
...🍃Soundtrack #lighting up your World-janet(ost its okay not to be okay) 🍃...
...🌾🌾Saat orang lain meragukanmu jangan terlalu larut dalam kesedihan, Buktikan lah bahwa keraguan mereka sebenarnya tak beralasan🌾🌾...
Feli telah selesai mandi dan melakukan beberapa kegiatan seperti berbenah rumah yang tak sempat ia lakukan semalam. Karena rumah yang gelap untuk masuk saja ia tak kuasa kedalam rumah apalagi untuk sekedar berbenah rumah.
Tubuhnya terasa sangat sakit dan kaku di pagi ini, mungkin karena ia tidur dilantai semalaman tanpa alas dan hanya berbantalkan tas slempang nya saja. Belum lagi hawa begitu dingin tadi malam membuat ia merasa sangat tidak fit pagi ini.
"Pusing sekali duhh. " Feli yang sudah selesai dengan penampilannya hendak berangkat menuju kantor tempat ia bekerja.
Meskipun ia sedang tidak enak badan ia tak akan berani untuk libur kerja, mendapatkan pekerjaan sangat lah susah ia rasa. Jadi, tak akan ia sia-siakan saat sudah menemukannya.
"Pagi sangat cerah untuk tubuhku yang lelah, " Gumam Feli melihat matahari yang sudah mulai timbul dengan sinar nya yang cerah.
Belum juga sempat kaki Feli menginjak lantai teras kantor tiba-tiba saja ia merasa tangannya ditarik dari arah samping.
Feli sedikit panik namun ia tak ingin menjadi pusat perhatian dengan berteriak, ia hanya berontak saja takut sewaktu-waktu itu adalah orang jahat yang ingin mencelakai nya.
Dan Feli dipaksa masuk kedalam mobil oleh orang yang menarik paksa Feli tadi, setelah masuk kedalam mobil tangan itu terlepas dan dengan cepat Feli memukul orang itu dari samping saat dia hendak menutup pintu mobil.
"Rasakan ini," Umpat feli terus memukul karena kesal.
"Hei, kamu ingin membunuh saya? " Tiba-tiba saja pukulan feli melemah lalu ia tarik tangannya menjauh dari pria yang ternyata itu adalah Angkasa.
"Pa,, pak Angkasa? " Panik feli.
"Iya ini saya? Kenapa kamu malah menyerang saya? " Kesal Angkasa memperbaiki dasinya yang sempat berantakan karena ulah Feli.
"Ma,, maafkan saya pak, saya kira orang lain yang ingin mencelakai saya. Bapak sih nariknya tiba-tiba saya kan jadi parno. " Bela Feli dengan pelan sembari menunduk.
"Makanya jadi orang jangan parnoan, saya narik kamu kesini karena ada yg mau disampaikan, saya gak mau jadi bahan gosipan kalau berbicara berdua dengan mu di depan umum. "
"Hahahah, pak Angkasa pasti takut dan malu karena berurusan dengan mantan narapidana seperti ku. " Batin Feli sedikit sakit.
"Saya mengerti dan faham kok pak, " Ucap Feli sedikit kecewa.
"Kenapa tiba-tiba wajahnya menjadi murung begitu? Belum lagi ia terlihat sangat pucat. " Angkasa membatin.
__ADS_1
"Jadi, apa yang ingin bapak sampaikan kepada saya? " Tanya Feli masih tak ingin melihat kearah Angkasa.
"Sekarang kita harus kerumah saya untuk bertemu dengan keluarga saya, mereka sudah menunggu disana. "
Jantung Feli berdetak sangat cepat karena merasa was-was akan bertemu dengan keluarga Angkasa. Banyak hal yang sangat ia khawatirkan saat sampai disana, bagaimana jika respon mereka sama dengan respon yang Feli bayangkan? Feli jadi sangat takut.
"Se,, sekarang pak? Pagi-pagi begini? " Tanya Feli sangat ketakutan.
