
"Jadi dugaanku benar. Jika selama ini kau hanya pura-pura amnesia, kau hanya memanfaatkan keadaan mu saja!" tebak Mitra Winata dengan mendengus kasar.
"Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana diriku yang pura-pura atau tidak. Tetapi jika anda menginginkan aku untuk mengulik kembali masa lalu yang artinya anda mengijinkan ku untuk membalas perbuatanmu kepada keluargaku," sahut Kiara yang keberaniannya semakin besar yang menunjukkan jika dia tidak takut pada Mitra Winata.
Kata-kata Kiara hanya membuat mutar Winata tertawa-tawa seakan tertawa itu penuh dengan ejekan.
"Kau ingin membalas. Apa yang bisa di lakukan bocah sepertimu hah! Kau bisa apa hah! Aku sudah mengatakan kau bukan tandinganku dan kau tidak punya apa-apa jadi jangan menantang atau mencoba untuk bertanding denganku," tegas Mitra Winata dengan senyum meremehkan.
"Aku punya Kevin," jawab Kiara santai.
"Aku memiliki apa yang tidak kau miliki. Kevin milikku dan anda yang hanya menjadikannya boneka tidak akan bisa memilikinya. Seperti aku memilikinya. Karena Kevin hanya milikku saja," tegas Kiara yang menyombongkan dirinya.
Mitra Winata semakin habis kesabaran melihat Kiara dan ingin mengangkat tangan untuk menampar Kiara.
"Di luar ada wartawan," sahut Kiara yang membuat tangan itu tidak jadi melayang dan jatuh sendiri.
"Mereka akan melihat apa yang akan terjadi dan jangan sampai mereka bertanya-tanya tentang apa yang terjadi yang akhirnya aku tidak bisa menjaga mulutku dan akan mengatakan apa saja yang ingin aku katakan dan aku rasa itu akan menjadi masalah besar dengan anda yang apa lagi Kevin akan mengikuti pemilihan yang pasti semuanya akan berpengaruh. Jadi mohon di pikirkan," ucap Kiara yang mengingatkan yang membuat Mitra Winata terdiam.
"Aku rasa sudah cukup berbicara pada tuan dan aku aku rasa tidak perlu lagi tuan mengancamku. Karena semua itu tidak mempan kepadaku," ucap Kiara dengan tersenyum tipis dan Kiara langsung pergi dari hadapan Mitra Winata.
Mitra Winata hanya bisa mengatur napas yang naik turun. Dengan kata-kata Kiara yang tidak takut kepadanya dan Mitra Winata juga tidak bisa mengatakan apa-apa yang membuatnya seperti orang bodoh dan hanya bisa marah seperti iblis yang mengeluarkan tanduk.
"Kurang ajar!" umpat Mitra Winata yang tidak bisa mengendalikan emosinya yang marah-marah sendiri
Kiara yang berjalan menjauhi Mitra Winata pasti mendengar teriakan itu. Namun Kiara hanya menghela napas yang pasti dia juga tidak percaya bisa seberani itu dan dia bangga dengan dirinya yang melawan Mitra Winata. Karena memang dia tidak akan membiarkan Kevin berjuang sendiri. Dia juga ingin berjuang untuk mempertahankan keutuhan cintanya dengan Kevin yang sebelumnya mereka banyak berkorban dan saling menyakiti.
***********
Rachel yang duduk di kasir di tokonya tiba-tiba melihat Pria yang masuk tokonya. Perhatian Rachel langsung fokus pada Pria itu yang sepertinya di kenalnya.
"Bukannya itu teman kak Rangga yang waktu itu pagi-pagi sekali pernah datang," batin Rachel yang mengingat Pria itu siapa lagi jika bukan Daniel.
"Untuk apa dia datang kemari?" batin Rachel bertanya-tanya.
__ADS_1
Daniel melihat di sekitarnya seperti mencari-cari dan mata Danie tepat pada Rachel membuat Rachel kaget dan pura-pura sibuk dengan mengalihkan pada buku yang menulis- nulis. Agar Dia tidak ketahuan memperhatikan Daniel.
Daniel mengkerutkan dahinya dan langsung menghampiri meja kasir. Rachel yang tau Pria itu menghampiri meja kasir berpura-pura untuk tenang. Sampai Rachel merasa Pria itu sudah ada di depannya dan Rachel mengangkat kepalanya.
"Maaf ada yang bisa saya bantu? Ada yang ingin anda pesan?" tanya Rachel dengan ramah.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik tempat ini," jawan Daniel dengan suara besarnya.
"Kebetulan tempat ini saya yang punya," jawab Rachel.
