Dulu Dibully, Sekarang Suami

Dulu Dibully, Sekarang Suami
48. Rasa bersalah.


__ADS_3

...🍃Soundtrack #The words in my heart-kim Yeon ji (ost i'm not robot) 🍃...


...🌾🌾Aku tidak akan pernah memaafkan diriku karena semua kesalahan ku dahulu, maafkan aku🌾🌾...


       Feli memasuki kamar mandi dengan hati mencelos, pintu kamar mandi tertutup rapat dan ia langsung jatuh tersungkur dilantai kamar mandi yang saat ini masih sangat kering itu.


Titik air mata menetes jatuh melalui pelupuk mata Feli, padahal ia sudah berjanji untuk tidak lagi menangis. Tapi kali ini ia Sungguh merasa sangat terluka juga marah.


Ia sangat marah dan terluka karena Angkasa tapi ia lebih terluka dan marah kepada diri sendiri.


Bayangan langit laki-laki yang ia cintai saat SMA dahulu masih saja belum hilang dari ingatan nya, rasa cinta yang berakhir dengan penyesalan itu semakin menggunung jadi rasa rindu.


Sampai kini Feli masih saja menyematkan nama itu di hatinya, meskipun nama mereka sama tetap saja Feli hanya ingin langit laki-laki yang pernah mengisi hari-hari nya saat SMA dulu.


Sejak kepergian langit dan pindah dari sekolah nya Feli tak sedikitpun melupakan laki-laki itu, meskipun banyak laki-laki yang meminta untuk berkencan dengan mereka Feli akan menolak dengan alasan menunggu seseorang. Ia menghabiskan terlalu banyak waktu dengan menunggu.


Ia mengingat kembali ucapan Angkasa yang mengatakan kalau ia menganggap serius pernikahan itu? Feli sangat takut karena hatinya masih belum bisa lepas dengan cinta pertama nya itu.


"Hiks,, kami bahkan belum pernah berciuman. Tapi aku sudah tiga kali berciuman dengan mas Angkasa hiks,, aku gadis jahat. " Feli merasa sangat bersalah saat ini.


"Apa dia hidup dengan baik sekarang? Apakah dia masih mengingat ku? Hiks,, aku merindukan nya. " Feli menangis lepas karena ia sangat merindukan langit nya.


Sedangkan Angkasa saat ini berpikir sangat keras bagaimana ia akan menyelesaikan kesalahpahaman ini. Ia mencium Feli karena benar-benar mencintai gadis itu bukan karena hal lain.


"Bagaimana ini? Kenapa dia lama sekali di dalam? " Angkasa sangat panik dan tak bisa diam.


Ia mondar-mandir melihat kearah kamar mandi namun Feli tak kunjung keluar juga.


"Apa jangan-jangan dia mencoba untuk bunuh diri karena ku cium? " Khawatir Angkasa mencoba untuk membuka pintu kamar mandi namun Feli sudah lebih dulu keluar dengan wajah basah karena ia cuci.


Angkasa masih bisa melihat wajah sembab itu, rasa bersalah tak bisa ia tangkis saat ini. Ia sangat merasa bersalah karena sudah menyinggung Feli.


"Kamu salah faham, tolong dengarkan penjelasanku dulu. " Angkasa langsung membuka suara.


"Aku mencium mu bukan karena kamu memiliki hutang atau semacamnya. Aku mencium mu karena,,, "


"Sudahlah mas, aku tidak ingin membahas itu! " Feli berjalan kearah lemari dan mengambil kotak p3k.

__ADS_1


Angkasa mengikuti Feli dan mencoba untuk menjelaskan namun gadis itu terlihat sedang tidak ingin membahas itu hingga Angkasa memilih untuk diam saja.


"Sekarang mas duduk, " Ucap Feli memukul tepi kasur yang ada didepan nya.


Angkasa menurut dengan bibir manyun karena ia sungguh ingin menghilangkan kesalahpahaman itu.


"Berikan tangan mas! " Titah Feli dan Angkasa menurut saja.


Feli pun mulai membersihkan tangan Angkasa untuk menghilangkan beberapa kotoran diluka itu.


"Aihh bukan saatnya mengobati luka, aku ingin kesalahpahaman ini segera berakhir. " Batin Angkasa pusing.


Feli masih saja fokus mengobati luka ditangan Angkasa yang disebabkan karena ia meninju dinding tadi.