"Iya sekarang? Apa ada masalah? Kenapa kamu terlihat sangat gugup? "
"Bagaimana aku tidak gugup, aku sangat tidak pantas untuk bertemu dengan keluarga bapak. " Batin Feli.
"Sa,, saya. "
"Sudahlah, kita berangkat sekarang juga. Sejak semalaman mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu. Saya sudah menceritakan keputusan saya ingin menikah. Tidak usah khawatir kamu hanya perlu diam dan turuti perkataan saya. "
Dress sederhana yang Feli kenakan ia remas dengan kuat. Benar-benar menyiksa Karena ia Sungguh belum siap untuk bertemu dengan keluarga Angkasa. Bagaimana ia akan siap? Mereka baru bertemu dalam beberapa hari lalu, memutuskan untuk melakukan hubungan kontrak ini juga begitu tiba-tiba. Dan sekarang ia akan bertemu dengan keluarga Angkasa? Sangat wajar bukan kalau Feli merasa gugup bukan main?.
"Turunlah, kita sudah sampai. Jangan terlalu gugup keluarga ku tak makan orang. " Angkasa turun lalu diikuti oleh Feli yang juga turun dengan nafas yang sangat tidak stabil.
Pintu dibuka perlahan oleh Angkasa dan Feli bejalan mengikuti Angkasa dari belakang. Ia merasa panas dingin saat melihat keluarga Angkasa benar-benar sudah menunggu disana.
Dengan gugup Feli mencoba untuk bersikap biasa saja dan tersenyum kearah kedua orang tua Angkasa yang berdiri seperti mereka berdua. Jantung Feli seketika serasa berhenti berdetak saat melihat tatap tak suka dari mamah Angkasa yang melihat nya dengan tatapan mengintimidasi.
Jantung Feli berdetak tak karuan Karena sangat takut dengan tatapan itu, tatapan yang selalu dilayangkan oleh orang-orang yang tau bahwa Feli adalah seorang mantan narapidana. Apakah ketakutan Feli akan terjadi sekarang?.
Dengan perlahan Feli menjauhkan pandangannya dari mamah kemudian melihat kearah papah Angkasa yang tersenyum menyambut kedatangan Feli. Sedikit lega namun tak bisa disebut tenang.
Feli merasakan Angkasa sedikit menyenggol nya memberikan isyarat.
"Sa,, salam om tante, " Sapa Feli dengan gugup kemudian menunduk memberikan hormat kearah kedua orang tua Angkasa.
Lagi-lagi Feli merasa sangat takut saat ia memberikan salam mamah malah memalingkan wajah tak suka.
"Lihatlah pah, apa yang mamah takutnya terjadi juga. Mamah benar-benar tidak setuju dengan keputusan langit yang tiba-tiba ingin menikah dan mamah semakin tidak setuju saat melihat calon istrinya yang ternyata seorang mantan narapidana. Papah tau kan siapa gadis ini? " Mamah yang awalnya membuang muka itu tiba-tiba buka suara hingga membuat mental Feli semakin jatuh kesasar jurang paling dalam.
Luka lama yang bahkan belum sembuh itu kembali terbuka lebih lebar lagi, selama ini Feli hanya mendengarkan hinaan itu dari belakang, mendengar saat orang orang hanya berbisik tak benar tentang nya. Namun, kini ia benar-benar mendengarkan langsung dari hadapannya.
__ADS_1
Feli gemetar takut, namun ia coba untuk terus kuat bahkan untuk berdiri saja ia sudah tak sanggup kini. Hinaan itu sungguh sangat menyakitkan.
"Mah, mamah jaga dong omongan mamah, kenapa berbicara seperti itu dihadapan calon menantu kita? " Papah yang langsung mengoreksi ucapan mamah yang sudah sangat marah itu.
Feli masih terus mencoba tersenyum dengan terpaksa. Ia tak ingin merusak rencana yang sudah Angkasa buat ini, ia juga harus bertahan untuk melunasi hutangnya yang terjumpa sangat banyak itu.
