
Pagi hari kembali Rachel dan Rangga sedang sarapan bersama di mana mereka yang sarapan yang tumben-tumbenannya hanya diam tanpa ada obrolan.
"Pagi," sapa Kiara yang menyusul ke meja makan.
"Pagi Kiara," sahut Rangga.
"Pagi," sahut Rachel dengan suara pelan.
"Kak Rangga dan kak Rachel kemarin membahas masalah ingatan, apa ya maksudnya. Apa aku tanya saja ya," batin Kiara yang kepikiran tentang kejadian yang pernah di dengarnya.
"Oh iya Kiara sebaiknya kamu jangan bekerja di rumah sakit Lexus lagi," ucap Rangga yang tiba-tiba.
Rachel sampai berhenti makan dan melihat ke arah Rangga yang tiba-tiba mengeluarkan pernyataan itu.
"Kenapa?" tanya Kiara heran.
"Kamu tidak cocok ada di tempat itu," jawab Rangga.
"Tapi itu tugas dari rumah sakit dan Kiara juga belum menjadi Dokter tetap di sana," jawab Kiara.
"Apapun itu. Kamu minta sama pimpinan kamu yang memindahkan kamu ke rumah sakit Lexus untuk memindahkan kamu kerumah sakit lain," ucap Rangga yang tidak ingin Kiara berada di Lexus.
"Tidak semudah itu kak Rangga. Semua bukan kehendak Dokter. Tetapi semua itu kehendak pimpinan. Kalau Kiara bisa protes. Saat Kiara pernah di kirim ke Papua. Kiara pasti sudah protes dan kita para Dokter yang belum lulus ujian tidak bisa protes dan di tempatkan di manapun itu untuk belajar sampai mendapat rumah sakit yang tetap untuk kita bekerja," jelas Kiara dengan tegas.
"Kalau begitu kakak harus turun tangan yang akan meminta pada pimpinan kamu," sahut Rangga.
"Kak Rangga kenapa jadi mengurus pekerjaan Kiara. Memang kenapa kalau Kiara berada di rumah sakit Lexus?" tanya Kiara.
"Rumah sakit itu Citra nya tidak baik dan kamu tidak boleh di sana. Masih banyak rumah sakit yang jauh lebih bagus jawab Rangga dengan penuh penegasan.
"Jangan memberi alasan yang tidak masuk akal kak Rangga. Rumah sakit Lexus justru yang paling terbaik dari rumah sakit manapun. Jadi kak Rangga jangan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal," ucap Kiara.
"Kiara pergi dulu," ucap Kiara berdiri dari tempat duduknya.
"Kakak belum selesai bicara Kiara," ucap Rangga.
__ADS_1
"Kak Rangga jangan membuat Kiara semakin ingin tau alasan kakak melakukan hal itu. Kakak tidak pernah mencampuri urusan Kiara dan tiba-tiba mencampuri hanya karena rumah sakit. Jangan sampai Irak Kiara berputar yang ingin tau ada apa sebenarnya antara Kiara dan juga Lexus," ucap Kiara yang membuat Rangga dan Rachel kaget dengan mata mereka yang melotot.
Bagaimana mereka tidak kaget dengan perkataan Kiara seolah mengingat sesuatu.
"Kiara pergi dulu!" ucap Kiara yang langsung meninggalkan tempat itu.
"Apa Kiara mengingat semuanya?" tanya Rangga pada Rachel.
"Mungkin tidak. Tetapi cara kakak memperlakukannya membuatnya penasaran dan berusaha untuk mengetahui apa yang mengganjal di hatinya," sahut Rachel.
"Ini pasti gara-gara dia berada di rumah sakit itu. Aku tidak akan membiarkan dia tetap berada di sana," ucap rangga mengepal tangannya yang sekarang harus mulai hati-hati demi adiknya.
"Apa yang harus aku lakukan. Kasihan Kiara. Apa jangan-jangan selama ini Kiara mengalami perang batin, apa lagi terdengar dari caranya bicara," batin Rachel yang melihat ke anehan yang terjadi pada Kiara beberapa hari ini memang sangat aneh, sering bengong.
**********
Rumah sakit.
Saras berada di ruangannya yang seperti biasa sibuk dengan berbagi pekerjaan dengan tumpukan dokumen.
"Masuk!" titah Saras.
