
...🍃Soundtrack #No matter-Exo🍃...
...🌾🌾Tujuan utama itu yang harus kamu pikirkan, berhenti membuang waktu tanpa sebab 🌾🌾...
... ...
Angkasa sejak semalaman tak bisa tidur hanya karena memikirkan bagaimana lagi ia harus membuat gadis itu sadar bahwa dia adalah angkasa yang pernah ia bully sejak saat SMA dulu.
"Bagaimana bisa dia melupakan perbuatan tidak terhormat nya itu? Dan bagaimana bisa hanya aku yang selalu mengingat semua itu? " Kesal Angkasa karena Feli sungguh tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia benar-benar mengingat Angkasa.
"Sia-sia saja aku bersikap seolah pahlawan untuk nya kemarin. "
Angkasa buru-buru mengancing satu persatu kancing kemeja dongker yang ia kenakan itu lalu memasang dasinya dengan otak yang masih saja terus bekerja mencari cara.
"Angkasa berangkat kerja yah mah. " Angkasa berjalan menuju pintu namun ditahan oleh mamahnya.
"Eh tunggu dulu, kenapa buru-buru sekali sih? Kamu belum sarapan sayang. Mamah gak mau kamu berangkat kerja tanpa sarapan. "
"Angkasa sarapan dikantor aja mah, lagi ada urusan nih. "
"Tap,, "
"Sudahlah mah, mau sampai kapan ngusik Angkasa hmmm? Angkasa sudah dewasa dia bisa jaga dirinya sendiri. Kamu berangkat lah. " Papah memang selalu bersikap tenang berkebalikan dengan mamah.
"Angkasa berangkat mah, pah. "
Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah, sejak dalam perjalanan Angkasa memutar banyak sekali jenis musik namun tak satupun yang bisa mengembalikan moodnya yang hancur sejak tadi pagi. Pikirannya tak menentu arah.
Ia berhentikan mobilnya sejenak ditepi jalan menuju kantor nya. Mencoba untuk berpikir jernih dan mencari cara ampuh untuk meluapkan semua dendam nya setelah semua dendamnya terbalaskan maka ia akan menjalani hidup dengan normal tanpa harus mengingat kenangan pahitnya dimasa lalu.
"Bagaimana pun hari ini akan dimulai pembalasan dendam ku. " Angkasa tersenyum licik saat mulai mendapatkan idenya.
Angkasa turun dari mobil sembari menenteng tas kantornya. Matanya menangkap sosok familiar saat ia hendak memasuki kantor.
Feli nampak sangat panik karena terlambat masuk kantor. Angkasa tersenyum karena mendapatkan kesempatan emas ini mulai melancarkan aksinya.
"Hei,, kamu. " Angkasa sengaja tidak memanggil nama feli agar terkesan dia juga tidak mengenali gadis itu.
"Sa,, saya pak? " Feli dengan wajah panik mundur dan berjalan menuju Angkasa yang berdiri dengan keadaan tegap.
"Siapa lagi kalau bukan kamu? Hanya ada kita berdua disini. "
"Maa,, maaf pak. Nama saya Feli mungkin bapak belum tau. "
"Baiklah kamu yang saya maksud feli. "
"Ma,, maaf Pak, sa saya biasanya tidak terlambat masuk kantor. " Feli menunduk.
"Memangnya saya mengatakan apa padamu? " Angkasa berpura-pura tidak tau saja.
"Bukannya bapak memanggil saya karena keterlambatan saya yah? "
"Kamu ikut saya sekarang. Saya ingin membahas masalah kemarin. " Angkasa berjalan menuju mobilnya.
Feli malah semakin dibuat panik apalagi mengingat masalah kemarin. Bagaimana jika bossnya itu meminta uangnya dikembalikan sekarang juga?.
"Yatuhann bagaimana ini? Aku bahkan belum punya apa-apa untuk menebus semua uang pak Angkasa. " Batin feli was was.
"Sedang apa kamu masih berdiri kaku disana? Kamu tidak mau ikut saya? " Angkasa memperhatikan feli yang masih berdiri mematung ditempat nya.
"Ma,, maaf Pak. Saya ikut. "
Semenjak mobil melaju Feli hanya diam saja tak berkutik. Pikirannya sangat kacau dan tidak tau harus berkata apa pada bosnya nanti. Ia sungguh sedang tidak memiliki apapun saat ini.
"Kita mau kemana pak? " Tanya Feli setelah sadar bahwa mobil bosnya melaju meninggalkan kantor.
