Dulu Dibully, Sekarang Suami

Dulu Dibully, Sekarang Suami
22. Dingin.


__ADS_3

...🍃Soundtrack #don't go away-Chanyeol (EXO) feat punch🍃...


...🌾🌾Hidup ini seperti Angkasa yang jauh namun harus diraih, hidup ini seperti obat pahit namun menyembuhkan, hidup ini seperti pelangi, indah namun hanya sebentar 🌾🌾...


Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul dimeja makan sembari melangsungkan acara makan malam itu. Walaupun mamah masih saja merasa sangat tidak suka karena Feli bergabung dengan keluarga mereka.


Feli sejak tadi tak selera makan, apapun yang masuk kedalam mulutnya terasa sangat pahit hingga ia merasa tidak sanggup untuk memakan apapun. Belum lagi ia merasa sangat pusing bukan main semua terasa berkunang-kunang dalam pandangannya.


"Kenapa tidak dimakan menantu? " Tanya papah yang menyadari Feli yang tidak makan sama sekali.


Seluruh mata tertuju padanya hingga ia merasa tidak enak dengan tatapan seluruh orang.


"Eugh,, Feli makan kok pah, hehehe. " Feli dengan terpaksa memasukkan satu sendok nasih kedalam mulutnya dan tak lama setelah itu ia hampir saja muntah namun ia tahan dengan sekuat tenaga takut akan menggangu yang lain.


"Iya nih pah, bukannya mbak paling suka sama nasi yah? Kok nasi dipiring mbak dikit banget? " Vania yang merasa aneh dengan Feli.


"Tadi mbak sudah makan jadi gak bisa makan banyak lagi heheh. "


"Sudah sudah, jangan ada yang berbicara! Mengganggu waktu makan saja huh. " Mamah yang kesal karena pembicaraan itu tak jauh dari Feli.


Angkasa sendiri hanya fokus makan saja, ia melirik sekilas kearah Feli dan menyadari bahwa gadis itu berkeringat sangat banyak dengan bibir yang memutih karena mulai pucat itu.


"Kenapa dia diam saja, kalau merasa sakit harusnya bilang. " Heran Angkasa yang melihat Feli sedang menahan sakit dikepala nya itu.


"Kamu baik-baik saja kan menantu? Kamu terlihat sangat pucat, " Cemas papah yang melihat Feli sangat pucat itu.


"Cih, paling cari perhatian lagi. " Mamah yang langsung menanggapi nya dengan sinis.


"Gakpp kok pah, Feli baik-baik aja kok heheh. " Feli tersenyum dipaksakan namun sakit dikepalanya kian menjadi-jadi saja.


"Sok kuat padahal sedang sakit begitu kok. " Angkasa sejak tadi tak bisa fokus makan karena terus-terusan melihat kearah Feli.


"Apa aku khawatir dengan nya? Ah ngk-ngk aku gak khawatir hanya sedang terganggu saja melihat nya berpura-pura seperti itu. " Batin Angkasa karena merasa bodoh dengan dirinya.


Setelah selesai acara makan, Feli langsung membereskan meja makan dan menyimpan beberapa lauk yang masih layak simpan itu. Rasa pusing dikepalanya kian menjadi-jadi saja sakitnya, ia tak tahu kenapa ia bisa sepusing ini.


Setelah selesai membereskan meja makan Feli pun beralih membersihkan pantry dan mencuci piring yang terhitung lumayan itu.

__ADS_1


Mungkin karena ia terlalu pusing dan semakin melemah ia sampai tak bisa lagi untuk memegang piring itu hingga lepas dari tangan nya.


Kalau bukan karena Angkasa yang tiba-tiba datang menangkap piring itu mungkin Feli akan terkena masalah lagi dengan mamah, mamah akan memiliki alasan untuk semakin membenci nya.


"Hah,, ma,, mas maaf mas maaf aku tak sengaja melepasnya. " Feli Buru-buru menunduk dan meraih piring itu dari Angkasa.


Gadis itu kembali melanjutkan mencuci piring dengan tubuh yang kian merasakan sangat kedinginan hingga gadis itu semakin terlihat sangat lemah.


"Kamu kenapa? " Tanya Angkasa berbasa-basi.


"Gak PP kok mas heheh. Mas ada perlu? Atau mau dibuatkan teh? " Tanya Feli tersenyum kearah Angkasa dengan bibir yang kian memucat itu.


"Siapa yang coba ia bohongi? Sok kuat seperti itu untuk apa? Kalau akhirnya dia sendiri yang akan merugi. " Batin Angkasa.


Dan lagi-lagi Feli hampir menjatuhkan piring dan untung saja Angkasa bergerak sangat cepat meraih piring itu.


"Kamu berhentilah mencuci piring itu! Sudah hampir dua kali kamu menjatuhkan piring, kamu sedang tidak baik-baik saja. "


Feli sedikit panik namun ia segera meminta maaf kearah Angkasa.


"Ma,, maaf mas. A,, aku. " Pusing dikepalanya sangat menyakitkan.


"Ma,, maaf tuan ak,, " Tiba-tiba saja Feli berhenti bicara saat ia merasakan tangan Angkasa Sudah berada di keningnya.


"Kamu panas sekali, kenapa kamu bisa sepanas ini? " Angkasa terlihat sangat panik bukan main. Ia sendiri tidak sadar bahwa ia akan sepanik ini hanya karena merasa Feli sedang sakit saat ini.


