Dokter Itu Masa Laluku.

Dokter Itu Masa Laluku.
Bab 98 ucapan Saras benar.


__ADS_3

Kiara berada di dapur yang membatu menghidangkan makanan. Di meja makan sudah ada Danu, Sahila, Mariana, Saras, Ziva, Zavier, Alana dan Rachel. Jadi Kiara masih di dapur yang menuangkan sup kedalam mangkok.


"Hmmmm!" tiba-tiba terdengar suara deheman membuat Kiara menoleh ke belakang yang ternyata Kevin yang memasuki dapur.


"Kamu sedang apa?" tanya Kevin yang tiba-tiba aja sangat canggung dengan Kiara.


"Oh ini aku lagi mindahin sup," jawab Kiara dengan melanjutkan pekerjaannya.


"Aku boleh bantuin?" tanya Kevin.


"Nggak usah udah mau selesai juga kok. Kamu sebaiknya bergabung dengan yang lain aja. Biar aku yang kerjakan," jawab Kiara.


"Tapi itu panas. Aku aja yang angkat," Kevin dengan gercep langsung mengambil alih dari tangan Kiara ketika Kevin melihat Kiara mengangkat mangkuk kaca berisi sup yang panas itu.


"Nggak usah Kevin!" cegah Kiara.


"Nggak apa-apa. Aku aja yang angkat," sahut Kevin yang tidak mau mengalah. Bukan hanya Kevin. Namun ke-2nya sama-sama tidak ada yang mau mengalah.


"Ehem!" tiba-tiba Rachel berdehem yang datang kedapur melihat tingkah pengantin baru itu yang saling rebutan.


"Kak Rachel," sahut Kiara.


"Kalian berdua itu ngapain sih. Ayo cepat bawa supnya ke meja makan yang lain sedang menunggu," ucap Rachel.


"Sini aku aja yang bawa," Kevin yang akhirnya membawa sup tersebut dan Kiara harus mengalah.


"Maaf ya kak Rachel lama," ucap Kevin melewati Rachel.


"Ayo Kiara kita ke meja makan!" ajak Rachel. Kiara mengangguk yang tadi sempat malu juga di depan Rachel. Karena ribut kecil dengan Kevin yang hanya masalah sup.


*********


Mereka akhirnya menikmati makan malam bersama.

__ADS_1


"Bagaimana mbak Mariana apa makanannya enak?" tanya Sahila.


"Sangat enak. Maaf ya kalian repot-repot menyiapkan semua ini pasti kalian semua kesulitan," ucap Mariana yang merasa tidak enak.


"Kami memang kalau menjamu tamu harus seperti ini. Jadi kalau makanannya ada yang tidak enak katakan saja. Jadi jangan di pendam- pendam," sahut Sahila.


"Tapi sayangnya semua makanan ini sangat enak Tante," sahut Saras.


"Makasih Dokter Saras atas pujiannya," sahut Sahila.


"Bukan pujian tetapi ini adalah kenyataan," jawab Saras.


"Alana kamu juga makan yang banyak ya. Jangan malu-malu," ucap Danu.


"Iya Om," sahut Alana dengan tersenyum.


"Oh iya mah pah. Kira-kira boleh tidak Alana tinggal di sini. Dia bilang dia ingin liburan di sini," ucap Ziva menyampaikan apa yang sebelumnya mereka sepakati bersama.


"Alana kamu jangan cari masalah. Papa kamu tau bisa menjadi masalah besar," tegur Mariana yang mengingatkan.


Wajah Alana mendengar kata-kata mamanya membuatnya jadi kecewa. Sama dengan Ziva dan Zavier yang juga sedih. Sementara Kevin dan Kiara saling melihat.


"Tapi itu ide bagus Saras," sahut Saras dengan santai yang mencairkan suasana.


"Bagus apanya Saras. Kamu jangan mencari masalah lebih besar lagi," ucap Mariana mengingatkan.


"Mah Alana kembali ke Jakarta tidak ada yang tau dan jika di berada di sini juga pasti tidak ada yang tau. Lagian Alana juga butuh reflesing. Sejak dulu dia selalu di kekang dan sama di Luar Negri juga. Jadi apa salahnya dia punya kebebesan untuk dirinya sendiri. Dia masih muda dan butuh semua itu," jelas Saras.


