
Kiara menuruni anak tangga menuju dapur yang ternyata di dapur ada Rachel!"
"Kak Rachel!" sapa Kiara yang menghampiri Rachel yang sedang membuat minuman.
"Eh Kiara," sahut Rachel yang tersenyum.
"Kakak sedang membuat apa?" tanya Kiara.
"Ini lagi membuat teh untuk papah dan Kevin," jawan Rachel yang melihat ke arah taman. Ternyata ada Kevin dan papanya yang sedang mengobrol santai-santai. Melihat hal manis itu membuat Kiara tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum. Kamu pasti tidak pernah menduga yang jika papa akan memberikan restu untuk kamu dan Kevin!" tebak Rachel.
Kiara menganggukkan kepalanya yang memang masih tidak percaya. Jika dia ada di situasi ini.
"Semua ini karena kak Rachel. Aku awalnya sangat takut meninggalkan kak Rachel di rumah sendirian yang pastinya akan menjadi sasaran kak Rangga. Tetapi ternyata tidak kak Rachel malah ke Surabaya dan melakukan banyak hal sampai mama dan papa merestui aku dan Kevin," ucap Kiara.
Rachel tersenyum mendengarnya dan menghadap Kiara dengan memegang pipi Kiara.
"Kakak sangat tau Kiara perjuangan kamu tidak mudah. Kamu yang hilang ingatan kamu, hilang memori kamu tentang Kevin dan kamu mengalami penderitaan karena amnesia dan sangat berusaha ingin tau segalanya. Kakak menjadi saksi kamu berjuang sendiri. Sampai akhirnya kamu mengingat semuanya. Kakak tidak melakukan apa-apa Kiara. Hanya sedikit saja keberanian untuk datang ke Surabaya dan menyampaikan sebenarnya apa yang terjadi dan semua itu untuk kamu dan juga Kevin. Jadi selagi kakak masih bisa melakukannya maka akan kakak lakukan," ucap Rachel membuat mata Kiara berkaca-kaca.
Kiara langsung memeluk Rachel dengan erat dan Rachel mengelus-elus punggung Kiara yang selalu memberikan Kiara kekuatan.
"Terima kasih kak Rachel. Terima kasih untuk semua yang kakak lakukan," ucap Kiara. Rachel hanya mengangguk saja.
***********
Rachel yang membuat tehnya dan Kiara yang mengantarkannya kepada Danu dan Kevin.
"Pah di minum tehnya!" titah Kiara yang meletakkan di atas meja.
"Kamu duduk Kiara!" titah Danu.
"Ada apa pah?" tanya Kiara.
"Papa ingin bicara pada kamu dan kebetulan Kevin juga masih di sini. Jadi papa harus menyampaikannya," ucap Danu dengan wajah seriusnya. Namun Kiara yang merasa dek-dekan dengan perkataan papanya yang takut terjadi sesuatu.
"Kiara jangan melamun! Ayo duduk!" titah Danu lagi.
__ADS_1
"Iya pah," sahut Kiara yang akhirnya duduk di samping Kevin dengan nampan yang berada di atas pahanya.
"Ada apa ya pah. Apa ada hal yang sangat penting?" tanya Kiara.
"Kamu jangan takut seperti itu Kiara. Tidak ada apa-apa. Jangan terlalu tegang ini pembicaraan yang santai saja," ucap Danu.
Kiara mengangguk. Walau perkataan papanya sangat santai tetapi tetap saja dia sangat dek-dekan dan takut terjadi sesuatu.
"Kiara! Kevin mengatakan kalian tidak bisa lama-lama di Surabaya. Karena Kevin juga harus menyelesaikan masalah di Jakarta dan memang tidak mungkin Kevin lari dari masalah yang pasti akan semakin sangat besar.
"Dan kamu juga harus bersama Kevin bukan. Kamu harus mendampinginya bukan?" tanya Danu.
"Iya pah. Kiara pasti akan mendampingi Kevin," jawab Kiara.
"Dan justru karena itu. Sebelum kamu dan Kevin kembali ke Jakarta. Kalian menikahlah di sini," ucap Danu dengan keputusannya yang membuat Kiara kaget.