"Ada apa ya, ingin bertemu dengan saya?" tanya Rachel.
Mata Daniel terlihat mengintimidasi Rachel yang membuat Rachel bingung dengan apa yang mau di inginkan Pria itu.
"Kamu siapanya Rangga?" tanya Daniel yang pasti tau tempat itu tempat Rangga.
"Saya adiknya kak Rangga," jawab Rachel.
Mata pria itu kembali melihat Rachel seperti menilai Rachel membuat Rachel sedikit takut. Namun pasti kesal dengan mendapatkan tatapan seperti itu.
"Maaf kamu siapa?" tanya Rachel dengan ketus.
"Saya ada keperluan dengan kakak kamu. Bisa saya bertemu dengannya?" tanya Daniel.
"Dia tidak ada di sini. Kamu pasti punya nomor telponnya dan kenapa tidak menelponnya saja," ucap Rachel dengan ketus membuat Daniel mengendus kasar.
"Apa dia tidak tau aku siapa. Sampai beraninya bicara seperti itu kepadaku," batin Danie dengan kesal pada Rachel.
"Maaf tuan tolong minggir. Ada yang ingin memesan di belakang anda," ucap Rachel sinis yang memang tidak peduli dengan Daniel entah siapa.
Daniel menyunggingkan senyumnya dan mau tidak mau dia minggir. Dan Rachel melayani pembeli dengan senyum ramahnya.
"Siapa sih dia. Kalau dia teman kak Rangga seharusnya dia tau. Kalau kak Rangga jarang sekali ada di rumah ini," batin Rachel dengan kesal kepada pria yang sangat mengganggu baginya.
__ADS_1
Tiba-tiba Rangga orang yang di cari pun datang. Rangga memasuki resto dan kaget melihat Daniel yang berdiri di depan kasir.
"Daniel. Kenapa dia datang tiba-tiba," batin Rangga panik yang langsung buru-buru mendatangi kasir.
"Tuan Daniel!" sapa Rangga. Melihat dan mendengar kata-kata Rangga membuat Rachel melirik kearah ke-2 orang itu dengan tatapan penuh selidiki.
"Apa yang tuan lakukan di sini?" tanya Rangga dengan cemas.
"Kamu Santai saja Rangga. Saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mencari kamu dan ingin bertemu kamu," jawab Rangga.
"Tuan bisa menelpon saya sebelumnya," sahut Rangga.
"Kamu periksa ponsel kamu baru memberi saya saran," ucap Daniel dan Rangga mengeluarkan handphone dari saku jasnya memang Daniel menghubunginya sebelumnya.
"Tuan maaf. Saya lalai sampai tidak melihat panggilan tuan," ucap Rangga
"Santai saja. Tetapi saya punya kaki dan bisa datang ketempat kamu untuk yang ke-2 kalinya. Walau saya tidak mendapat penyambutan dengan baik oleh adik kamu dan pasti kamu tidak mengatakan kepadamu siapa saya sampai dia sangat ketus bicara kepada saya," ucap Daniel dengan sindiran kepada Rachel.
"Maaf kan saya tuan membuat tuan tidak nyaman. Mari tuan kita cari tempat untuk bicara," ucap Rangga.
"Kenapa harus mencari tempat. Apa saya tidak boleh bicara dengan kamu di rumah kamu. Kapan lagi kamu menjamu saya dan tidak saya terus yang menjamu kamu," ucap Daniel.
Rangga kelihatan keberatan sekali jika Daniel ada berlama-lama dirumahnya.
"Kamu tidak keberatan kan Rangga?" tanya Daniel.
"Oh tidak tuan. Mana mungkin saya keberatan. Kalau memang tuan ingin bicara dengan saya. Mari masuk," sahut Rangga yang sebenarnya ragu. Karena tidak mau saja Rachel sampai curiga atau berpikir yang lain-lain.
"Terima kasih atas jamuannya," sahut Daniel.
Rangga menghela napas dan membawa atasannya itu masuk kedalam rumahnya yang di perhatikan oleh Rachel terus menerus.
"Siapa sih pria itu. Kenapa kak Rangga memanggilnya tuan. Apa dia atasan kak Rangga," batin Rachel dengan penuh tanya yang masih terus melihat ke arah Rangga dan Daniel.
__ADS_1
Sampai yang ke-2 kalinya Daniel melihat ke arah Rachel dan Rachel kembali mengalihkan pandangannya. Dia kembali pura-pura sibuk yang padahal tidak sibuk sama sekali. Namun pasti dia sangat penasaran dengan siapa Daniel sebenarnya.
Bersambung