langsung berputar arah untuk mencari Ana. Ia terus melangkahkan kakinya ke sembarang tempat.
"Ana.. Dimana kau nak?" ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa khawatir. Ia terus mengedarkan pandangannya.
"Ana.!" panggilnya setiap menemui anak kecil yang sebaya dengan Ana. Dan wajahnya akan kecewa setelah melihat wajah gadis kecil yang ternyata bukan Ana itu.
Disaat yang bersamaan, Gama berniat pergi ke kamar mandi yang terdapat di dalam gedung bandara. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar ada anak kecil yang sedang menangis di pojokan dekat kamar mandi.
Nampak seorang wanita sedang mencoba menenangkan anak kecil itu.
__ADS_1
"siapa namamu?" tanya wanita paruh baya itu. Tapi si gadis kecil tidak menjawab.
"ayo, aku antar ke Mamamu." rayu wanita itu lagi. Tapi si anak tidak bergeming. Ia malah nampak sangat ketakutan. Padahal wanita itu ingin membawa Ana ke pusat informasi.
Gama yang memperhatikan bahwa gadis kecil itu adalah Ana, langsung berlari dan menghampiri Ana. Ia kemudian memeluk erat tubuh mungil itu dan langsung sesenggukan. Dan anehnya, Ana berhenti menangis.
"sudah, tidak apa-apa. Aku menemukanmu, Ana." kata Gama lirih. Ia menciumi setiap inci wajah manis putrinya itu. Ana memandangi wajah asing yang sepertinya ia kenal itu dengan teliti.
"ini aku." ucap Gama sambil melepas kaca mata dan menutupi dagunya dengan telapak tangannya menyerupai jenggot. Ia sadar kalau Ana tidak mengenalinya karna semalam saat mereka bertemu, penampilan Gama masih berantakan dan belum sekeren ini.
"o om.." jawab Ana.
Wanita paruh baya yang menemukan Ana menatap aneh kepada Gama. Ia berfikir Gama hanya berpura-pura mengenal gadis kecil itu untuk menculiknya.
"saya Papanya Bu. Trimakasih atas bantuan anda." Jelas Gama kemudian. Tapi belum bisa menghilangkan raut wajah curiga dari si wanita.
"Ana. Ayo kita temui Mama." ajak Gama kemudian. Lalu ia merentangkan kedua tangannya. Dan saat itu Ana langsung menghambur minta di gendong.
Tingkah Ana berhasil membuat kecurigaan si Ibu menghilang. Ia kemudian pamit pergi.
Hari semakin gelap. Gama berencana membawa Ana ke cafe milik Ayyara. Tapi ia lebih dulu pergi ke mobilnya yang di parkir di tempat yang lumayan jauh.
Di perjalanan, Ana malah terlelap di gendongan Gama dengan masih merangkul leher pria itu. Entah kenapa hati Gama merasa sangat bahagia. Ia senang sekali bisa menggendong putri kecilnya itu di tangannya.
Setelah membaringkan Ana di kursi belakang mobil. Kemudian Gama menelfon supirnya yang entah pergi kemana untuk segera datang. Sambil menunggu, Gama pun duduk dan membuat pahanya menjadi bantal untuk Ana. Tangannya terus mengelus rambut tipis Ana yang berkepang dua itu.
Saat mendengar seseorang tengah memanggil-manggil nama Ana, Gama segera menoleh ke arah belakang mobilnya. Dan ternyata Ayyara yang sedang menggendong Jun berada di sana.
Tanpa berfikir panjang lagi, ia segera menurunkan kepala Ana dengan sangat hati-hati kemudian ia keluar dari mobil.
Gama sudah tidak bisa menahan kerinduannya yang sudah membuncah di dadanya. Dengan senyum sayu ia terus melangkah mendekati Ayyara. Rasa sedih dan bahagia bercampur menjadi satu dan terus mendorong kakinya untuk melangkah semakin dekat dengan Ayyara.
__ADS_1
Dan saat sudah berada di jarak beberapa senti, Gama tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Ia langsung memeluk tubuh wanita yang paling dia rindukan itu dengan erat. Sampai membuat Ayyara terkejut dan berontak.