__ADS_1
"Nanti juga kamu tau. "
Feli mencoba berpikir positif saja, namun lagi-lagi ia sangat pusing memikirkan bagaimana caranya untuk menebus uang bosnya itu.
Angkasa memarkirkan mobilnya ditempat parkir sebuah restoran yang terkesan sangat mewah.
"Kita sedang apa direstoran ini pak? " Tanya Feli mengikuti langkah Angkasa memasuki restoran itu.
Feli hanya memilih diam setelah melihat respon Angkasa yang sejak tadi diam saja. Itu tandanya ia sangat tidak suka diberikan banyak sekali pertanyaan. Feli akhirnya memilih mengikuti apapun yang Angkasa sebutkan saja.
Angkasa duduk dikursi dan Feli juga mengikuti duduk didepan bosnya itu setelah melihat kode dari bosnya.
Angkasa memesan beberapa jenis makanan kepada pelayanan dan sembari menunggu pesanan datang Angkasa menatap kearah Feli yang diam saja sejak tadi.
"Bagaimana bisa dia begitu cantik dengan balutan baju sederhana dan wajah natural itu? " Batin Angkasa setelah melihat kearah Feli yang hanya diam saja.
Feli sendiri bingung dengan bosnya yang tak hentinya menatap kearahnya. Begitu membingungkan.
"Kenapa kita malah datang kesini pak? Bukannya kita hendak membahas masalah kemarin? " Feli tak kuasa menahan banyaknya pertanyaan di dalam benaknya.
Angkasa menghembuskan nafas pelan.
"Saya belum sarapan, jadi saya akan mengajakmu membicarakan itu sembari saya makan. "
"Be,, begini pak. Saya sedang tidak memiliki apa-apa saat ini. Tapi saya akan berusaha untuk segera melunasi uang bapak. " Feli terlihat sangat panik.
Angkasa melihat sekilas kearah wajah gadis itu. Terlihat sekali rasa takut, resah terpampang jelas dan bisa dibaca oleh orang-orang yang melihat wajah itu.
"Kamu tenanglah jangan terlalu panik seperti itu, saya punya jalan keluar lain yang lebih mudah untuk melunasi hutang mu itu. " Angkasa sembari menyendokkan makanan kemulutnya sendiri.
Feli langsung berbinar matanya saat mendengar itu, apapun akan ia lakukan untuk bisa lepas dari perkara hutang piutang ini.
"Bagaimana cara saya melunasi nya pak? "
"Kamu tenanglah, kenapa sangat bersemangat sekali? Kamu juga makanlah. Kita bicarakan sembari makan. "
"Kalau kamu sempat sarapan berarti gara-gara sarapan kamu telat masuk kantor. "
"Bu,, bukan begitu pak, sa,, saya. "
"Sudahlah tidak usah berbohong lagi. Sudah keberapa kalinya kamu beralasan begitu? "
"Ja,, jadi bagaimana cara saya melunasi utang saya pak? Apapun itu akan saya lakukan. "
"Benarkah apapun itu? "
Dengan semangat Feli menganggukkan kepalanya kearah Angkasa.
"Bagus, kamu sudah makan umpan yang saya berikan. " Batin Angkasa merasa puas.
"Kalau begitu menikah dengan saya makan utangmu akan saya anggap lunas. "
"Uhuk,, uhuk,, " Seketika Feli yang sedang minum tersedak karena kaget mendengar perkataan bosnya itu.
Ia berpikir sejenak setelah mendengar itu. Apa dia salah dengar? Sungguh tidak masuk akal sekali jika bosnya mengajak ia untuk menikah padahal ini baru pertemuan mereka yang ketiga kali.
"Ma,, maaf Pak apa saya salah dengar? " Tanya Feli memastikan dengan jantung yang kaget bukan main.
Angkasa menggeleng dengan cepat tidak lupa dengan wajah datar dan lempeng nya.
"Memangnya kamu mendengarkan saya mengatakan apa? "
"Eugh, bapak mengajak saya menikah tadi. Sa,, saya hanya salah dengar kan pak? " Feli masih saja sama kagetnya.
"Saya serius. Dan kamu tidak sedang salah mendengarkan. "
__ADS_1
"Uhuk,,, " Feli semakin kaget saja setelah mendengar kebenaran sesungguhnya.
"Kenapa kaget begitu? "
"Yahh,, gimana saya gak kaget pak. Bapak ngajak nikah kayak ngajak makan. " Feli menepuk pelan dadanya karena masih kaget.
