
...🍃Soundtrack #my turn to cry-exo🍃...
...🌾🌾Percayalah saat kamu terus-terusan bersikap lengah kamu akan tertinggal jauh dari orang lain🌾🌾...
Angkasa langsung diam dan senyuman itu luntur karena mendengar Feli akan bertemu dengan Fahdan, awalnya ia mengira Feli berkemas karena melihat tiketnya diatas nakas.
"Belakangan ini kalian sangat sering yah bertemu? " Sindir Angkasa sedikit kesal.
Feli tersenyum kearah Angkasa, gadis itu tidak sadar kalau laki-laki itu sedang kebakaran jenggot karena cemburu.
"Iya mas, mas tidak perlu khawatir aku tidak akan membuat masalah dan mas Fahdan juga orang baik aku bisa jamin itu, " Ucap Feli menyelesaikan dandanannya yang seperti biasa.
Angkasa semakin bertambah kesal karena Feli memuji laki-laki lain tepat di depan wajahnya sendiri.
"Bisa-bisanya dia memuji laki-laki sialan itu didepan ku, cih ingin kusumpal saja bibir nya itu hingga tidak bisa memuji laki-laki itu. " Kesal Angkasa membatin.
"Aku permisi yah mas, " Ucap Feli hendak keluar namun ditahan oleh Angkasa yang memegang tangan nya.
Feli melihat kearah Angkasa dan juga tangannya yang saat ini berada dalam genggaman laki-laki itu.
"Ada apa mas? Apa mas butuh sesuatu? " Tanya Feli bingung.
"Aku butuh kamu! " Gumam Angkasa pelan namun ia yakin gadis itu tidak mendengar nya dengan jelas.
"Hah? Maksud mas? Aku gak denger, mas butuh apa? " Tanya Feli.
"Jangan pergi! "Angkasa menunduk setelah mengatakan itu.
Feli kaget karena ucapan Angkasa yang begitu tiba-tiba itu, ia tidak tahu alasan laki-laki itu melarang nya untuk pergi.
" Tadi vania nyuruh aku buat manggil kamu, katanya dia butuh temen nonton, "ucap Angkasa beralasan.
" Akhhh aku tidak tahu akan beralasan sejauh ini, sampai membawa-bawa Vania. Kamu pengecut langit! "Batin Angkasa.
" Loh, bukannya tadi aku udah ngasih tahu vania akan keluar hari ini? Dia juga sampai ngajuin diri buat dandanin aku mas. "Feli semakin dibuat bingung.
" Aahahah gitu yah? Sial anak itu kenapa sih? "Gumam Angkasa pelan.
" Aku tidak tahu, aku hanya menyampaikan pesan saja. "Angkasa menghela nafas karena ia gagal bahkan untuk menghentikan Feli.
" Yasudah aku kekamar nya sekarang yah mas, permisi! "
Angkasa meninju tempat tidur dengan keras karena merasa kesal, dia ketinggalan satu langkah dari Fahdan.
"Kenapa sih laki-laki satu itu sangat suka menggoda istri orang? " Teriak Angkasa kesal.
"Loh kok mbak belum pergi?kirain udah berangkat dari tadi heheh. " Feli sedang rebahan diatas tempat tidur sembari menonton drama Korea favorit nya dilaptop nya itu.
"Tadi mas Angkasa bilang kalau vania minta ditemenin nonton, " Ucap Feli pelan.
"Hah? Gak ada kok mbak. Mbak pasti dikerjain tuh sama mas langit hahaha memang mas langit suka jail orang nya. "
"Kayaknya gak lagi bercanda tadi, " Gumam Feli bingung.
__ADS_1
"Yasudah mbak pergi sekarang yah," Ucap Feli menutup pintu kamar Vania.
"Maaf yah mas kalau aku telat, tadi ada urusan dirumah, " Ucap Feli sedikit ngos-ngosan saat sampai disebuah cafe yang biasanya mereka datangi.
Fahdan tersenyum melihat Feli begitu bersemangat hari ini, mungkin karena gadis itu sudah mulai terbiasa dengan Fahdan.
