
Pagi seperti biasanya Kiara akan ke rumah sakit untuk beraktivitas seperti biasanya. Saat keluar dari kamar Rangga sudah berdiri di depan pintu yang membuat Kiara kaget.
"Kak Rangga!" lirih Kiara mengelus dadanya yang kaget melihat keberadaan Rangga yang ada di depannya.
"Kakak bikin kaget Kiara saja,"
"Apa harus berdiri di depan pintu. Memang ada apa ?" tanya Kiara.
"Kamu tidak boleh kerumah sakit!" tegas Rangga.
"Kakak kenapa sih harus membahas itu lagi," sahut Kiara dengan menghela napas.
"Kakak bilang kamu tidak boleh kerumah sakit. Maka tidak boleh," tegas Rangga.
"Kak. Aku itu seorang Dokter dan aku sedang menjalankan tugasku sebagai Dokter. Aku di pindahkan dari Surabaya ke Jakarta dan bukan aku yang menginginkan semua ini. Tetapi keputusan dari yang berwewenang. Jadi aku juga tidak bisa memilih di mana tempatku," tegas Kiara yang mungkin penjelasan itu bukan pertama kali di terangkannya kepada Rangga.
"Apapun itu alasannya. Kakak tidak menginginkan kamu untuk bekerja sebagai Dokter di rumah sakit Lexus," tegas Rangga.
"Itu terus yang kakak katakan. Tetapi kakak tidak pernah memberikan alasannya," lirih Kiara.
"Karena Lexus tidak pantas untuk kamu. Jadi berhenti menjadi Dokter di rumah sakit itu termasuk menjadi Dokter pribadi salah satu anak dari Mitra Winata," tegas Rangga penuh dengan penekanan kepada Kiara.
"Udahlah Kiara malas berdebat dengan kakak. Kalau hanya ingin mengatakan itu saja dan itu-itu lagi. Tidak ada gunanya. Karena keputusan Kiara tetap pada keputusan Kiara. Bukan kakak yang memutuskan," ucap Kiara menegaskan yang melangkah karena malas dengan Rangga yang pasti ujung-ujungnya mereka akan bertengkar.
Rangga memegang tangan Kiara saat Kiara melewatinya.
"Kak Rangga lepas!" berontak Kiara yang pergelangan tangannya cukup sakit di pegang Rangga.
"Kakak sudah menyuruhmu untuk berhenti menjadi Dokter di rumah sakit itu. Jadi hentikan semua ini dan jangan bekerja lagi di rumah sakit itu!" tegas Rangga.
"Aku nggak peduli dan kakak tidak berhak untuk melarangku. Jadi terserah aku mau bekerja di rumah sakit itu atau tidak. Aku punya hak untuk bekerja di mana pun yang aku inginkan. Tanpa kakak harus mengganggu ku dan mengaturku," tegas Kiara yang membantah keinginan Rangga.
"Jika seperti itu maka kakak harus lebih tegas kepada kamu dan semua ini kamu yang memintanya," tegas Rangga yang memegang kuat tangan Kiara dan menarik Kiara masuk kedalam kamar dengan paksa.
"Kak Rangga apa yang kakak lakukan. Lepaskan aku!"
"Kak Rangga!"
"Kak Rangga lepas!"
"Kak lepas!"
__ADS_1
Kiara terus memberontak saat Rangga memaksanya masuk kedalam kamar dan menghempaskan adiknya itu ketempat tidur.
"Apa kak Rangga gila!" teriak Kiara dengan penuh emosi yang memegang pergelangan tangannya yang sudah memerah.
"Kak Rangga kenapa sekasar ini kepadaku?"
"Kak Rangga menyakitiku!"
"Kamu tidak bisa di lembutkan. Jadi kakak harus main kekerasan dengan kamu! supaya kamu mengerti," tegas Rangga yang membuat Kiara mengkerutkan dahinya yang heran dengan kakaknya itu.
Rangga bahkan mengambil tas Kiara dan menumpahkan isinya.
"Apa yang kakak lakukan?"
"Kak Rangga hentikan! Kak!" Kiara berusaha menghentikan Rangga yang mengacak-acak isi tasnya yang ternyata Rangga mengambil ponsel Kiara.
"Kak Rangga kembalikan ponselku! Apa yang kakak lakukan! kembalikan!" pinta Kiara.
"Untuk apa mengambilnya?"
"Kembalikan kak Rangga!"
