
...🍃Soundtrack #Like water-wendy (red velvet) 🍃...
...🌾🌾Belajarlah untuk tersenyum meskipun dihadapan orang yang menyakitimu. Agar ia tahu bahwa kesabaran itu memang ada🌾🌾...
Karena Feli tak hentinya bekerja sejak kedatangannya tadi. Kini seluruh pekerjaan sudah selesai ia kerjakan meskipun kadang ia dibuat jengkel dan kesal karena rekan kerjanya malah sibuk bergosip dari pada melaksanakan tugas mereka.
"Hari ini terasa sangat melelahkan, padahal rutinitas yang kulakukan sama seperti biasanya. " Gumam Feli berjalan menyusuri jalanan menuju terminal Bus.
Memang jarak antara kantor tempat ia bekerja lumayan jauh dari terminal Bus yang biasa ia naiki untuk pulang.
"Hari sudah mulai larut dan sekarang sudah pukul 16.54pm, aku harus secepatnya sampai dirumah untuk menyambut kepulangan mas Angkasa. Kalau sampai aku tidak menyambut nya aku takut ia akan semakin marah dan menyebutku mencari gara-gara padanya. " Feli semakin mempercepat laju jalannya meskipun ia merasa sedikit kelelahan dan rada pusing dikepalanya.
"Huh,, " Feli kaget bukan main saat tiba-tiba seekor kucing berlari kedepannya kalau bukan karena ia berhenti secara mendadak mungkin kucing itu akan terinjak kakinya.
"Ya ampun untung saja, " Gumam Feli merasa lega kemudian mendekat kearah kucing itu.
"Eri? " Tebak Feli saat melihat kucing familiar itu, ia sangat ingat dengan jelas dengan kucing itu Karena Eri yang pernah ia selamat kan memiliki tanda hitam diarea telinganya dan itu sama persis dengan kucing yang saat ini ia genggam.
"Kenapa kamu sampai kesini? Dimana pemilik mu? "
Feli menggendong kucing itu sembari melihat sekitar untuk mencari pemilik Eri, ia sangat bingung kenapa bisa Eri sampai kedaerah ini? Sangat jauh dari komplek mereka tinggal.
"Kenapa kamu sampai kesini hmmm? " Feli terus saja berbicara dengan kucing yang sangat tidak mungkin untuk menjawab pertanyaan nya itu.
Bahkan sudah hampir 10 menit berlalu Feli belum juga melihat sosok pemilik Eri, ia semakin panik saat melihat jam dan waktu kian berlalu, ia sangat bingung sekarang ini. Kalau ia sampai terlambat pulang setelah Angkasa pulang lebih dulu makan ia akan mendapatkan masalah belum lagi mamah akan semakin menaruh kebencian kepadanya nanti dan Angkasa yang tidak bisa ditebak itu sudah pasti akan marah.
Namun, ia tak tahu harus bagaimana dengan Eri. Tidak mungkin ia meninggalkan Eri disini, bagaimana jika ia kenapa-kenapa seperti tertabrak dan lainnya? Tapi membawa Eri kerumah Angkasa seperti nya tidak baik karena ia tidak berhak membawa apapun kesana termasuk hewan peliharaan.
Dan tiba-tiba saja Feli menangkap sosok familiar diare taman dan Feli sangat yakin itu adalah pemilik Eri. Pemuda berumuran lebih tua dibandingkan Feli itu terlihat sangat resah dan mencari-cari kesana-kemari seolah sedang kehilangan sesuatu.
Feli buru-buru berlari kesana sembari menggendong Eri yang hanya diam saja dalam gendongan Feli.
"Mash,, huh.. " Karena jarak yang terbilang sedikit jauh itu Feli sampai ngos-ngosan karena berlari.
Pemuda itu sangat kaget karena melihat Feli dihadapan nya dengan Eri dalam gendongan gadis yang pernah menyelamatkan Eri itu.
"Eri? " Laki-laki bernama Fahdan itu langsung meraih Eri dari gendongan Feli.