"Tidak apa, kamu tidak usah se buru-buru itu harusnya. "
Mereka memesan makanan dan minuman sembari bercerita banyak sekali hal-hal yang terkadang membuat mereka tertawa.
"Hahahah mas yakin kalau tali sepatu mas dicuri oleh orang lain? " Feli tertawa hingga Fahdan tak hentinya tersenyum melihat Feli.
"Aku harap kamu akan seceria ini bagaimana pun keadaan mu, karena kamu sudah melalui banyak sekali hal memilukan. " Batin Fahdan.
"Mas, kenapa bengong? " Tanya Feli menyadarkan Fahdan.
Tanpa mereka sadari dibelakang mereka sudah ada Angkasa yang menutup wajahnya dengan koran, berkali-kali ia menahan kesal dan marah karena melihat Feli begitu akrab dengan laki-laki itu.
"Aku sangat tidak suka dengan tatapan laki-laki itu, seperti ada maunya dari Feli. " Angkasa bergumam pelan.
"Mau pesan apa mas? " Tanya pelayan menghampiri Angkasa.
Saat Feli melihat kebelakang Angkasa langsung menutup wajahnya dengan Koran seolah ia sedang membacanya.
"Bawa saja makanan andalan kalian, " Ucap Angkasa asal lalu kembali fokus kearah Feli dan Fahdan.
Ia tak habis pikir kenapa ia sampai sekepo ini dengan pertemuan Feli dan laki-laki itu. Sejak Feli berangkat dari rumah tadi ia sangat tidak tenang hingga memutuskan untuk mengikuti Feli.
"Setelah ini kamu ikut aku yah kesuatu tempat, " Ucap Fahdan dengan pelan.
"Lihatlah, aku sudah yakin dia adalah orang yang sangat tidak bisa dipercaya. " Kesal Angkasa terus saja berbicara sendiri.
"Kemana mas? " Tanya Feli.
"Nanti juga kamu bakal tau kok. " Fahdan tersenyum dan Feli langsung mengangguk mengerti.
"Hah? Feli kenapa sepercaya itu dengan nya? Bagaimana kalau ia dalam bahaya? Aishh untung saja aku ikut kesini tadi. Untuk berjaga-jaga setidaknya. " Gumam Angkasa merasa bangga dengan antusiasme nya sebagai seorang suami.
Angkasa tak hentinya merasa was-was saat mengikuti mobil Fahdan yang kini menuju tempat yang disebutkan oleh Fahdan.
"Mau kemana dia membawa istriku pergi? Awas saja kalau dia berani macam-macam akan aku hancurkan hidupnya. " Angkasa benar-benar tidak main-main jika itu menyangkut orang yang ia sayangi.
Mobil diparkiran oleh Angkasa dengan jarak sekitar jauh dari mobil Fahdan karena ia tak ingin laki-laki itu menyadari nya.
"Bioskop? " Bingung Angkasa saat melihat Feli dan Fahdan memasukinya.
"Loh bioskop mas? " Tanya Feli bingung.
Fahdan tersenyum pelan "Bioskop adalah salah satu tempat yang sangat ingin aku datangi dengan seseorang tapi karena tidak bisa aku tidak pernah datang kesini. Aku minta bantuan mu untuk menemani ku kesini. Karena jika sendirian aku tidak akan bisa, " Ucap Fahdan sedikit lesu.
"Cih, alasan klasik. Dasar laki-laki hidung belang, bilang saja ingin berdekatan dengan istriku terlihat sekali modusnya. " Kesal Angkasa.
"Hmm kalau begitu yasudah aku akan menemani mas, asal jangan film horor yah mas heheh. "
__ADS_1
"Tenang saja, kalau begitu kamu tunggu disini yah aku akan pesankan tiket dan nomor kursi kita. " Fahdan berlalu sedang Feli hanya diam saja menunggu di tempat nya.
Angkasa melihat dua tiket nonton ditangan nya itu, sedikit sakit diulu hatinya karena tak bisa menonton film itu dengan Feli. Ia sangat kesal dengan dirinya yang begitu pengecut itu bahkan untuk mengajak gadis itu ia tak kuasa.