"Ini pelajaran untuk kamu yang tidak pernah mendengarkan kakak. Jadi kamu tetap saja membangkang seperti ini dan ini hukuman untuknya kamu," tegas Rangga yang langsung pergi dari kamar itu.
Kiara yang kaget langsung berlari mengejar Rangga dan Rangga langsung menutup pintu yang tidak sempat di tarik Kiara.
"Kak Rangga buka pintunya!"
"Kak Rangga!" buka"!
"Kak Rangga!"
Kiara menggedor-gedor pintu tersebut. Namun Rangga menguncinya dari luar yang mengurung Kiara di dalam kamar.
"Kak Rangga apa yang kakak lakukan! Buka pintunya!"
"Kak Rangga!"
"Kak! Buka!" Kiara terus berteriak di kamarnya yang memohon pada kakaknya agar membuka pintu kamar.
Sementara Rangga yang di luar kamar langsung mengantungi kunci kamar Kiara dengan menghela napasnya yang seakan lega mengurung Kiara di dalam kamar.
__ADS_1
"Jangan sampai kamu menjadi penghalang Kiara atas dendam ini. Kamu harus mengerti semua ini untuk kamu dan aku sudah berusaha selama ini sangat keras," batin Rangga.
"Apa yang kakak lakukan?" tanya Rachel yang mendengar suara teriakan Kiara.
"Kamu jangan ikut campur dan jangan berani-beraninya membuka pintu kamar ini," jawab Rangga dengan penuh ancaman.
"Kak Rangga Kiara ada di dalam! Apa yang ingin kakak lakukan. Kakak ingin mengurungnya," ucap Rachel.
"Aku sudah mengingatkannya sebelumnya dan dia tidak mau mendengarkanku. Jika tidak seperti ini Kiara akan dalam bahaya. Dan aku melakukan semua ini demi kebaikannya," tegas Rangga.
"Sudahlah kak Rangga hentikan semua ini. Ini sama saja kakak menyakiti Kiara. Tidak ada gunanya dendam kakak kepada mereka. Kakak yang akan rugi nantinya!" tegas Rachel.
"Diam kamu Rachel!" sentak Rangga.
"Kamu jangan sok tau dan jangan ikut campur. Aku yang tau apa yang harus aku lakukan. Jadi kamu sebaiknya diam saja," tegas Rangga.
"Aku tidak bisa diam melihat kak Rangga seperti ini! Apa yang kakak lakukan itu sudah sangat keterlaluan," tegas Rachel.
"Jangan mengajari ku. Aku yang lebih tau apa yang harus aku lakukan. Jika kamu berani membuka pintu ini. Kamu yang akan di kurung. Jadi dengarkan baik-baik dan jangan bertingkah!" tegas Rangga yang langsung pergi.
"Kak Rangga mau kemana?"
"Kasihan Kiara kak!"
"Kak Rangga!" panggil Rachel yang tidak di pedulikan Rangga yang pergi begitu saja.
"Kak Rangga benar-benar stres!" teriak Rachel yang bisa gila dengan kelakukan kakaknya yang semakin di luar nalar yang terlalu obsesi dan pasti mengorbankan banyak orang.
"Apa yang harus aku lakukan!" lirih Rachel memijat kepalanya. Mendengar suara teriakan Kiara yang meminta tolong membuat Rachel tidak bisa melakukan apa-apa dan sangat kasihan pada adiknya itu.
************
Sementara Kiara yang berada di dalam kamarnya, mencoba melakukan banyak hal untuk melakukan sesuatu. Kiara menuju jendela kamarnya dan mencoba untuk membukanya. Ternyata tidak bisa yang sudah di kunci tutup Rangga dari luar dengan menyilangkan kayu pada pintu jendela. Sehingga tidak bisa di buka.
"Kenapa tidak bisa di buka?" ucapnya kebingungan dan mencoba untuk membuka lagi. Namun memang sama sekali tidak bisa di buka.
" Kak Rangga benar-benar keterlaluan! Apa yang di lakukannya. Kenapa dia melakukan hal seperti itu. Kenapa kak Rangga sampai tega melakukan hal itu," ucapnya yang sejak tadi menangis dengan apa yang di lakukan Rangga kepadanya.
Entah kapan Rangga menutup jendela itu. Sepertinya untuk mengurung adiknya benar-benar sudah di lakukannya dari jauh-jauh hari. Dan Kiara sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa karena ponselnya juga di ambil oleh Rangga dan tidak ada yang bisa di lakukannya sama sekali.
Bersambung
__ADS_1