Dokter Itu Masa Laluku.

Dokter Itu Masa Laluku.
Episode 80 Kevin membawanya.


__ADS_3

Kiara dan Kevin berada di dalam mobil dengan ke-2nya yang duduk di belakang dan mobil itu di setir Arya. Tangan ke-2 saling bergenggaman dengan kepala Kiara berada di bahu Kevin. Keduanya sama-sama seperti tidak mau kehilangan satu sama lain yang selalu ingin bersama.


"Kiara," tegur Kevin.


"Hmmm," jawab Kiara.


"Jika bertemu dengan papa. Maka menghindar lah. Aku tidak ingin kamu bicara padanya dan nanti dia juga mengatakan hal-hal yang membuat kamu bingung. Jadi menghindar lah darinya," ucap Kevin yang mengingatkan Kiara.


Kiara mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Kevin.


"Kenapa?" tanya Kiara.


"Aku tidak tau bagaimana cara memberikan alasannya kepada kamu. Namun aku hanya ingin kamu menghindar papa," jawab Kevin.


"Baiklah aku tidak akan tanya alasannya. Jika memang kamu tidak menginginkan hal itu. Maka aku tidak melakukannya dan akan mengikuti apa yang kamu mau," ucap Kiara dengan tersenyum.


"Terima kasih," ucap Kevin. Kiara mengangguk dan mengembalikan posisi kepalanya.


"Aku tau apa yang kamu takutkan. Tetapi kamu tidak perlu menakutkan hal itu. Aku sudah mengingat semuanya dan aku tidak akan takut dengan Mitra Winata. Jika kita saling mencintai. Maka cinta kita akan tetap bertahan dan aku tidak akan membiarkan kamu melawan Mitra Winata sendirian," batin Kiara yang berjanji pada dirinya.


"Semampuku, aku akan berusaha untuk melindungi kamu. Aku berjanji Kiara, aku akan berjuang untuk hubungan kita dan tidak akan membiarkan papa untuk menyakiti kamu. Aku janji itu Kiara," batin Kevin dengan janjinya pada wanita yang sangat di cintainya itu.


"Kita mau kemana?" tanya Kiara mengangkat kepalanya kembali melihat ke arah Kevin.


"Aku ingin mengajakmu ke tempat sesuatu," jawab Kevin.


"Kemana?" tanya Kiara heran dengan dahinya yang mengkerut.


"Kamu akan tau nanti," ucap Kevin yang membuat Kiara penasaran saja.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengikut saja kemana kamu mengajakku," sahut Kiara yang hanya akan menunggu kemana Kevin akan membawanya.


"Terima kasih," ucap Kevin yang mencium pucuk kepala Kiara.


Dratt-dratt-dratttt.


Tiba-tiba ponsel Kevin berdering membuat Kevin mengeluarkan dari sakunya dan ternyata panggilan masuk itu dari Monica dan Kiara melihat siapa yang menelpon. Namun Kevin pasti tidak ingin mengangkat panggilan itu apa lagi ada Kiara di sana.


"Ada apa Kevin? kenapa tidak di angkat?" tanya Kiara.


"Lalu apa aku boleh mengangkatnya?" tanya Kevin balik.

__ADS_1


"Kenapa harus bertanya kepadaku?" tanya Kiara.


"Aku membutuhkan jawabanmu. Aku tidak ingin membuat hatimu resah. Karena aku mengangkat telpon ini. Jadi aku ingin tanya apa aku harus mengangkatnya?" tanya Kevin kembali dengan suara beratnya.


"Aku merasa bahagia malam ini dan mungkin jika mendengarmu bicara dengan wanita lain. Maka pasti ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Jadi aku tidak ingin hatiku sampai memikirkan sesuatu," jawab Kiara.


"Kalau begitu aku tidak harus mengangkatnya," jawab Kevin yang mematikan panggilan itu dan juga ponselnya membuat Kiara tersenyum.


Kevin hanya peduli perasaan Kiara. Dan dia tidak ingin melihat wanitanya akan di landa cemburu. Jadi lebih baik Kevin tidak mengangkat panggilan tersebut.


**********


Ternyata cukup jauh Kevin membawa Kiara. Sampai ke daerah Bogor dan mobil yang di kendarai Arya berhenti di depan sebuah rumah yang bercat putih.