"Kenapa aku sangat pengecut jadi laki-laki? Hanya fisik ku yang berubah ternyata aku masih sama seperti saat SMA dulu. " Lesu Angkasa membuang tiket itu dengan perasaan campur aduk.
Saat melihat Feli dan Fahdan memasuki bioskop Angkasa langsung memesan tiket dengan film yang sama. Setidaknya ia tidak akan membiarkan laki-laki itu modus kepada Feli sedikitpun itu.
"Lihat saja kalau sampai ia berani menyentuh Feli bahkan sehelai rambut pun itu, " Ucap Angkasa duduk dikursi yang ia pesan.
Karena jarak dari kursi Angkasa dengan Feli juga Fahdan tidak terlalu jauh ia bisa dengan jelas melihat apa saja yang sedang mereka lakukan. Matanya mengawasi sejak tadi dan tak berpaling walau sebentar pun.
"Sejauh ini mereka hanya fokus menonton saja, tapi aku tidak akan lengah jika sewaktu-waktu laki-laki sialan itu modus ini itu untuk skinship dengan istri ku, " Ucap Angkasa terus saja melihat kearah Feli dan Fahdan.
Angkasa sedikit kebingungan dengan laki-laki yang sedang keluar dengan Feli dari studio bioskop itu. Sepanjang film mereka hanya fokus menonton dan berbincang sedikit, biasanya saat seperti itu para laki-laki akan langsung beraksi untuk modus ini itu.
"Aah dia pasti sedang membangun citra laki-laki baik nya. Dan setelah Feli lengah dan menganggap nya baik disitulah sifat breng*sek nya akan keluar. " Angkasa melihat curiga kearah Fahdan dan Feli yang berbincang itu.
Namun, beberapa saat ia langsung membelalakkan mata kaget saat melihat Fahdan mendekat kearah Feli, belum lagi wajah mereka sangat dekat sekolah seolah hampir saja berciuman.
"Sedang apa baji*an itu? " Angkasa langsung berjalan marah kearah mereka dan dengan satu tarikan ia menarik Feli menjauh dari Fahdan.
"Mas,, mas Angkasa? " Bingung Feli karena tiba-tiba saja Angkasa sudah ada disana.
Fahdan yang melihat itu tertawa ringan, karena Angkasa selalu saja muncul saat Feli dan Fahdan bersama.
"Wahhh sekarang kamu bahkan menyalahgunakan wewenang mu untuk mengikuti Feli? Apa bapak CEO kita sadar itu adalah sebuah pelanggaran hak privasi? " Fahdan mendekat sembari berbicara dengan nada menyindir.
Angkasa menatap kesal dan marah kearah Fahdan.
"Tolong mulai saat ini hingga seterusnya jangan pernah lagi memintanya untuk menemuimu ah lebih tepatnya jangan pernah berani untuk bertemu dengan nya. " Tegas Angkasa dengan rahang mengeras bukti keseriusannya saat ini.
Feli bingung harus bagaimana saat ini, tampaknya ada kesalahpahaman disini.
Fahdan tertawa lagi seolah apa yang diucapkan Angkasa adalah sebuah lelucon untuk nya.
"Apa hak pak CEO berkata seperti itu? Kalaupun Feli bekerja di perusahaan mu kamu tidak berhak untuk mengatur dengan siapa dia akan bertemu."
"Dia adalah istri ku, jadi jangan pernah coba-coba untuk mengusiknya! " Tegas Angkasa dengan mata tajam sembari menarik Feli menjauh dari sana.
Feli sangat panik dan bingung dengan suasana ini, kenapa tumben Angkasa mengatakan itu saat mereka sedang tidak didepan anggota keluarga.
"I,, istri? " Fahdan terlihat bingung dengan apa yang ia dengar.
"Feli sudah menikah? "
Ia sangat terkejut dengan apa yang ia dengar dari Angkasa tadi. Karena setaunya Angkasa adalah bos bagi gadis itu.
...🎋🎋Bersambung 🎋🎋...
Nah gimana mas Fahdan? Kaget yah Feli udah nikah aja hahaha.
Jangan lupa yah like, komen dan votenya wan kawan.
__ADS_1
See you guys 🌺