"Loh, sungguh jelas beda dong. Kalau ngajak makan saya pasti sudah mengatakan kata makan tapi sebaliknya tadi saya memang mengatakan kata menikah. "
"Bukan begitu maksud saya pak, kita baru bertemu beberapa hari tapi bapak langsung mengajak saya untuk menikah. " Feli Sungguh dibuat bingung oleh Angkasa yang berstatus sebagai bosnya itu.
"Baiklah kalau kamu tidak mau utangmu dianggap lunas. "
"Bukan begitu pak, apa tidak ada cara lain untuk saya melunasi utang saya? Untuk menikah sepertinya terlalu ekstrem pak kita bahkan baru bertemu dan kasta kita beda jauh. Bapak adalah seorang atasan dan saya hanya seorang gadis biasa. " Feli sedikit menunduk.
"Lihatlah gadis jahat ini, masih saja belum berubah dari dulu. Selalu saja memperdulikan kasta, jadi ini salah satu alasannya membully ku dahulu? " Batin Angkasa sedikit kesal karena mengingat perlakuan Feli padanya dulu.
"Yah kalau kamu meminta cara lain yah segera lunasi utangmu dengan uang tunai. " Angkasa dengan entengnya.
"Ta, tapi saya tidak punya apa-apa untuk diberikan pak. "
"Kamu yang mempersulit hidupmu. Saya berikan jalan yang mudah kamu malah menolaknya. "
"Bukan menolak pak tapi ini sungguh salah. Pernikahan bukanlah hal yang bisa direncanakan hanya karena hal seperti ini. "
"Memangnya pernikahan itu berarti apa untuk mu? "
"Erghh,, pernikahan itu adalah ikatan yang terjadi karena dia manusia yang saling mencintai dan membutuhkan. "
"Nah, kita sudah termasuk dalam salah satunya. Kamu butuh menikah untuk melunasi utangmu sedang saya butuh menikah untuk melanjutkan rencana saya. " Angkasa dengan enteng nya.
"Rencana? Rencana apa pak? Jadi bapak butuh saya menjadi istri bapak karena ada hal yang dituju? " Feli sedikit bingung.
"Menurut kamu apalagi? Tidak mungkin kan saya jatuh cinta padamu dalam waktu singkat ini. Kamu juga menikah dengan saya karena butuh juga, jadi apalagi yang kamu bingung kan? "
Feli terdiam sejenak mau
Dengan ucapan Angkasa yang menurutnya ada benarnya juga.
"Apa bapak tidak tau siapa saya? Kenapa memilih saya untuk menjadi istri bapak? "
"Saya jelas tau siapa kamu. Dan itu bukanlah halangan bagi saya. Toh hanya perluas statusnya saja jadi tidak ada hal yang perlu ditakutkan. "
"Ta,, "
"Intinya sekarang ya atau tidak? "
Feli mencoba untuk berpikir keras dengan ucapan Angkasa itu. Kenapa laki-laki itu sungguh tidak sabaran sekali? Apa ia sungguh sangat membutuhkan Feli hingga begitu terburu-buru.
"Baiklah Feli, apa salahnya? Ini adalah kesempatan untuk mu. Hanya menikah saja dan tidak lebih. Kamu tidak akan rugi bukan? " Batin Feli dengan keputusan yang sudah ia anggap benar.
"Baiklah pak. Saya akan bersedia asalkan saya benar-benar bisa lepas dari utang itu. Agar keluarga saya tidak lagi diliputi utang. " Feli dengan hati yang was-was.
"Lihat lah gadis murahan ini, dia langsung menerima nya? " Angkasa sungguh tak menyangka dengan ucapan feli itu.
"Baiklah untuk saat ini kita sudahi pembicaraan kita sampai disini. Kita sambung nanti setelah asisten saya selesai mengerjakan perintah saya. " Angkasa dan Feli hanya menurut saja.
Setelah mengatakan beresdia Feli langsung bingung dan tak tau apalagi yang harus ia lakukan. Semua semakin rumit dalam pandangan nya.
"Apa pak Angkasa sungguh-sungguh dengan ucapannya itu? " Batin feli.
Ia sangat pusing karena memikirkan itu.
...🎋🎋Bersambung 🎋🎋...
Waduhhh...
__ADS_1
Angkasa ngajak nikah kayak ngajak makan awokawokawok.
Tolong beri semangat dong biar saya semakin semangat nulisnya 🙃😌