Fahdan terlihat sangat lega dan senang karena melihat Eri datang dengan keadaan baik-baik saja.
"Kemana saja kamu hmmm? Kan sudah kuberi tahu untuk tidak pergi dari samping ku. Aku sangat khawatir dan mencari mu sejak tadi. " Fahdan terlihat sangat khawatir dari raut wajahnya.
"Tadi saat aku pulang kerja Eri tiba-tiba melompat dan berlari kearah ku mas. Untung saja aku tidak sampai menginjak nya, " Jelas Feli kearah Fahdan dan laki-laki itu tersenyum sangat bersyukur orang seperti Feli lah yang menemukan Eri. Ia sangat khawatir saat orang jahat yang menemukan Eri dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Kamu sudah dua kali menyelamatkan Eri. Dan aku akan sangat sungkan jika kamu menolak ajakan ku makan. Aku sangat ingin menebus kebaikan mu. Sungguh! " Fahdan benar-benar sangat merasa berhutang budi pada Feli.
Feli terus saja melihat jam tangan nya karena waktu semakin berlalu dan ia sangat takut Angkasa akan tiba lebih dulu dibandingkan dia.
"Baiklah mas kalau itu mau mas, tapi tidak bisa sekarang, karena aku sedang ada urusan. " Feli terlihat hendak pergi namun ditahan oleh Fahdan yang sangat ingin membalas budi itu.
"Tolong berikan nomor ponsel mu agar aku bisa menghubungi mu. "
Feli yang sedang terburu-buru itu langsung menarik ponsel yang di ulurkan oleh Fahdan dan mengetik nomor ponselnya disana.
"Maaf mas aku harus pergi sekarang, permisi. " Feli langsung berlari meninggalkan Fahdan yang tersenyum melihat kepergian Feli.
"Gadis itu sangat unik dan juga suka membuat penasaran. " Gumam Fahdan melihat keadaan Eri.
"Kamu kenapa sangat suka menghilang hmmm? Jangan begitu lagi karena kamu membuat ku sangat khawatir. " Fahdan mengelus kepala Eri hingga Eri merasa sangat nyaman.
Feli dengan buru-buru berlari menuju rumah Angkasa saat setelah menaiki Bus tujuan rumah Angkasa. Karena jarak lumayan jauh juga Feli sangat kehabisan tenaga karena kebanyakan berlari hari ini. Belum lagi ia mengerjakan Banyak sekali pekerjaan dikantor tadi.
"Semoga mas Angkasa belum sampai kerumah. "
Feli yang melihat gerbang rumah Angkasa merasa sedikit lega karena mobil Angkasa belum terlihat disana, pertanda bahwa Angkasa belum sampai kerumah saat ini.
"Huh, akhirnya... " Lega Feli saat sampai diteras rumah milik Angkasa. Dan benar saja memang Angkasa belum juga sampai kerumah saat ini.
Bagaimana tidak mengherankan? Feli memakai pakaian nya yang sempat basah karena ulah rekan kerjanya itu walaupun sebenarnya sudah kering. Dan rambut acak-acakan karena kebanyakan berlari sejak tadi dan keringat karena kelelahan itu.
"Aa,, itu mbak tadi berlari untuk sekalian olahraga saat kesini heehe. " Feli sangat kaku dan tak tahu harus beralasan apa lagi.
Vania tersenyum karena melihat mbaknya itu sangat lucu dan juga memiliki sisi yang sangat unik.
"Mbak lucu banget sih hahaha, kalau mau olahraga gak mungkin make baju gitu Mbak heheh. Kan jadi berantakan gitu penampilan Mbak nya. "
"Iya nih heheh Mbak juga gak tahu kenapa tiba-tiba Mbak pengen lari-lari tadi. "
"Yasudah mari masuk Mbak, Mbak pasti lelah karena berlari dan wajah Mbak sedikit pucat tuh. " Vania yang memang memiliki sifat empati paling tinggi dirumah ini.