Kiara yang masih berada di dalam mobil heran dengan melihat di sekelilingnya dan bingung dengan tempat tersebut. Pasti menjadi pertanyaan baginya. Kenapa dia di bawa ketempat tersebut.


"Kita sudah sampai?" tanya Kiara.


"Iya benar. Kita sudah sampai," jawab Kevin.


"Di mana ini?" tangan Kiara.


"Ayo turun!" ajak Kevin yang tidak menjawab pertanyaan Kiara.


Ketika mereka berada di luar mobil. Kiara melihat ada beberapa suster yang mondar-mandir dengan kegiatan mereka. Namun tidak melihat ada pasien. Karena memang tempat itu bukan seperti rumah sakit.


"Ini rumah sakit?" tanya Kiara heran.


Untuk di katakan rumah sakit jelas tidak. Tidak ada pemberitahuan rumah sakit dan juga tempat itu tidak seperti rumah sakit. Namun suster yang berlewatan ada lebih dari 2 membuat Kiara menganggap tempat itu rumah sakit.


"Bukan rumah sakit," jawab Kevin.


"Lalu?" tanya Kiara.


Kevin menggenggam tangan Kiara dengan melihat kearah Kiara yang wajah Kiara penuh dengan kebingungan.


"Ayo kita masuk!" ajak Kevin. Kiara mengangguk saja dan mengikuti Kevin.


Kiara berjalan dengan tangan yang tidak lepas dari Kevin yang melihat ke sekitar Kiara. Dan ternyata masih ada suster lagi dan memang seperti rumah sakit dan setiap suster yang berpapasan dengan Kevin akan menundukkan kepalanya.


"Sebenarnya tempat apa ini. Kevin bilang bukan rumah sakit. Tetapi seperti rumah sakit," batin Kiara bingung.

__ADS_1


Mereka terus melangkah dengan pelan-pelan dengan tangan yang masih sama-sama bergenggaman. Dengan wajah Kiara yang penuh dengan kebingungan dan tanda tanya pastinya.


"Tuan!" Sapa seorang Pria yang memakai pakaian Dokter. Kevin hanya mengangguk saja ketika pria itu menyapanya dan berhenti di hadapannya.


Pria tersebut juga tersenyum dengan mengangguk pada Kiara. Dan Kiara hanya tersenyum datar saja bingung berekspresi harus seperti apa.


"Tuan apa kabar?" tanya pria tersebut.


"Saya baik-baik saja," jawab Kevin.


"Tuan ingin menjenguk?" tanya pria itu.


"Iya," jawab Kevin.


"Nyonya Ranti sedang beristirahat. Dia baru saja tertidur," jawab Dokter tersebut.


"Biarkan saya melihatnya saya tidak akan mengganggunya," ucap Kevin.


"Baiklah silahkan kalau begitu. Tuan tunggu sebentar," ucap Dokter tersebut dan langsung pergi. Kevin mengangguk dan menunggu sesuai arahan.


"Ini bukan rumah sakit. Lalu kenapa ada Dokter dan Suster?" tanya Kiara bingung.


"Mereka merawat orang yang sakit di sini," jawab Kevin.


"Siapa yang sakit?" tanya Kiara heran.


"Kamu juga nanti akan tau. Kita tunggu saja," jawab Kevin.


"Membuatku penasaran saja. Sejak tadi. Tidak memberitahu apa-apa. Jadi bagaimana aku tidak penasaran," ucap Kiara yang membuat Kevin tersenyum.


"Tidak ada yang perlu untuk menjadi penasaran. Karena tidak ada apa-apa sama sekali," ucap Kevin.


"Baiklah kalau begitu," sahut Kiara.


"Ayo kita duduk di sini!" ajak Kevin. Kiara mengangguk dan mereka langsung duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Mereka langsung duduk bersebelahan dengan tangan yang masih tidak lepas untuk saling menggenggam dengan mereka yang terlihat sangat bahagia.


Kiara juga kembali menyenderkan kepalanya di bahu Kevin dan Kevin mengelus-elus pucuk kepala Kiara.


"Terima kasih sudah mau ikut denganku," ucap Kevin.


"Sama-sama. Aku memang akan ikut terus dengan kamu," jawab Kiara yang membuat Kevin tersenyum dan mencium pucuk kepala Kiara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2