
Sesampai di rumah Kevin langsung keluar dari mobil dengan berjalan cepat memasuki rumah dan langsung menghampiri ruangan kerja Mitra Winata.
Bruk.
Kevin masuk dengan membuka pintu dengan kasar tanpa mengetuk pintu. Mitra Winata yang sedang berbicara dengan anak buahnya langsung melihat sinis ke arah Kevin yang berdiri di depan pintu.
"Apa kau sudah tidak punya sopan santun dengan masuk sembarangan? Apa tanganmu tidak berguna," ucap Mitra Winata dengan suara dinginnya.
"Aku tidak ingin berbasa-basi dengan papa!"jawab Kevin yang memasuki ruangan itu dan berdiri di depan Mitra Winata tepat di samping Alex yang sedang menghadap Mitra Winata.
"Apa maksud papa. Melakukan penyerangan di pantai?" tanya Kevin yang langsung to the point.
Mitra Winata mengkerutkan dahinya dan begitu juga dengan Alex yang langsung melihat kearah Kevin.
"Papa mengirim orang untuk menyerang ku dan target papa Kiara. Mengirim orang bersenjata dan melakukan penembakan. Papa melakukan semua itu untuk menyinggirkan Kiara,"ucap Kevin dengan semua yang di ketahuinya yang pasti dia sangat yakin semua ada hubungannya dengan papanya.
"Kau sedang menuduhku Kevin," sahut Mitra Winata dengan suara dinginnya.
"Ini bukan tuduhan. Tetapi kenyataannya. Papa di balik semua apa yang aku alami dan Kiara kemarin," tegas Kevin.
"Cukup Kevin. Kau jangan sembarangan bicara. Aku memang ingin menyinggirkan wanita itu. Tetapi aku masih punya cara dan kesempatan padamu untuk mengubah keputusanku dan aku tidak bodoh Kevin yang melakukan penyerangan kepadamu dan berhadapan dengan orang-orang mu yang menyerang balik. Walau anak buahmu dan anak buahku berbeda. Bukan berarti ada pertumpahan darah di antara mereka. Jadi kau jangan menuduhku melakukan hal tolol seperti itu," tegas Mitra Winata yang membantah tuduhan Kevin.
"Papa jangan bersandiwara. Papa jelas-jelas mengatakan ingin menyinggirkan Kiara. Jadi papa tidak bisa bersandiwara di depanku," tegas Kevin.
"Aku memang ingin menyinggirkan gadis itu. Tetapi bukan berarti aku juga menyerang mu. Jadi jangan anggap aku begitu bodoh," tegas Mitra Winata yang menekan suaranya yang tidak terima dengan tuduhan Kevin.
"Terserah papa mengakui semua itu atau tetap bersandiwara. Tapi asal papa tau. Aku benar-benar akan pada ucapanku. Jika Kiara sampai kenapa-kenapa. Itu artinya papa ingin menghancurkan apa yang papa bangun selama ini. Jadi jangan mengganggu wanita ku. Jika ingin semuanya baik-baik saja," ucap Kevin menegaskan.
"Kau semakin berani mengancamku Kevin," ucap Kiara menekan suaranya.
"Aku tidak mengancam hanya mengingatkan saja. Karena aku tidak akan main-main. Jika Wanita ku di ganggu," ucap Kevin dan Kevin langsung pergi meninggalkan ruangan Mitra Winata.
"Sial," umpat Mitra Winata dengan mengumpat.
"Anak itu semakin lama semakin bodoh hanya karena wanita itu. Dan sekarang dia menuduhku. Apa otaknya tidak bisa berfungsi untuk mencari tahu terlebih dahulu siapa pelakunya," umpat Mitra Winata yang semakin marah dengan Kevin.
"Saya harus melakukan apa tuan?" tanya Alex.
"Aku ingin kau cari tau siapa orang yang menyerangnya!" tegas Mitra Winata.
"Baik tuan," sahut Alex.
__ADS_1
"Jika begini terus kau akan mati Kevin. Karena wanita itu lagi-lagi otak mu tidak bisa berpikir dengan benar. Kau benar-benar membuatku muak Kevin," batin Mitra Winata dengan mengepal tangannya melihat kebodohan Kevin yang semakin parah karena hanya cinta.
*********
Mentari pagi kembali tiba Kiara kembali kerumah sakit untuk melakukan tugasnya sebagai seorang Dokter dan Kiara sama sekali tidak akan peduli dengan Rangga yang mencegahnya. Semakin Rangga melarangnya Kiara akan semakin menjadi-jadi. Karena Kiara sengaja ingin memancing Rangga yang akhirnya nanti akan jujur sendiri.