Memang Kevin dan Kiara berencana untuk menikah. Tetapi predeksi mereka setelah semua permasalahan selesai dan baru akan menikah.
"Menikah!" sahut Kiara.
Keputusan Danu sangat masuk akal semuanya demi menjaga anak gadisnya. Walau Kevin tidak mungkin melakukan itu. Tetapi tidak ada yang tau. Tinggal satu rumah itu hal aneh tanpa adanya pernikahan. Jadi Danu ingin nama Kiara juga tidak jelek.
"Bagaimana Kiara?" tanya Danu.
"Tetapi bukannya keluarga Kevin belum setuju dengan kami berdua?" tanya Kiara.
"Kiara kita tidak mungkin menikah dengan restu papah dan tujuan ku ke Surabaya untuk restu orang tua mu yang menjadi wali mu untuk menikah denganku dan itu sudah cukup bagiku. Jika ingin mendapatkan restu dari papa. Maka kita berjuang sama-sama dan aku setuju dengan keputusan pak Danu. Kita harus menikah sebelum ke Jakarta dan ketika ada ikatan pernikahan. Tidak ada yang perlu kita jaga lagi. Karena kita sudah menjadi pasangan yang sah dan halal," jelas Kevin yang sepakat dengan Danu.
"Dan sekarang hanya tinggal kamu Kiara. Bagaimana keputusan kamu. Apa kamu setuju dan kalau belum siap. Ya maafkan papa. Papa tidak bisa mengijinkan kamu pergi bersama Kevin tanpa menikah," ucap Danu.
"Kiara setuju kok pah," sahut Kiara dengan cepat membuat Kevin dan Danu tersenyum dengan Kiara yang menjawab begitu cepat.
"Kamu ternyata tidak sabaran," ucap Danu menggoda Kiara m
"Isssss papa apa-apaan sih. Siapa bilang kan papa yang menyuruh," sahut Kiara dengan wajahnya memerah karena malu dan Kevin hanya tersenyum saja dengan Kiara yang menggemaskan.
"Kalau begitu papa akan mempersiapkan pernikahan untuk kalian," ucap Danu.
__ADS_1
"Makasih Pak Danu!" sahut Kevin yang merasa lega. Danu hanya mengangguk saja. Kevin dan Kiara saling melihat yang di pastikan mereka berdua sangat menunggu pernikahan yang menjadi impian ke-2nya.
*********
Kevin berada di pinggir kolam renang yang sedang menelpon. Hanya mendengarkan informasi dari Arya orang kepercayaannya.
"Kak Kevin!" tiba-tiba Zavier memanggil Kevin dan membuat Kevin mematikan panggilan telpon itu yang memang dia sudah selesai menelpon.
"Zavier," sahut Kevin yang memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Maaf mengganggu kak. Apa kakak sedang sibuk?" tanya Zavier.
"Tidak sama sekali," jawab Kevin.
"Memang ada apa?" tanya Kevin.
"Ehmmmm itu. Aku mau tanya hmmm, bagaimana kabar Alana?" tanya Zavier pada asik bungsu Kevin dari istri ke-3 papanya dan Alana dulu teman 1 kelas Zavier dan Ziva.
"Alana baik-baik saja. Dia kuliah di Luar Negri," jawab Kevin.
"Oh syukurlah. Sudah lama sekali tidak bertemu dengannya," ucap Zavier.
"Iya kamu benar. Sejak lulus SMA. Alana juga tidak pernah pulang. Dia terus menetap di Luar Negri. Mungkin lebih nyaman baginya," jawab Kevin.
"Semoga saja Alana baik-baik aja dan sukses di sana," ucap Zavier.
"Amin! Kamu sendiri bagaimana? Apa kuliah kamu lancar?" tanya Kevin.
"Lancar kok kak. Walau semakin lama semakin banyak tugas. Tetapi sejauh ini masih bisa teratasi," ucap Zavier.
"Semoga saja kuliah kamu sukses sama dengan Ziva," ucap Kevin.
"Makasih kak Kevin dan kak Kevin juga apa yang kakak hadapi semoga semuanya baik-baik aja," ucap Zavier.
"Itu pasti," sahut Kevin menepuk bahu Zavier dengan mereka berdua yang sama-sama tersenyum.
Bersambung
__ADS_1