"Kamu duluan saja dek, Mbak masih mau nunggu mas Angkasa pulang dan menyambut nya disini. " Feli menarik sudut melengkung didekat bibirnya seolah ia benar-benar sangat senang melakukan hal itu.
Vania yang mendengar itu tersenyum sangat senang dan menunjukkan Keirin dengan ucapan Feli.
"Hmmm ciee, pengantin baru kita pasti masih panas-panasnya nih hahaha. So sweet banget Mbak sampai ditungguin pulang gitu, mas langit pasti senang diperhatiin kayak gitu. "
"Iya hehehe. " Feli merasa sangat tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Karena vania benar-benar salah faham dengan semuanya.
__ADS_1
"Tuh mas langit udah datang Mbak, vania masuk dulu yah Mbak takut ganggu siapa tahu kalian mau kiss kiss manjah kan jadi malu kalau ada Vania disini hahaha. " Pintu tertutup saat Feli hendak menyangkal ucapan adik iparnya itu.
Saat melihat kedepan Angkasa sudah berdiri dihadapannya dengan tas tertenteng ditangannya itu.
"Dia benar-benar menungguku didepan rumah? Kenapa dia terlihat sangat berantakan sih? Penuh keringat dan juga baju itu bukannya sudah basah yah tadi? Kenapa masih ia pakai? " Batin Angkasa melihat kearah Feli yang juga melihat kearah nya.
"Apakah kamu akan terus berdiri layaknya manekin disana? " Sindir Angkasa kearah Feli yang masih kaku berdiri disana.
"Eugh,,, selamat pulang kerja mas hehehe. " Feli terlihat sangat kaku melakukan itu dengan senyuman bibir dibuat buat.
Ia meraih tas dari tangan Angkasa yang melihat ia bingung setelah mengatakan kata selamat pulang kerja itu.
"Kenapa saat ia bertingkah konyol seperti itu membuat jantung ku berdetak kencang begini? " Batin Angkasa.
Ia buru-buru menggeleng dan menghilangkan pikiran nya yang semakin lari itu.
"Kenapa kamu? Tidak usah selebay itu juga. Cukup sambut aku dengan menerima tas kerja ku saja. Jangan aneh-aneh. " Angkasa masuk kerumah lebih dulu dengan Feli yang mengikuti dari arah belakang.
"Ciee,,, yang pulang kerja disambut sama Mbak Feli. " Goda Vania yang saat ini sudah duduk disofa sembari tersenyum menggoda Angkasa kakaknya itu.
Angkasa yang mendengar itu benar-benar berdebar. Tanpa alasan ia merasa senang, tidak mungkin ia baper hanya karena disambut pulang oleh Feli.
"Ciee,, senyumnya lebar banget mas. Sesenang itu yah? " Goda Vania yang sempat melihat senyum Angkasa merekah karena godaan adiknya itu.
"Kamu belajar sana, jangan urusi urusan orang dewasa. " Angkasa menyangkal dengan wajah kesal karena godaan Vania.
"Ciee ada yang malu nih ye, Mbak liat tuh mas langit sampe malu tuh. "
Feli hanya tersenyum saja karena ia tak tahu harus bagaimana menanggapi situasi saat ini. Dan seketika itu merasakan tangan Angkasa memegang tangannya dan menarik dengan sedikit keras.
"Ayok sayang kita ke kamar. Tidak usah dengarkan dia, maklum kaum jomblo memang rada gabut orang nya. " Angkasa menarik Feli meninggalkan Vania yang bersorak saat melihat keuwuan penuh kepalsuan itu.
"Abis itu ngapain yah? Hmmm jadi kepo. " Vania tak habisnya menggoda Angkasa karena melihat kakaknya benar-benar bersemu malu tadi.
"Ternyata mas langit benar-benar sedang jatuh cinta saat ini. " Gumam Vania tersenyum mengingat keuwuan tadi.
...🎋🎋Bersambung 🎋🎋...
Waduhh Vania gak tahu aja kebenaran nya hahaha.
Jangan lupa like, komen dan vote yah man teman.
See you guys 🌺
__ADS_1