"Kiara!" panggil Amanda yang membuat Kiara berbalik badan.
"Hay Amanda!" sahut Kiara tersenyum dan Amanda menghampiri Kiara.
"Kamu kemana aja. 3 hari tidak masuk?" tanya Amanda.
"Oh itu aku lagi, lagi," Kiara bingung harus menjawab apa. Karena memang dia tidak mempersiapkan jawaban apa-apa.
"Iya-iya aku tau kok. Kamu lagi di suruh Dokter Saras ikut dengan tuan Kevin untuk perjalanan bisnis," ucap Amanda yang membuat Kiara bingung sampai dahinya mengkerut.
"Maksudnya?" tanya Kiara.
"Ya kok maksudnya sih. Kan memang benar kan. Kamu lagi di suruh Dokter Saras buat jalani tugas," ucap Amanda.
"Aneh banget sih kamu Kiara. Dokter Saras sendiri yang bilang sama kita," lanjut Amanda.
"Dokter Saras. Dia mengatakan aku ikut perjalanan bisnis. Apa jangan-jangan Kevin yang mengatakannya pada Dokter Saras dan meminta izin," batin Kiara.
"Oh iya lancar kok. Iya aku memang sedang tugas di luar," jawab Kiara dengan tersenyum yang berusaha untuk tenang dan mengikuti saja alur yang sudah di ciptakan walaupun dia bingung.
"Ya sudah sekarang ayo kita masuk," ucap Amanda. Kiara mengangguk dan mereka masuk.
********
Setelah pulang dari rumah sakit. Kiara mampir ke kantor Kevin yang memang ada jadwal pemeriksaan hari ini. Seharusnya tadi sore. Namun Kevin ada pekerjaan di luar dan Kiara sore ini akan memeriksa Kevin.
Kiara yang turun dari Taxi langsung memasuki perusahaan tersebut.
"Kiara!" suara yang tidak asing itu membuat langsung Kiara terhenti dan langsung membalikkan tubuhnya dengan Kiara yang tersenyum melihat Kevin yang memanggilnya dan Kevin langsung menghampiri Kiara.
"Kamu baru sampai?" tanya Kevin. Kiara menganggukkan kepalanya.
"Kamu sudah makan belum?" tanya Kiara.
"Sudah. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Iya sudah juga untuk makan siang. Namun belum makan malam," jawab Kiara.
"Tetapi ini masih sore. Memang belum waktunya makan malam," ucap Kevin.
"Iya sih," sahut Kiara yang tersenyum malu-malu.
"Apa itu artinya tidak akan keberatan. Jika kita makan malam!" ajak Kevin dengan tiba-tiba yang sepertinya memang tidak di rencanakan.
"Hmmm boleh," sahut Kiara yang tidak masalah ingin makan malam bersama Kevin.
"Baiklah kalau begitu aku akan menjemputmu," ucap Kevin.
"Jangan!" tolak Kiara.
"Kenapa?" tanya Kevin.
"Kita bertemu di Perpustakaan saja atau di pantai," jawab Kiara.
"Kenapa?" tanya Kevin dengan menaikkan alisnya.
"Ya tidak apa-apa," jawab Kiara.
"Baiklah," sahut Kevin dengan tersenyum.
Ya Kiara tidak membiarkan Kevin menjemputnya yang nanti Rangga bisa melihat. Walaupun dia ingin menentang kakaknya itu. Tetap dia juga tidak ingin Rangga bertemu dengan Kevin dan mungkin hal tidak terduga akan terjadi. Jadi lebih baik Kiara tidak mencari masalah.
"Ayo masuk!" ajak Kevin.
Kiara mengangguk dan mereka langsung masuk ke dalam perusahaan dengan langkah yang sama dan bahkan tangan yang mengayun dengan menganggur membuat Kevin menggenggam tangan itu yang membuat Kiara kaget.
Dia merasa canggung jika orang-orang perusahaan melihat mereka.
"Kevin kenapa harus pegangan tangan segala?" tanya Kiara tampak risih dengan melihat di sekitarnya yang takut jadi pusat perhatian.
"Memang ada yang salah?" tanya Kevin.
"Tidak sih. Tapi aku tidak enak di lihati orang," jawab Kiara.
"Tidak ada siapa-siapa Kiara. Jadi jangan merasa tidak enak. Kamu santai saja dan sore-sore begini orang-orang kantor juga sudah banyak yang pulang," ucap Kevin.
"Hmmm, begitu," sahut Kiara tidak yakin. Namun dia harus yakin dan lagian dia juga senang dengan bergenggaman tangan seperti itu bersama Kevin.
__ADS_1
Bersambung