"Kebebesan itu bukan untuk keluarga kita dan Alana berbeda dari anak yang lain. Kamu harus mengerti Saras," tegas Mariana.


"Cukup papa yang mengekang semua anaknya dan menjadikannya robot atau mesin. Mama jangan ikut-ikutan. Jika ada kesempatan biarkan Alana memilih jalannya sendiri. Mama hanya punya dua anak. Clarissa dan Alana jangan sampai mama kirim Alana ke rumah sakit jiwa seperti Clarissa. Cukup hanya satu yang menjadi korban. Jangan ada korban ke-2 lagi," ucap Saras mengingatkan hal itu.


Saras santai bicara bahkan sambil makan dan sementara Mariana yang mendengar kata-kata itu langsung terdiam yang kepikiran dengan perkataan Saras.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya ma Alana di sini. Mama jangan khawatir aku dan kak Saras akan melindunginya," sahut Kevin.


"Terserah kalian," sahut Mariana dengan menghela napasnya yang tidak bisa mengatakan apa-apa. Mungkin dia memang harus mengikuti jejak Saras dan Kevin yang harus menantang.


"Ayo kita makan lagi malah bengong," sahut Sahila mengalihkan situasi yang mendadak canggung itu.


*************


Hanya Saras dan Mariana yang kembali ke Jakarta. Alana benar-benar tinggal di Surabaya di rumah Danu dan Sahila. Untuk Kevin dan Kiara baru besok kembali ke Jakarta.


Saras menyetir mobil dan Mariana duduk di sebelahnya dengan diam saja sejak tadi. Mungkin dia kepikiran Alana yang akan terjadi sesuatu pada Alana.


"Mama tidak perlu khawatir Saras akan bertanggung jawab untuk hal ini," ucap Saras.


"Saras apa kamu pikir kita bisa melawan Mitra Winata," ucap Mariana dengan suaranya yang pelan yang terdengar lirihan saja.


"Jika saling bersama maka akan bisa melawannya," jawab Saras.


"Dia punya kehebatan Saras. Dia tidak akan bisa di lawan. Meski dia hanya sendiri dan kita beribu orang. Tetap kita tidak akan bisa di lawan," ucap Mariana.


"Aku mengerti ketakutan mama. Tetapi aku tidak takut sama sekali dengan papa. Aku hanya menantu yang ingin membantu keluargaku," ucap Saras.


"Aku adalah istri ke-3 dari Mitra Winata. Aku harus menikah dengannya. Karena istri pertama dan keduanya belum memiliki anak yang akan menjadi penerus. Bertemu Janika istri ke-2nya dan juga bertemu dengan ibu kandung Kevin adalah pertemuanmu yang mencengangkan. Saat kami menikah aku tidak pernah merasa bahagia. Janika hamil yang melahirkan Alan yang sekarang menjadi suamimu. Setahun kemudian Clarissa putriku lahir dan sekarang di rumah sakit. Lalu istri pertamanya baru hamil setelah 3 tahun yaitu melahirkan Revan dan 2 tahun kemudian melahirkan Kevin dan 7 tahun setelah itu ibu kandung Kevin meninggal bersamaan dengan lahirnya Alana dari rahimku,"


"Selama pernikahan, tinggal satu rumah dengan madu dan anak-anak dari rahim yang berbeda membuatku tidak merasakan apa-apa. Aku hanya mengikuti arus, melihat kekerasan, peraturan dan rasa takut yang aku hadapi setiap hari. Karena bagi Mitra Winata kesalahan kecil akan menjadi besar. Dan aku sampai sekarang tidak punya keberanian untuk menentang atau melakukan apa-apa. Aku hanya istri ketiga dan keturunan kau wanita yang pasti masih rendah dan tidak bisa menentang apa-apa," jelas Mariana dengan wajah senduhnya.


"Dan sudah cukup semua itu mah. Mari mencari ke adilan untuk diri sendiri. Mama membiarkan putri mama di rumah sakit jiwa. Jadi harus mendapatkan keadilan atas perbuatan papa," ucap Saras.


"Aku tidak tau aku bisa melakukannya atau tidak?" tanya Mariana.


"Jika kita bersama. Maka akan bisa," jawab Saras melihat ke arah Mariana dan Mariana juga melihat ke arahnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2