"Bagaimana rasanya terhina? Kamu pasti tak akan kuat kan? Begitulah yang aku rasakan dahulu. " Batin Angkasa merasa puas saat melihat Feli yang tak nyaman dan sudah mulai gemetar itu. Angkasa juga sudah merasakan tangan Feli penuh keringat juga terasa lemas.
"Pokoknya mamah gak setuju pah, mamah benar-benar tidak setuju dengan pernikahan ini? Pikiran kamu kemana sih langit? Begitu banyak nya wanita diluar sana kenapa harus gadis hina ini? Kamu sangat ingin mempermalukan keluarga kita yah? "Mamah benar-benar sudah tersulut emosi karena melihat Feli.
" Mamah, kenapa berbicara seperti itu? Apa yang membuat calon menantu kita terlihat hina? Apa karena dia mantan narapidana? Kita semua adalah pendosa mah kita tidak berbeda dari nya. "Papah yang sedari awal tidak keberatan dengan keputusan Angkasa.
" Tidak berbeda papah bilang? Kita sangat berbeda dengan nya, apa kita juga membunuh keluarga kita? Tidak kan? Apa papah tidak takut dengan nya? Mamah sangat takut, sedangkan membunuh keluarga nya saja ia sanggup bagaimana dengan kita yang bukan siapa-siapa untuk nya? Pokoknya mamah gak setuju. "
Seketika pertahanan Feli runtuh saat mendengar ucapan mamahnya Angkasa. Ia sangat tidak sanggup mendengar bahwa ia sangat sanggup membunuh keluarga nya. Ia adalah seorang korban yang selamat dan tidak ada yang tau fakta itu.
Matanya memerah menahan tangis, jantung yang berdetak tak karuan, tubuh bergetar hebat karena tak sanggup mendengar semua cemoohan mamah Angkasa untuk nya.
"Sa,, saya permisi ke kamar mandi om tante. " Feli melihat kearah Angkasa seolah bertanya arah kamar mandi dimana?.
Angkasa yang langsung faham kemudian menunjuk arah kamar mandi, dengan langkah tertatih dan lemas Feli berjalan lesu menuju kamar mandi yang Angkasa tunjuk.
Sampai didalam kamar mandi Feli langsung membasuh wajahnya dengan air lalu melihat kearah atap sembari memukuli dadanya keras karena terasa sangat sesak disana.
"Jangan jatuh,, jangan jatuh,, " Feli melihat keatas untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Jangan jatuh kumohon,,. "
Namun, air matanya tetap saja jauh mengalir meskipun sudah susah payah untuk ia tahan. Air matanya malah jatuh semakin deras saat ia tahan sekuat tenaga. Air matanya malah mencurah layaknya hujan saat ia coba untuk Membendung nya.
"Hiks,, kenapa menangis? Kenapa menangis saat orang lain berbicara fakta tentang mu? Mau sampai kapan kamu akan bersikap lemah seperti ini? " Kesal Feli memukul dadanya sangat kuat. Sesak disana kian menjadi-jadi saja.
"Jangan menjadi lemah seperti ini kumohon, kalau bukan kamu yang menguatkan dirimu maka tidak akan ada orang lain yang melakukan nya untuk mu. Kamu kuat untuk dirimu sendiri. " Feli sangat frustasi karena air matanya yang tak bisa ia ajak untuk berkompromi.
Dengan sekuat tenaga Feli menahan kesedihan nya lalu mencoba untuk memperbaiki penampilan nya yang sempat berantakan tadi. Ia tersenyum kearah kaca terlihat sangat menyedihkan sebenarnya tapi Feli sangat ingin kuat dan menghadapi nya. Ia tak ingin menjadi manusia lemah. Karena hanya dirinya yang ia miliki saat ini.
...🎋🎋Bersambung 🎋🎋...
__ADS_1
Waduhh kalo kalian diposisi Feli bakal sanggup gak sih?.
See you gaes🌺