Angkasa sendiri melihat dengan seksama kearah Feli yang diam saja seolah tidak terjadi sesuatu tadi.


"Kenapa dia bisa setenang itu? Aku yakin dia baru saja menangis di dalam kamar mandi tadi. " Angkasa bingung.


Feli pun membalut luka ditangan Angkasa dengan perban, dan menyelesaikan nya dengan cepat.


Setelah itu Feli mengembalikan kotak p3k ke dalam lemari. Angkasa hanya diam saja tak tahu harus apa.


"Ka,, kamu tidurlah dikasur, " Ucap Angkasa dan Feli langsung menatap tajam kearah nya.


"Bu,  bukan begitu maksud ku. Kamu tidur diatas kasur maka aku akan tidur di sofa. "


"Terima kasih mas tapi aku akan menginap di kamar Vania, permisi mas. " Veli membuka pintu kamar dan meninggalkan Angkasa sendirian disana.


"Huahhh, kenapa tiba-tiba udara sangat segar saat ini. Sikapnya sungguh dingin sekali tadi. " Gumam Angkasa.


"Loh mbak? " Vania kaget saat melihat Feli berdiri didepan pintu kamar nya.


"Mbak boleh gak nginep dikamar kamu malam ini? " Tanya Feli penuh harap. Karena malam ini ia sungguh ingin menghindari Angkasa.


"Loh memangnya kenapa dengan kamar kalian mbak? Apa kalian bertengkar? " Tanya Vania sedikit panik.


"Gak kok heheh, mas Angkasa lagi mau fokus ngerjain berkasnya katanya dia takut gagal fokus kalau aku disana. "

__ADS_1


Vania mengangguk mengerti dan membawa Feli masuk kedalam kamar nya.


"Wahh kamar kamu rapi sekali yah? Mbak juga dulu punya kamar berwarna pink dan itu di chat oleh kakak nya Mbak. " Senyum Feli saat mengingat itu.


Vania merasa iba karena ia juga tahu bagaimana masa lalu Feli. Ia yakin sudah banyak kesulitan yang dirasakan oleh Feli selama ini.


"Oh iya Mbak naik aja dulu aku mau nunjukin album foto sama mbak, biar Mbak gak bosen disini heheh. "


Feli menurut dan menaiki tempat tidur menunggu Vania yang sedang mencari album foto itu.


"Loh, prasaan disimpan disini deh. Kok gak ada? "


Vania terus saja mencari namun tak menemukan album foto itu.


"Duhh maaf yah Mbak, albumnya gak keliatan. Besok aku coba cari lagi deh. " Vania menaiki tempat tidur mengikuti Feli yang hendak berbaring itu.


"Aku senang banget bisa kenal sama Mbak heheh. Udah lama pengen banget punya mbak buat nemenin tidur kayak gini heehe. " Vania tersenyum tulus dan Feli dapat merasakan itu.


"Aku harap mbak juga seneng bisa kenal sama Vania, maaf yah mbak kalau mamah sering banget buat mbak sakit hati. Sebenarnya mamah itu penyayang tapi tidak mau menunjukkan nya." Tutur Vania pelan.


Feli tersenyum menganggukkan kepalanya "Mbak faham betul perasaan mamah, mbak seneng banget bisa hadir dirumah ini bertemu dengan banyak orang, memiliki orang tua bahkan sekarang seorang adik perempuan semanis kamu. " Feli tersenyum.


"Mamah memang salah karena terlalu menyayangi mas langit, apalagi dulu mas langit sangat ceroboh dan juga tidak bisa merawat dirinya, itu membuat mamah sangat mengkhawatirkan nya. Mas langit yang sekarang bukanlah mas langit yang dulu mbak. Aku saja sampai tidak mengenal nya saat kembali kerumah.


Feli merasa tidak asing dengan cerita ini.


"Ahh sayang sekali tidak bisa melihat foto mas langit yang dulu. Lain kali aja ye kan mbak?.


Vania melihat kearah Feli yang kini sudah tertidur lelap itu.


" Kamu sudah melewati banyak hal menyakitkan mbak, aku harap setelah ini hanya akan ada bahagia saja. "Vania tersenyum melihat kearah Feli yang lelap itu.


...🎋🎋Bersambung 🎋🎋...


Mon maaf kalau ada salah penulisan karena author sangat ngantuk saat ini.


Jangan lupa yah like, komen dan votenya wan kawan.

__ADS_1


See you guys🌺


__ADS_2