
Rangga berlari menyelamatkan dirinya keluar gedung. Namun sayang dengan cepat dia langsung dapat dan terjadi baku hantam. Rangga yang sendirian harus melawan beberapa orang yang pasti sanga kuat.
"Bajingan!" umpat Rangga yang hanya bisa memakai saat bertarung melawan orang-orang tersebut. Sangat banyak kemungkinan. Jika Rangga tidak akan menang. Makanya Daniel dengan percaya diri melepaskan ikatan Rangga.
Karena Daniel ingin jadi penonton perkelahian antara Rangga melawan anak buahnya. Tetapi rencana Daniel tidak sesuai ekspektasi yang seharusnya dia senang. Tetapi tidak. Karena tadi Rangga sampai menyerangnya dan membuat Daniel emosi yang ingin langsung menghajar Rangga.
***********
Di Apartemen.
Ziva, Alana, dan Rachel dan Marian sudah tidur. Mereka tidur dalam satu kamar. Karena memang Apartemen tersebut hanya memiliki beberapa kamar saja. Jadi harus berbagi.
Sementara Kiara tidak bisa tidur begitu saja. Karena pasti mengingat suaminya yang tidak tau di mana dan apa yang terjadi pada suaminya itu.
Kiara yang tidak bisa tidur akhirnya keluar dari kamarnya. Kiara menuruni anak tangga dan melihat di teras ada mamanya yang berdiri yang seperti memikirkan sesuatu. Berdiri termenung. Melihat sang mama yang berada di sana membuat Kiara langsung menghampiri mamanya.
"Mah!" tegur Kiara.
"Kiara!" sahut Sahila.
"Mama kenapa belum tidur?" tanya Kiara.
"Kita semua ada di tempat ini ada papa, ada Rachel, kamu, Ziva dan Zavier. Tetapi kakak kamu tidak ada dan mana mungkin mama bisa tidur. Walau mama dan papa pasrah dengan semuanya. Tetapi tetap saja. Naluri seorang ibu tidak bisa membiarkan begitu saja. Ada ketakutan di hati mama," ucap Sahila dengan matanya berkaca-kaca.
"Kiara mengerti perasaan mama. Kiara paham apa yang mama rasakan dan kak Rangga seperti itu juga karena Kiara. Dia terlalu sayang pada Kiara. Tidak melihat keluarganya di injak-injak membuatnya menanam dendam dan ambisi yang sangat tinggi. Kak Rangga di buatkan dengan kekuasaan dan semua itu juga karena Kiara. Kiara yang salah dalam hal itu," ucap Kiara.
"Ini bukan salah siapa-siapa Kiara dan mungkin ini sudah jalan yang terbaik. Dan pasti semuanya sangat berat. Tetapi mau bagaimana lagi. Ini sudah takdir. Jika Allah masih memberikan Rangga kesempatan. Maka akan ada juga jalannya," ucap Sahila.
"Kita berdoa saja mah semoga kak Rangga baik-baik saja," ucap Kiara yang juga mendoakan yang terbaik untuk kakaknya. Sahila menganggukkan kepalanya dan memeluk Putrinya itu dengan erat.
Ibu dan anak itu sama-sama saling menguatkan dengan lakukan mereka.
"Ya Allah aku hanya berharap kepadamu untuk menyelamatkan putraku. Aku tau banyak kesalahan yang di lakukannya. Putraku ya Allah. Aku berserah kepadamu dan semoga dia baik-baik saja," batin Sahila dengan mengirim doa pada Rangga.
Rangga yang sudah tergelatak di tambah yang di hajar habis-habisan anak buah Daniel. Dia memang tidak mungkin memang melawan orang-orang hebat itu.
"Cukup!" titah Daniel dengan suara lantang yang membuat anak buah itu berhenti memukul Rangga dan menyinggir dari Rangga dan Daniel langsung menghampiri Rangga yang sudah tergelatak dengan babak belur.
__ADS_1
Daniel berdiri di hadapan Rangga dan menyunggingkan senyumnya pada Rangga.
"Cuih!" Daniel meludah tepat di wajah Rangga.
"Kau benar-benar tidak tau berterima kasih. Aku sudah melakukan banyak hal kepadamu. Tetapi kau berani menyerangku. Bajingan!" umpat Daniel yang menginjak kaki Rangga dan menekannya begitu kuat.