"Maaf mas, aku benar-benar baik-baik saja. " Feli hendak melanjutkan kegiatan itu meskipun ia kian ber kunang-kunang kini.


"Kamu mau lanjut kerja dengan keadaan setengah sadar seperti ini? Setelah itu memecahkan piring dan membuat mamah semakin tidak suka kepadamu? Itu yang kamu mau? " Angkasa benar-benar sangat kesal karena Feli tak mau berhenti bekerja saat ia sedang sakit begitu.


Feli sampai bingung dengan sikap Angkasa yang berubah begitu saja? Kenapa laki-laki itu bersikap seolah ia sedang khawatir sekarang? Padahal kan tidak ada anggota keluarga disini? Biasanya Angkasa akan bertindak seolah perduli saat ada anggota keluarga disana.


"Mas kenapa marah? Aku benar-benar baik-baik saja. Sebentar lagi ini akan selesai. " Feli lagi-lagi berusaha untuk sepenuhnya sadar meski ia semakin ber kunang-kunang.


Dan sesaat kemudian ia hampir saja terjatuh, untung saja Angkasa dengan cepat menahannya agar tidak jatuh kelantai. Bahkan badannya saja terasa sangat hangat dan wajahnya terlihat benar-benar pucat sekali.


"Van,, Vania. " Panggil Angkasa sedikit keras setelah ia mengangkat tubuh Feli yang setengah sadar itu. Feli mulai tak sadarkan diri meskipun ia masih mendengar dengan jelas dan sadar bahwa Angkasa tengah menggendongnya saat ini namun ia tak punya tenaga untuk protes karena merasa tak enak. Bagaimana jika Angkasa akan semakin marah karena ia sangat merepotkan.

__ADS_1


"Iya mas ada ap,, eh mbak Feli kenapa mas? " Panik Vania saat melihat Feli yang lemas dalam gendongan Angkasa.


"Dia seperti nya demam. Kamu tolong lanjutkan mencuci piring itu yah, sebelum itu tolong bawakan baskom berisi air juga handuk kering. " Angkasa terlihat benar-benar panik kemudian membawa Feli menuju kamar.


Sampai dikamar ia membaringkan Feli diatas ranjang dan melihat keadaan Feli yang kian berkeringat banyak itu. Gadis itu terlihat sangat kelelahan bukan main.


"Mas aku masuk yah, " Vania yang datang dengan membawa permintaan Angkasa tadi.


"Mbak Feli emang demam nih mas, mas ambilin baju hangat buat mbak Feli dong. Meskipun mbak Feli keliatan berkeringat sebenarnya mbak Feli sedang kedinginan saat ini. Ah ambilin hoodie sama celana panjang mas aja deh biar anget. "


Angkasa yang panik itu langsung menurut begitu saja apapun perintah Vania karena adiknya itu memang lebih mengerti tentang medis dibandingkan ia yang lebih menguasai bidang bisnis.


"Ini, sudah bisa kan? "


"Sudah mas, mas gantiin baju mbak Feli sekarang setelah itu kompres pake handuk itu mudah-mudahan cepat sehat. Kalau belum juga mendingan besok aku kasih obatnya mas. Karena lebih baik kita obati sebisa kita dulu baru beralih keobat setelah tidak ada hasil. " Vania hendak berlalu namun ditahan oleh Angkasa.


"Maksud kamu bajunya diganti? " Tanya Angkasa dengan bingung.


"Iya mas kenapa? Oh iya sekalian dengan ********** yah mas biar mbak Feli lebih nyaman saat tertidur nanti. " Vania hendak pergi.


"Maksud kamu mas yang gantiin? " Tanya Angkasa Lagi-lagi dengan wajah bersemu malu.


Vania malah dibuat bingung dengan tingkah kakaknya itu? Apa salah jika Vania menyuruh seorang suami menggantikan pakaian istrinya sendiri?.


"Loh, mas kenapa sih? Kenapa terlihat sangat ragu gitu? "


"Rugi,, bukan begitu, tapi kamu saja yang gantikan baju mbak mu. "


"Kenapa harus aku mas? Mas kan suaminya mbak Feli yah sudah sewajarnya dong mas yang gantiin. Masa aku sih? Lagian kalian kan udah nikah sama ngelakuin hubungan kenapa malah bertingkah baru pertama kali buka baju cewek aja sih mas, heran aku. " Vania hendak pergi lagi namun ditahan oleh Angkasa.


"Tu,, tunggu dulu. Bantu mas kali ini aja deh yah, mas janji bakal ngasih apapun yang kamu mau kalau kamu mau bantuin mas buat gantiin baju nya mbak mu. " Angkasa terlihat sangat frustasi dengan situasi ini.


"Mas kenapa sih? Mencurigakan banget kelakuan nya. Masa gantiin baju binjai sendiri takut sih? Harusnya mas seneng punya kesempatan buat icip-icip tubuh mbak Feli saat mbak Feli gak sadar gitu. Ahh pusing liat mas. Jangan tahan aku lagi. " Vania langsung pergi dan menutup pintu dengan keras.


...🎋🎋Bersambung🎋🎋...


Katanya pernah ngefans sama Feli, tuh dikasih kesempatan buat icip-icip kalau kata Vania sih hahaha.

__ADS_1


Jangan lupa yah like, komen dan vote nya man teman.


See you guys 🌺


__ADS_2