Dokter Itu Masa Laluku.

Dokter Itu Masa Laluku.
Episode 111 Detik -detik 100 hari


__ADS_3

Monica mengikuti anak buah Daniel yang membuang Rangga kedalam jurang. Rangga terguling masuk kedalam jurang. Setelah anak buah Daniel melaksanakan pekerjaan itu dengan sempurna dan mobil mereka sudah pergi. Barulah Monica ke tepi jurang.


"Rangga ada di bawah sana? Bagaimana ini apa dia masih hidup?" tanya Monica dengan wajahnya yang panik.


"Aku harus melihatnya!" Monica langsung bertindak memberanikan diri menuruni jurang. Hanya menggunakan flash ponselnya Monica pelan-pelan masuk jurang. Dia juga takut terpeleset yang juga bisa terguling masuk jurang sama seperti Rangga.


"Rangga! Rangga!" Monica memanggil-manggil Rangga dengan menyenter ke setiap arah. Karena dia tidak menemukan Rangga.


"Tolong!" terdengar suara pelan yang membuat Monica diam dan mencoba mencari di mana arah suara tersebut.


Sampai akhirnya senter ponsel Monica menemukan sesuatu benda yang bergerak.


"Rangga!" lirih Monica yang langsung menghampiri Rangga.


Monica kaget saat melihat kondisi Rangga yang mengerikan. Sudah tidak terlihat bentuk wajah lagi.


"Rangga!" Monica langsung duduk dan melihat dengan jelas wajah Rangga. Hanya suara lirihan itu yang terdengar sekali dan tidak terdengar lagi setelahnya.


"Rangga bangun! Rangga kamu harus bertahan! Rangga! Kamu tidak bisa pergi begitu saja Rangga. Kamu harus bertahan," ucap Monica mencoba membangunkan Rangga dengan memegang pipi Rangga. Namun Rangga tidak juga bangun membuat Monica panik.


Apa yang di lakukan Rangga kepadanya yang hanya memanfaatkannya membuat Monica membenci Rangga dan bahkan menyuruh Daniel untuk menghancurkan Rangga untuk membalas sakit hatinya.


Namun ternyata di luar dugaannya. Saat melihat Pria yang pasti masih di cintainya itu sekarat membuat hatinya menangis dan takut jika Rangga benar-benar pergi. Cinta Monica selama ini memang sangat tulus kepada Rangga.


*********


Mentari pagi kembali tiba. Di Apartemen mereka sedang sarapan yang di masakan Sahila. Meski tidak tenang karena masalah tidak beres. Tetapi mereka harus tetap mengisi perut mereka karena mereka juga butuh tenaga.


Di tengah mereka yang sarapan tiba-tiba Zavier datang dan membuat perhatian semua orang melihat ke arah Zavier.


"Dokter Saras?" lirih Kiara yang terkejut melihat Saras yang di dalam gendongan suaminya.


"Alan!" sahut Mariana yang kaget melihat Alan yang sudah bangun dari komanya. Begitu juga dengan Alana.


"Kiara tolong kamu bantu Saras. Dia butuh penanganan!" ucap Alan yang panik.


"Ya ampun kak Saras!" Kiara yang langsung menghampiri Saras.


"Ayo bawa kekamar!" titah Kiara. Alan menurut saja dan langsung membawa istrinya itu untuk di tangani Kiara.

__ADS_1


"Ya ampun syukurlah jika Saras sudah selamat dan alan juga sudah tidak koma lagi," ucap Mariana yang merasa lega.


"Zavier apa yang terjadi?" tanya Rachel.


"Aku juga tidak tau kak. Aku hanya di suruh untuk membawa mereka ketempat ini dan aku berhasil membawa mereka dengan selamat. Aku hanya menjalankan tugas yang di perintahkan," jawab Zavier.


"Lalu kak Kevin mana?" tanya Alana.


Dratt-dratt-dratttt-dratt


Ponsel Zavier tiba-tiba berdering dan Zavier langsung mengangkatnya.


"Hallo kak Kevin. Iya mereka berdua sudah sampai,"


"Baiklah kalau begitu," Zavier menutup telpon dengan pembicaraan singkat itu.


"Mah pah dan semuanya aku harus kembali pergi. Kak Kevin membutuhkanku," ucap Zavier pamit begitu saja dengan menundukkan kepalanya.


"Issss apa sih Zavier sok-sokan banget sih. Belum juga memberi informasi apa-apa sudah main pergi aja," cicit Ziva yang jadi kesal.