"Argggghhh!" teriak Rangga dengan menahan sakit. Sudahlah wajah babak belur penuh dengan darah dan sekarang di tambah lagi Daniel yang menginjak kakinya.
Meski Rangga mengeluh kesakitan. Hal itu tidak menghentikannya. Daniel dan bahkan melakukannya lebih parah lagi dan semakin kuat sampai suara Rangga yang berteriak sudah tidak terdengar lagi yang ternyata Rangga sudah pingsan.
Tidak tau Rangga pingsan atau sudah tidak bernyawa lagi.
"Mampus kau!" umpat Daniel dengan mengendus kasar.
"Buang dia ke jurang!" titah Daniel pada anak buahnya itu.
"Baik tuan!" sahut anak buahnya itu.
"Itu akibat jika kau berani menantangku dan matilah kau di neraka," batin Daniel yang sekarang merasa puasa. Dia memang harus menyinggirkan Rangga. Karena Rangga mengetahui semua rahasianya dan Daniel tidak ingin mengambil resiko untuk karirnya yang bisa hancur.
Anak buah Daniel mengangkat tubuh Rangga dan bekas darah yang begitu banyak di tanah. Ternyata Monica ada di lokasi tersebut yang bersembunyi di baling tembok.
***********
Kevin dan Zavier berada di dalam mobil yang di setiri oleh Kevin.
"Kita mau kemana kak Kevin?" tanya Zavier.
"Ke suatu tempat," jawab Rangga.
"Kemana?" tanya Zavier.
"Sebentar lagi akan sampai. Kamu akan tau," jawab Kevin.
"Lalu kak Rangga bagaimana. Apa sudah di temukan pertunjukannya?" tanya Zavier.
"Arya kehilangan jejaknya dan kamu jangan khawatir pasti akan di temukan," jawan Kevin. Zavier hanya menganggukkan saja kepalanya.
__ADS_1
Tidak lama mobil yang di kendarai Kevin berhenti di sebuah rumah dan hal itu membuat Zavier bingung. Karena tidak tau ruamh siapa itu.
"Ayo turun!" ajak Kevin yang membuka sabuk pengamannya dan langsung pergi. Zavier menganggukkan kepalanya dan langsung menyusul Kevin.
Mereka berdua sudah berada di depan rumah tersebut dan Kevin langsung mengetuk.
"Ini aku!" sapa Kevin sembari mengetuk. Pintu itu terbuka yang ternyata Alan membuka pintunya. Rumah itu ternyata tempat persembunyian Alan dan Saras.
"Kevin!" lirih Alan.
"Kak!" sahut Kevin yang langsung memeluk kakaknya dengan erat yang pasti merindukan sang kakak.
Alan dan Saras banyak mengobrol dengan semua yang terjadi sampai akhirnya mereka berhasil menghubungi Kevin dan Kevin sudah datang.
"Bagaimana keadaan kak Saras?" tanya Kevin.
"Ayo masuk!" sahut Alan. Kevin mengangguk dan langsung masuk yang di ikuti Zavier.
Saat mereka masuk, mereka melihat Saras yang terbaring lemah.
"Kak Saras!' lirih Kevin.
"Kevin!" sahut Saras yang lega dengan kedatangan Kevin.
"Kondisi Saras semakin melemah. Banyak racun gas yang terhirupnya dan dia belum mendapatkan penanganan apa-apa," jelas Alan dengan singkat.
"Ayo kita pergi dari sini. Kak Saras harus mendapat penanganan. Jika tidak kondisinya akan memburuk!" ucap Kevin.
"Tapi kita tidak mungkin ke rumah sakit Kevin. Itu sangat bahaya," ucap Alan.
"Bukan kerumah sakit. Tetapi ke Apartemen ku dan di sana juga ada Kiara yang akan membantu kak Saras," jelas Kevin.
"Zavier kamu antar mereka dengan selamat ke Apartemen!" titah Kevin.
"Baik kak," sahut Zavier yang langsung siap melaksanakan perintah tanpa ada kata tapi.
"Lalu kamu?" tanya Alan.
__ADS_1
"Masih banyak yang harus aku kerjakan. Kakak tenang saja. Kalian akan baik-baik saja," ucap Kevin dengan yakin.
Bersambung