Pintu di buka dan Saras melihat ke arah pintu.
"Kiara! Ada apa?" tanya Saras yang kembali melihat pekerjaannya dan Kiara melangkah masuk sampai berdiri di depan meja Saras.
Di tengah kesibukan Saras tiba-tiba terdapat kertas yang di berikan Kiara membuat Saras mengangkat kepalanya dan mengambil kertas itu.
"Apa ini?" tanya Saras.
"Data-data pasien yang ingin periksa," ucap Kiara.
"Siapa pasiennya?" tanya Saras heran.
"Dokter Saras adalah dokter saraf dan saya ingin di periksa," ucap Kiara yang membuat Saras kaget dan melihat ke arah Kiara. Wajah Kiara terlihat penuh pemikiran.
__ADS_1
"Kamu baik-baik aja Kiara?" tanya Saras.
Kiara menggelengkan kepalanya dengan air matanya yang tiba-tiba jatuh dan terlihat dia begitu lelah sampai Kiara berjongkok dan menangis dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.
Kiara sudah lelah dengan apa yang di alaminya dan membuatnya untuk memeriksakan keadaannya. Dia merasa seperti sakit jiwa yang sering merasa aneh. Dia Dokter tetapi sulit untuk memahami dirinya dan semuanya sangat menyiksanya.
Saras menghela napasnya dan berdiri dari tempat duduknya menghampiri Kiara yang menangis sengugukan.
"Kiara?" lirih Saras memegang bahu Kiara.
"Tolong saya Dokter! tolong saya. Saya tidak tau apa yang terjadi," ucap Kiara yang menangis sengugukan dan Saras mencoba untuk menenangkannya dengan memeluk Kiara.
"Kamu tenanglah kita bisa bicara baik-baik. Kamu harus tenang Kiara," ucap Saras yang berbicara dengan lembut dari hati ke hati.
************
Kiara berada di dalam Taxi yang duduk di jok belakang dengan memijat kepalanya. Pandangan matanya selalu kosong dengan pemikirannya yang kemana-mana.
"Aku tidak tau Kiara bagaimana cara memulainya . Kiara kamu bisa kerumah kamu yang ada di Perumahan Lexus. Mungkin kamu bisa menemukan sesuatu di sana. Ini hanya saran saja," ucap Saras yang memberi Kiara saran.
"Untuk apa saya harus ke sana Dokter?" tanya Kiara.
"Tidak tau untuk apa. Tetapi tidak ada salahnya kamu kerumah itu dan bukannya kamu sangat penasaran dengan kenapa kamu pindah. Apa kamu pernah tanya keluarga kamu dan jika tidak ada yang memberi tahu kamu. Itu artinya ada sesuatu. Dan tidak ada salahnya kamu pergi ke sana," ucap Saras yang memberikan Kiara saran.
Saras sangat kasihan kepada Kiara. Pasti karena kedekatannya dengan Kevin membuat Kiara semakin mendekati ingatannya dan perasaannya yang bergejolak.
Namun Saras tidak mungkin menceritakan semuanya dan lebih baik Kiara tau pelan-pelan dan mungkin rumah itu bisa membantu Kiara untuk mengingat sedikit-demi sedikit dari pada semuanya menyiksa Kiara.
"Apa aku harus pergi kerumah itu," batin Kiara yang kepikiran tentang saran dari Saras.
"Tapi bagaimana caranya. Kuncinya ada di mana. Mungkin jika masuk ke lokasinya aku bisa. Aku bisa mengandalkan statusku sebagai Dokter tuan Kevin. Namun untuk masuk ke rumah itu bagaimana. Jika mempertanyakan pada kak Rachel dan kak Rangga itu sama saja tidak akan ada hasilnya dan malah aku yakin mereka akan mencegahku dan jika di cegah itu artinya ada sesuatu," batin Kiara yang bergerutu sendiri yang semakin lama kepalanya bisa pecah karena terlalu banyak pikiran yang masuk.
"Ya Allah apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa perasaan ku tidak pernah tenang, aku selalu memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal dan bahkan halusinasi yang terlalu banyak yang aku hadapi. Ada apa sebenarnya ya Allah," batin Kiara yang kembali meneteskan air matanya yang sudah lelah dengan semua yang di hadapinya.
Bersambung
__ADS_1