"Sudah lah Ziva biarkan saja. Zavier sepertinya memang bisa di andalkan," sahut Rachel.


"Isss banyak gaya," cicit Ziva yang kesal sendiri dengan Zavier saudara kembarnya itu.


***********


"Semoga saja Rangga tidak apa-apa dia luka cukup parah aku berharap Rangga bisa di selamatkan," batin Monica dengan perasaannya yang gelisah yang takut Rangga kenapa-kenapa.


Dratt-dratt-dratttt-dratt. Suara ponselnya membuatnya terkejut dan Monica melihat panggilan masuk itu ternyata dari Daniel.


"Daniel! untuk apa dia menelpon!" batin Monica dengan wajah paniknya. Tangannya bergetar saat mendapat telpon dari Daniel.


Monica menghela napasnya dan berusaha untuk tenang lalu mengangkat telpon itu.


"Kau menyuruhku untuk menghabisinya. Tetapi kau malah menyelamatkannya," suara Daniel yang tambak berat langsung terucap membuat Monica kaget dengan jantungnya yang berdebar kencang.


"Apa maksudnya?" tanya Monica dengan menelan salavinya dengan penuh kegugupan.


"Jangan kau pikir aku tidak tau. Apa yang kau lakukan. Kau ingin main-main denganku Monica. Kau sepertinya begitu mencintainya sampai kau ingin mati bersamanya. Baiklah aku akan membuatmu mati bersamanya. Tunggu saja di tempat itu. Kau dan dia akan pindah langsung ke kamar mayat!" Daniel memberikan ancaman yang sangat menjitak.

__ADS_1


Tut-tut-tut-tut-tut-tut.


Tiba-tiba telpon itu mati begitu saja. Monica dengan napasnya yang naik turun tampak sangat panik dengan wajah pucatnya.


"Tidak!" lirih Monica dengan wajah pucatnya.


"Apa yang harus aku lakukan!" Monica ketakutan dengan melihat di sekitarnya. Dia merasa jika Daniel sedang mengawasinya. Makanya Daniel tau dengan apa yang di lakukannya.


************


Mitra Winata berada di dekat mobilnya yang berhenti di pinggir sungai dan anak buahnya yang menghadap di depannya.


"Tuan Rangga sedang berada di rumah sakit. Dia kritis ketika mendapat pukulan yang keras dari orang-orang Daniel!" ucap salah satu anak buahnya itu memberikan informasi.


"Baguslah kalau begitu. Artinya dia meringankan pekerjaanku dan itu berita bagus," sahut Mitra Winata dengan menyunggingkan senyumnya.


"Lalu selanjutnya bagaimana tuan? Apa kita juga akan menghabisi Rangga?" tanya anak buah Mitra Winata yang menunggu perintah.


"Aku ingin melihatnya kerumah sakit," ucap Mitra Winata.


"Baik tuan! Silahkan!" anak buah Mitra Winata langsung membukakan pintu mobil dan Mitra Winata langsung masuk kedalam mobil.


************


Rumah sakit.


Monica masih berada di depan UGD dengan perasaannya yang semakin gelisah.


"Aku berharap Kevin cepat datang dan hanya dia yang bisa membantuku," gumam Monica yang sejak tadi ternyata menunggu-nunggu Kevin.


Monica tidak punya pilihan lain dan langsung menghubungi Kevin. Monica hanya bisa mengandalkannya Kevin dan menurutnya Kevin pasti membantunya. Karena Rangga adalah kakak iparnya.


Ketika Kevin mendapat telpon dari Monica. Kevin, Zavier dan Arya langsung cepat-cepat menuju rumah sakit. Bukan hanya mereka saja. Beberapa anak buah Kevin juga ikut dan setelah melakukan perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


"Ayo cepat!" titah Kevin dengan buru-buru keluar dari mobil. Zavier dan Arya juga ikut dan anak buah Kevin di mobil yang berbeda juga langsung buru-buru keluar dan mengawasi sekitar.


"Kevin!" langkah Kevin terhenti ketika mendengar suara tersebut. Kevin membalikkan tubuhnya dan itu adalah Mitra Winata yang bersama beberapa anak buahnya dan anak buah Kevin juga langsung siaga.


"Pah!" lirih Kevin dengan suara beratnya.

__ADS_1


Mitra Winata menyunggingkan senyumnya dan melangkah mendekati Kevin. Anak buah Kevin langsung bersiap. Namun Kevin mengangkat tangannya untuk menyuruh mereka mundur.


Bersambung


__ADS_2